Luka Dada Tembus 25 Cm

by -

RAP, pelaku pembunuhan terhadap siswa di Kota Bogor beberapa waktu lalu, hanya bisa pasrah dalam jeruji besi. Bersama narapidana lainnya di lantai tiga Ruang Tahanan Polresta Bogor Kota, pemuda 18 tahun itu mau tak mau harus membayar perbuatan sadisnya.

SAYA gelap mata,” ucap RAP saat diinterogasi polisi. Walau­pun sudah merencanakan aksi duelnya, RAP mengaku tak punya niat menghabisi nyawa RMP (18), siswa yang tubuhnya bersimbah darah di Taman Palupuh, Kecama­tan Bogor Utara, itu.

Meski begitu, dari hasil re­konstruksi 25 adegan, pelaku sudah mempersiapkan diri melakukan penyerangan.

“Mulai dari persiapan, kor­ban datang ke sekolahan, tersangka datang bersama rombongan, sampai akhirnya tersangka utama mengha­bisi korban tersebut,” terang­nya.

RMP tewas di tangan RAP yang saat Rabu (6/10) malam menghujamkan senjata tajam ke bagian dada korban.

“Dari hasil penyelidikan, pelaku tidak niat mengha­bisi korban. Tapi karena ka­lapnya tersangka ini, korban meninggal dengan luka se­rius,” ungkap Kasat Reskrim Polresta Bogor Kota, Kompol Dhony Erwanto.

Pelaku mengaku tak sadar saat menebaskan senjatanya ke arah tubuh korban. Sambil dibonceng rekannya yang kini juga tersangka, RAP dengan cepat membacok kor­ban.

“Setelah membacok, pelaku meninggalkan lokasi itu. Tapi dia nggak tahu kalau korban meninggal,” kata Dhony.

Berdasarkan autopsi, korban mengalami luka serius di ba­gian dada. Sabetan senjata tajam pelaku bahkan menusuk bagian dada hingga tembus sedalam 25 cm.

“Iya, meninggal di tempat. Kalau berdasarkan hasil au­topsi, luka di bagian jantung dan paru-paru kena. Bahkan ada organ dalam yang sempat terluka,” bebernya.

Meski begitu, sebelum tewas, korban sempat melakukan perlawanan. Namun, apa daya, maut menjemputnya lebih cepat.

“Saksi korban mengatakan sempat ada perlawanan ter­lebih dahulu sebelum tewas. Itu juga terlihat dari hasil au­topsi salah satu luka di ba­gian tangan dan kaki,” tutur­nya. “Tapi karena sabetan pelaku berkali-kali, korban pun tak bisa tertolong,” sam­bungnya.

RAP yang selama ini berasal dari sekolah kenamaan itu mengaku punya dendam ter­hadap pelaku. Ini pula yang memicunya melakukan aksi keji.

“Motifnya masih sama, sakit hati antara tersangka utama dengan korban. Kami mene­tapkan dua tersangka dalam kasus ini. Pertama, tersangka utama RAP (18). Dan kedua, RM (17) yang turut mem­bantu,” imbuhnya.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Bogor, Sekti Ang­graini, mengaku masih menunggu limpahan berkas kasus pembacokan pelajar Kota Bogor yang menyebab­kan korban berinisial RMP tewas seketika.

“Sekarang masih dalam penyelidikan di kepolisian. Nanti kalau berkas datang, kami pasti akan bicara se­suai aspek hukumnya,” kata Sekti kepada wartawan, Se­lasa (12/10).

Meski demikian, menurut­nya, dalam penanganan perkara pembacokan pelajar ini pihaknya nanti akan mem­buka persidangan secara ter­buka. Mulai dari proses per­sidangan hingga penjatuhan hukuman.

Tujuannya, sebagai pering­atan keras buat masyarakat, khususnya bagi orang tua atas kejadian seperti ini di Kota Bogor.

“Pada tahap penuntutan juga akan menjadi semacam peringatan bagi masyarakat. Karena ini perkara yang me­narik perhatian masyarakat,” ujarnya.

“Pasti kami akan mengung­kapkan ke masyarakat. Dan di saat itulah seharusnya menjadi pelajaran dan efek jera bahwa akibat tawuran bisa seperti ini lho. Menjadi kriminal murni pembunuhan yang tidak layak dilakukan usia anak-anak atau remaja,” sambungnya.

Di sisi lain, Sekti secara pri­badi menilai aksi pembacokan pelajar yang menyebabkan korban tewas ini merupakan kenakalan yang sudah sang­at fatal, sehingga akhirnya lari ke kriminalitas.

Padahal, kasus pembunuhan yang melibatkan pelaku dan korban yang masih berusia anak-anak atau remaja se­perti ini di Kota Bogor terhitung jarang terjadi.

“Ini sangat mengenaskan bagi kami sebagai penegak hukum,” imbuhnya.

Atas kejadian ini, Sekti mengaku pihaknya akan turun langsung ke sekolah-sekolah untuk memberi penyuluhan hukum bagi para pelajar di Kota Bogor.

“Ini akan jadi materi kami melalui Kasi Intel untuk mem­berikan penyuluhan hukum. Ada proses pembelajaran juga, jangan sampai nanti ini terulang kembali,” tandasnya. (rez/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *