Ramai-Ramai Kecam Komersialisasi Kebun Raya Bogor

by -
GLOW Kebun Raya Bogor. (Foto:Fadli/Metropolitan)

METROPOLITAN.id – Komersialisasi Kebun Raya Bogor (KRB) dengan keberadaan Wisata Malam GLOW yang menuai penolakan dari berbagai kalangan terus mengemuka.

Selain dari budayawan yang menggelar aksi beberapa waktu lalu, giliran wakil rakyat hingga mantan kepala daerah turut buka suara.

Salah satunya anggota Komisi IV DPRD Kota Bogor HM Zaenal Abidin. Dirinya mengaku selaras dengan masyarakat yang menolak keras komersialisasi KRB dengan konsep Wisata GLOW, yang dinilainya akan merusak ekosistem yang ada.

“Saya mendukung upaya masyarakat untuk mengembalikan marwah kebun raya seperti semula, yang pada awalnya dikelola oleh LIPI dan pemkot tentunya, tidak ada program GLOW yang dapat merusak ekosistem serta kesakralan KRB,” kata dia.

Ia menegaskan bahwa KRB merupakan peninggalan sejarah yang bernama hutan Samida sebagai hutanisasi jenis tanaman, hewan dan fauna yang ada di kebun raya. “Saya meminta program glow di tutup tanpa ada kecuali,” tegas dia.

Baca Juga  Lindsay Lohan Mulai Dalami Alquran

Dijelaskannya, tidak perlu ada pengkajian atau hal lainnya dan tidak perlu melibatkan pihak ketiga sebagai sumber keuntungan mereka. Fraksi Gerindra secara tegas menolak Wisata Malam GLOW di KRB. Termasuk memikirkan keamanan ring satu karena di kawasan itu ada presiden.

“Dimana pemikiran pengelola. Anehnya lagi wali kota yang awalnya menolak sekarang ikut mendukung ini ada apa,” ketusnya.

Zaenal juga menegaskan bahwa Kota Bogor baru saja masuk level 3 dalam kasus penularan covid-19, sekarang dibuka tempat wisata yang secara otomatis mengundang banyak orang yang akan menimbulkan kerumunan.

“Jelas ini jadi masalah, terlebih didalam KRB ada cafe, restoran hingga hotel. Saya minta semua itu itu ditutup dan kembalikan fungsi KRB ke semula,” tegasnya,

Penolakan wisata instalasi lampu gemerlap itu bukan tanpa alasan, tetapi masyarakat yang peduli merasa khawatir akan mengganggu ekosistem di dalam Kebun Raya Bogor.

Baca Juga  Dua Hari Gelar Pertunjukan Tawuran Topeng

“KRB merupakan ruang tak terpisahkan dari tata ruang Kota Bogor, termasuk dalam revisi terakhir KRB sebagai paru-paru dan jantung Kota Bogor,” kata mantan Wakil Wali Kota Bogor Usmar Hariman.

Politisi Gerindra itu menambahkan, sesuai dengan visi misi, KRB merupakan tempat keaneka ragaman hayati yang ada didalamnya menjadi tempat penelitian flora fauna dan seluruh spesies tertentu di dunia yang dikhawatirkan punah.

Masih kata Usmar, syarat-syarat kebun raya itu minimal dari fisik tidak ada aktifitas transportasi dan meminimalisasi kebisingan karena memang harus natural saja sebagai alam.

“Kalau ukuran fisiknya adalah kegiatan transportasi tradisional misalnya jalan kali, ya jalan kaki saja atau lari. Kalau sekarang dengan kemajuan teknologi yang harus terekomendasi adalah transportasi yang non BBM Fosil ,yang tidak menimbulkan pencemaran misalnya transportasi berbahan listrik atau gas itu yang harus digerakkan,” paparnya.

Jika dikomersilkan untuk tujuan-tujuan tertentu, kata dia, misalnya karena alasan tidak ada pembiayaan dan sebagainya, itu seharusnya menjadi tanggung jawab negara.

Baca Juga  Usai Beduk Azan, Sutisna Ditabrak Bus Di Bocimi

“Kota Bogor 15 tahun terakhir mendapatkan bagian pendapatan lain-lain bukan pajak, dari hasil tiketing waktu dikelola LIPI. Sekarang saat dikelola swasta nggak tahu,” ujarnya.

Dari segi aspek teknis penataan KRB sebagai cagar budaya dan hayati, kata dia, kewenangannya ada di pemerintah pusat. Sehingga Pemkot Bogor hanya bisa memberikan catatan atau rekomendasi.

“Rencana pengelolaan KRB yang memiliki sejarah panjang baik dari aspek kebudayaan, pembuatannya dan lain sebagainya, itu harus dikembalikan jangan sampai terjadi komersialisasi sebesar apapun,” tegasnya.

Sebab, KRB merupakan cagar budaya secara keseluruhan jadi tidak boleh fasilitas penunjangnya itu harus minimal. “Nah minimalnya ini didefinisikan untuk menjaga kelestarian hayati baik flora fauna yang ada didalamnya, jadi fungsi-fungisinya semua tetap sebagai cagar hayati,” pungkasnya. (ryn)

Leave a Reply

Your email address will not be published.