Sadar Bukan Orang Kaya, Pilih Kuliah sambil Kerja di Korea

by -

METROPOLITAN – Kuliah sambil bekerja, terutama di luar negeri, tentu banyak tan­tangan. Begitupun yang dira­sakan Malikah Najibah, re­maja 23 tahun yang saat ini menempuh studi doktoral di Korea Institute of Science and Technology (KIST). Supaya semuanya berjalan lancar, dia sampai membuat jadwal khu­sus untuk studi dan bekerja untuk satu semester ke depan.

Malikah mulai studi kuliah di Korea sejak jenjang magis­ter (S2). Dia mengatakan, studi S2 dan S3 yang dia ja­lani sekarang dibiayai dari beasiswa Daewoong Founda­tion. Saat ini remaja yang juga alumni Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) itu kuliah sambil be­kerja di kampus KIST.

Dia menceritakan riset yang dia tekuni saat ini tentang membran elektrolisis air (wa­ter electrolysis) dan sel bahan bakar (fuel cell). Riset ini berguna sebagai solusi en­ergi alternatif yang ramah lingkungan. Seperti kegiatan produksi hidrogen yang bergu­na untuk sejumlah keperluan. ’’Dunia saat ini sedang men­galami krisis energi. Pemicunya bahan bakar minyak dan gas mengalami penurunan sang­at tajam,’’ katanya melalui email pada Rabu (13/10). Malikah menegaskan, fuel cell meru­pakan teknologi yang sangat bersih, karena sama sekali tidak mengeluarkan emisi.

Baca Juga  Aku Tak Tahu Kalau Pacarku Seorang Gay (5)

Menurut dia, di Korea saat ini banyak kendaraan seper­ti bus dan sejenisnya berbahan bakar hidrogen dengan me­manfaatkan teknologi fuel cell. Ia meyakini ke depannya teknologi sel bahan bakar atau fuel cell akan diterapkan lebih luas ke beragam jenis mobil. ”Seperti yang sudah dilakukan Hyundai dan KIA,’’ tuturnya.

Kekurangan dari teknologi ramah lingkungan ini adalah belum banyaknya stasiun pengisian bahan bakarnya. Malikah mengatakan, stasiun bahan bakar berbasis hidro­gen perlu mendapatkan per­hatian khusus. Sebab, hidro­gen sangat mudah meledak. Untuk mendukung inovasi fuel cell, diciptakan tekno­logi yang bertugas mempro­duksi hidrogen ramah ling­kungan bernama water elec­trolysis atau elektrolisis air.

Malikah mengatakan, men­jalani tugas sebagai maha­siswa sekaligus bekerja me­mang penuh tantangan. ’’Saya membagi waktu dengan cara membuat jadwal khusus un­tuk studi dan bekerja selama satu semester ke depan,’’ tu­turnya. Dalam satu pekan, dia menghabiskan waktu sepuluh sampai sebelas jam di kelas. Sisanya sekitar 28 jam dia habiskan di laboratorium.

Baca Juga  Lulusan SMK Bisa Kuliah D2 Jalur Cepat

Selain itu, dia harus mem­buat jadwal khusus untuk mengerjakan tugas dan per­siapan ujian. Biasanya dia menentukan setiap Sabtu dan Minggu untuk mengerjakan tugas dan persiapan ujian. ’’Jam kerja di institusi kami (KIST) dari jam sembilan pagi sampai enam malam,’’ katanya.

Sejak kuliah jenjang sarjana (S1)Malikah mengaku sangat ambisius untuk memperoleh beasiswa. ’’Saya bukan dari keluarga kaya. Sehingga saya selalu berusaha mandiri dan berprestasi,’’ ungkapnya. Saat kuliah di ITB, dia mempero­leh beasiswa bernama Bea­siswa ITB untuk Semua (BIUS) sebesar Rp5 juta per semester, sehingga selama kuliah tidak membayar SPP. (jp/feb/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *