Sekolah di Bogor Sering Terlibat Kekerasan? Siswanya Terancam Nggak Bisa Masuk Kampus Negeri

by -
Wakil Wali Kota Bogor Dedie Rachim. (Dok. Prokompim Kota Bogor)

“Pemkot (Bogor) juga sedang berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan Nasional untuk dipertimbangkan kebijakan yang tepat kepada sekolah yang siswanya sering melakukan kekerasan. Agar menjadi catatan, apakah dapat diterima siswanya di PTN,”

___________________________

METROPOLITAN.id – Dua SMA Negeri di Kota Bogor yang siswanya terlibat kekerasan hingga menyebabkan tewasnya pelajar berujung pada penundaan pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM), hingga dua pekan kedepan.

Selain itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor rupanya tengah berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk mempertimbangkan kebijakan tertentu bagi sekolah yang siswanya sering terlibat kekerasan.

Hal itu diungkapkan Wakil Wali Kota Bogor Dedie Rachim. Sejatinya, F2 mendukung kebijakan penundaan PTM di SMAN 6 dan SMAN 7, serta meminta semua pihak untuk menahan diri dan mempercayakan semua proses hukum kepada Polresta Bogor Kota untuk pengungkapan masalah.

Baca Juga  Pelayan Publik Kota Bogor Disuntik Vaksin Akhir Bulan

Ia juga tidak menampik jika setelah penundaan PTM di beberapa sekolah itu masih ada hal-hal yang meresahkan masyarakat, Pemkot Bogor akan melakukan evaluasi terkait perlu ditunda kembali atau tidak.

“Kita minta semua pihak untuk menahan diri dan mempercayakan semua proses hukum kepada Polresta Bogor Kota untuk menuntaskan pengungkapan masalah ini. Apabila setelah penundaan PTM masih ada hal yang meresahkan masyarakat, maka kita akan evaluasi, apakah perlu ditunda kembali,” katanya saat dihubungi Metropolitan.id, Selasa (12/10) malam.

Tak cuma itu, pihaknya juga tengah berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan Nasional untuk mempertimbangkan kebijakan yang tepat kepada sekolah yang siswanya sering melakukan kekerasan. Diantaranya, agar menjadi catatan apakah dapat diterima siswanya di Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

Baca Juga  Awas Jalan Jalak Harupat Sempur Licin Saat Hujan, Sebabkan Tiga Motor Kecelakaan

“Pemkot (Bogor) juga sedang berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan Nasional untuk dipertimbangkan kebijakan yang tepat kepada sekolah yang siswanya sering melakukan kekerasan. Agar menjadi catatan, apakah dapat diterima siswanya di PTN,” tegasnya.

Di sisi lain, Dedie Rachim juga meminta kepada seluruh siswa di Kota Bogor untuk tidak melakukan hal yang kontra produktif dan fokus untk melaksanakan proses belajar di sekolah. Terlebih saat pandemi seperti disaat Kota Bogor baru memulai PTM.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar) melalui Dinas Pendidikan (Disdik) Jabar memutuskan untuk menyetop sementara Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di SMAN 6 dan SMAN 7 Kota Bogor imbas pembacokan yang menewaskan pelajar.

Mestinya, PTM di dua sekolah tersebut dimulai pada Senin (11/10) lalu, namun baru akan dilaksanakan dua pekan kedepan atau mulai Senin (25/10) nanti.

Baca Juga  Guru Paud Bisa Jadi Agen Umrah

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat Dedi Supandi mengatakan bahwa kegiatan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas ditunda di SMAN 6 dan 7 Kota Bogor imbas peristiwa penusukan yang menewaskan seorang siswa.

Ia menambahkan, PTM di dua sekolah itu baru akan dilangsungkan pada dua pekan mendatang. Semula PTM di Kota Bogor berlangsung serentak pada Senin (11/10), namun khusus dua sekolah menengah atas ini, PTM baru akan dilangsungkan Senin (25/11) mendatang.

“Karena kejadian itu dikhawatirkan terjadi pemahaman atau gesekan antarsekolah, maka PTM di SMAN 6 dan SMAN 7 ditunda dua pekan untuk membangun atmosfir belajar yang lebih kondusif,” kata Dedi saat dikutip dari CNNIndonesia.com, Selasa (12/11). (ryn)

One thought on “Sekolah di Bogor Sering Terlibat Kekerasan? Siswanya Terancam Nggak Bisa Masuk Kampus Negeri

  1. Tidak elok kalau karena oknum siswa bermasalah semua siswa jadi korban untuk dipertimbangkan masuk PTN?Lebih banyak siswa yang benar2 cari ilmu daripada yg oknum. Yang perlu diperhatikan adalah sistem lingkungan baik sekolah maupun keluarga. Jika mengatakan atas nama lembaga pendidikan yg disalahkan berarti sistem pendidikan juga bisa disalahkan. Jika ada siswa yg bermasalah lebih baik perlu lembaga khusus dari pemerintah yang menangani siswa bermasalah tsb. Jangan lembaga sekolahannya disalahkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *