Pelaku Pencemaran Teluk Jakarta bakal Disanksi

by -

METROPOLITAN – Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria, memastikan akan menjatuhi sanksi kepada pi­hak yang terbukti dengan sengaja melakukan pence­maran di perairan Teluk Ja­karta. Hal tersebut sehubung­an hasil temuan peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Ne­gara (BRIN) tentang air Teluk Jakarta terkontaminasi zat parasetamol.

”Nanti kita akan tegakkan, juga nanti akan diketahui ada unsur kesengajaan dari siapa pun tentu harus diberi sank­si ya,” ujar Riza di Balai Kota, kemarin.

Upaya Pemprov saat ini ter­kait penemuan BRIN itu, kata Riza, yaitu pengambilan sampel air di Teluk Jakarta oleh Dinas Lingkungan Hidup. Untuk proses penelitian ter­sebut memakan waktu sekitar 14 hari.

Politikus Gerindra ini menga­ku pihaknya belum menge­tahui penyebab pasti adanya kandungan parasetamol ter­sebut. ”Kami belum tahu apakah kelalaian ada yang membuang dengan sengaja atau tidak sengaja,” ujar Riza.

Terpisah, Peneliti Oseano­grafi BRIN, Profesor Zainal Arifin, mengatakan bahwa kemungkinan potensi sumber zat paracetamol yang men­galir ke laut Jakarta berasal dari ekresi konsumsi dari masyarakat, rumah sakit dan industri farmasi. Namun tiga kemungkinan ini masih per­lu diteliti.

Baca Juga  Kata Ahli Ikan Soal Kemunculan Hiu Paus di Teluk Jakarta

Dalam webinar virtual, Zai­nal menjelaskan alasannya menyampaikan tiga kemun­gkinan sumber potensi pen­cemaran zat paracetamol ke Teluk Jakarta seiring tingginya volume masyarakat. Selain volume masyarakat, intensi­tas aktivitas di ibu kota juga tinggi seiring dengan jumlah industri.

”Dengan jumlah penduduk yang tinggi di kawasan Jabo­detabek dan jenis obat yang dijual bebas tanpa resep dok­ter, memiliki potensi sebagai sumber kontaminan di pe­rairan,” jelas Zainal, Senin (4/10).

Kemungkinan faktor berikut­nya adalah pengelolaan limbah farmasi dari rumah sakit belum optimal. Akibatnya, limbah yang terbuang ke lautan ter­kontaminasi dengan zat pa­racetamol. ”Sehingga sisa pemakaian obat atau limbah pembuatan obat masuk ke sungai dan akhirnya ke pe­rairan pantai,” ungkapnya.

Baca Juga  Kata Ahli Ikan Soal Kemunculan Hiu Paus di Teluk Jakarta

Menanggapi temuan terse­but, peneliti BRIN Wulan Kowagow sepakat perlu ada­nya perbaikan sistem peng­elolaan limbah farmasi. Me­ski begitu, Wulan mengaku belum mengetahui dampak terhadap manusia akibat pen­cemaran laut oleh zat para­cetamol.

”Jadi, saya belum melihat efeknya pada manusia, se­cara logika konsentrasinya rendah. Paracetamol yang kita makan yang kita minum secara logika harusnya efeknya itu kecil, seperti itu, tapi tentu saja kalau ingin meng­konfirmasi sebagai peneliti saya harus bilang segala se­suatunya harus dikonfirmasi dulu. Saat kita punya data baru kita bisa berbicara,” beber Wulan.

Sebelumnya, hasil peneli­tian tersebut masuk dalam publikasi LIPI yang diunggah pada 14 Juli 2021 melalui laman resminya lipi.go.id terkait ting­ginya konsentrasi paracetamol di Teluk Jakarta, dengan judul: High concentrations of para­cetamol in effluent dominated waters of Jakarta Bay, Indo­nesia.

Peneliti tersebut di antaranya Wulan Koagouw dan Zainal Arifin. Kedua orang dari Pusat Penelitian Oceanografi itu menemukan dari empat titik yang diteliti di Teluk Jakarta, dua di antaranya, yakni di Angke terdeteksi memiliki kandungan paracetamol se­besar 610 nanogram per liter dan di Ancol mencapai 420 nanogram per liter.

Baca Juga  Kata Ahli Ikan Soal Kemunculan Hiu Paus di Teluk Jakarta

Sementara itu, berdasarkan lampiran VIII PP Nomor 22 Tahun 2021, parameter baku mutu air laut mencapai 38 jenis, yakni warna, kecerahan, kekeruhan, kebauan, padatan tersuspensi total dan sampah. Lalu, suhu, lapisan minyak, pH, salinitas, oksigen terlarut, kebutuhan oksigen biokimia, ammonia, ortofosfat, nitrat, sianida, sulfida, hidrokarbon petroleum total, senyawa fe­nol total, poliaromatik hi­drokarbon, poliklor bifenil, surfaktan, minyak dan lemak.

Selanjutnya, pestisida (BHC, aldrin/dieldrin, chlordane, DDT, heptachlor, lindane, methoxy-chlor, endrin dan toxaphan), tri buti tin, raksa, kromium heksavalen, arsen, cadmium, tembaga, timbal, seng, nikel, fecal coliform, coliform total, pathogen, fi­toplankton dan radioaktivitas. (rep/tob/suf/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *