Tim Kajian Saluran Minta Terowongan Kuno Bogor Jadi Destinasi Wisata Sejarah

by -

METROPOLITAN.id – Tim kajian saluran meminta terowongan kuno di bawah saluran air di sekitaran Jalan Nyi Raja Permas, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor dijadikan sebagai tempat destinasi wisata sejarah.

Permintaan itu diungkapkan berkaca dari hasil penelusuran terowongan kuno yang dilakukan tim kajian saluran yang dibentuk Wali Kota Bogor, Bima Arya terdiri dari unsur Pemkot Bogor, Arkeologi Jabar dan tim ahli pada Kamis (14/10).

“Harapan kami yang sudah ditemukan itu bisa dipertahankan sebagai bagian dari objek destinasi wisata sejarah,” kata Kepala Balai Arkeologi Jabar, Deni Sutrisna, Jumat (15/10).

Menurut Kepala Balai Arkeologi Jabar, kenapa hasil penelusuran ini juga harus menjadi kebijakan ke depan bagi Pemkot Bogor. Karena, jangan sampai terowongan kuno yang berada di kawasan Depo KA Stasiun Bogor itu hilang begitu saja.

Apalagi, informasi yang didapat pihaknya, ada rencana pelebaran Depo KA Stasisun Bogor, dimana lokasinya persis berada di temuan saluran itu.

“Jadi jangan sampai nanti kita ini khususnya para pecinta cagar budaya kecolongan. Setidaknya terkait dengan temuan laporan ini mudah-mudahan siapapun stakeholder ya g punya kepentingan ke depan itu harus memperhatikan segala sesuatunya terkait dengan peninggalan sejarah purbakalanya,” ingatnya.

“Objek situs itu sebaiknya menjadi acuan dan pertimbangan, jangan sampai niatnya ingin mempercantik kota tapi melupakan sejarah itu sendiri dalam hal ini objek situs arkeologinya,” ujar Kepala Balai Arkeologi Jabar.

Hal senada diungkapkan Ketua Tim Kajian Saluran, Wahyu Gendam Prakoso. Menurutnya, terowongan kuno sebaiknya di konservasi menjadi tempat edukasi, bahwa di area Stasiun Bogor bukan hanya ada bangunan sejarah berupa stasiun dan alun-alun, melainkan di bawahnya ada pula infrastruktur yang bersejarah.

Baca Juga  Aplikasi P-Care Vaksinasi Persingkat Waktu dalam Pendataan Proses Vaksinasi

“Kalau melihat dari satu titik itu, pas sebagai tempat edukasi sejarah seperti di Beijing Lu, Guangzhou, China,” kata pria yang juga sebagai peneliti dari Universitas Pakuan Bogor.

Menurutnya, bukan tanpa sebab terowongan kuno ini pihaknya rekomendasikan untuk di konservasi menjadi tempat edukasi sejarah. Karena, kita semua harus belajar secara arif dari sejarah, bahwa secara biofisik Kota Bogor punya anugerah curah hujan yang tinggi.

Sehingga, dilanjutkannya, dengan curah hujan yang tinggi itu agar sebuah kota nyaman ditinggali maka diperlukan penataan air yang bagus dan dari jaman ke jaman pun hal tersebut terus dan sedang dilakukan hingga saat ini.

“Selain sebagai tempat edukasi tadi, ini juga menjadi landasan berpikir buat kita semua sebagai warga Kota Bogor dan Pemkot Bogor dalam merencanakan pembangunan berikutnya dari masa sekarang dan akan datang, harus memeprhatikan faktor-faktor tadi dan sejarah itu sendiri,” tandasnya.

Sebelumnya, Balai Arkeologi Jawa Barat (Jabar) melakukan penelusuran terowongan kuno di bawah saluran air di sekitaran Jalan Nyi Raja Permas, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor pada Kamis (14/10).

Penulusuran dilakukan bersama-sama dengan tim kajian saluran yang dibentuk Wali Kota Bogor, Bima Arya terdiri dari unsur Pemkot Bogor, Arkeologi Jabar dan tim ahli.

“Berdasarkan hasil peninjauan kami tadi memang ditemukan saluran lama. Saluran ini kalau diperhatikan itu terdiri dari balai yang diperuntukan ada yang ke arah barat, timur bahkan selatan,” kata Kepala Balai Arkeologi Jabar, Deni Sutrisna usai meninjau lokasi terowongan kuno, Kamis (14/10).

Baca Juga  Perpusnas Evaluasi Pelaksanaan RB dan SAKIP 2021

“Namun sayang untuk sejauh mana saluran ini berakhir itu sudah tertutup oleh bekas implasemen bangunan, terutama yang di dalam lingkungan statsiun kereta api atau depo Stasiun Bogor,” sambungnya.

Sementara, dijelaskan Kepala Balai Arkeologi Jabar, untuk temuan kolam yang sempat menjadi perbincangan publik, itu merupakan bangunan kolam retensi yang berperan sebagai tempat resapan air.

Di mana, sebelum air mengalir ke sungai Cipakancilan, air tersebut akan diolah terlebih dahulu di kolam tersebut.

“Betapa hebatnya dulu orang Belanda, mereka sudah berpikir bahwa kotoran limbah itu sebelum masuk ke sungai itu harus dalam keadaan bersih airnya,” ucap dia.

“Makanya ditemukan juga kolam retensi di bagian sisi barat dari pada temuan yang kita laporkan hari ini untuk gorong-gorong itu,” sambungnya.

Dilanjutkan Kepala Balai Arkeologi Jabar, yang pihaknya ketahui ketika membangun fasilitas publik semacam stasiun, orang Belanda dalam hal ini arsitekturnya pasti memperhatikan terlebih dahulu kepentingan drainase sebelum membangun fisik diatasnya.

Kenapa seperti itu, karena yang pihaknya ketahui juga bahwa orang Belanda sudah memikirkan ke depannya, bahwa yang terpenting dari fasilitas publik salah satunya stasiun, yang dipastikan jadi aktivitas banyak orang itu memerlukan air bersih, buangan air dan sebagainya.

“Nah itu dipikirkan dulu dan ini terbukti di beberapa rel kereta api yang kami ketahui seperti diluar Kota Bogor seperti di Sumatera itu dibangun drainase mempuni untuk mencegah banjir,” imbuh dia.

Baca Juga  Sabet Emas di FLS2N 2021, SMPN 1 Bogor Bakal Mentas di Kongres JKPI

“Kalau disini (Kota Bogor) sangat kompleks, boleh jadi dulu di kawasan stasiun dan yang akan jadi taman atau alun-alun bekas taman topi ini dulu itu sudah terbangun jaringan air yang begitu rapi,” bebernya.

“Dimana fungsinya macam-macam bisa untuk drainase, filterisasi untuk menyaring air kotor ke air bersih sebelum dibuang ke sungai, juga salah satunya untuk kebutuhan perkantoran atau rumah tangga,” lanjut Kepala Balai Arkeologi Jabar.

Disinggung mengenai kondisi bangunan, Kepala Balai Arkeologi Jabar memastikan bangunannya masih bagus. Namun memang ada beberapa lorong yang sudah tertutup sedimentasinya karena lumpur.

“Masih bagus. kontruksinya masih jelas karena ada gorong-gorong yang berbentuk bulatan dan persegi. Pada prinsipnya masih bisa kita lihat lah, bangunannya kokoh,” kata dia.

Soal usia bangunanya, dituturkannya, hal tersebut belum bisa dipastikan. Karena ini kan sesuatu infrastruktur yang lepas dari pada bangunan pokoknya.

“Belum dipastikan. Tapi itu sudah jelas ya, Stasiun Bogor sudah ada sejak tahun 1881 (diperkirakan dibawah tahun tersebut),” ungkapnya.

“Yang penting bagi kami adalah bukti yang sudah ada, itu bisa menjadi bukti sejarah masa lalu, walaupun sedikit tapi informasi itu penting bahwa ternyata saluran air di masa lalu khususnya di jaman Belanda itu menjadi hal penting bagi upaya mengatur kehidupan pemukiman perkantoran pada saat itu,” imbuh dia.

“Masih ada sisa-sisa saluran air yang dipertahankan dan sisa-sisa saluran air masa lalu yang bisa menjadi pembelajaran bagi generasi masa mendatang,” tandas Kepala Balai Arkeologi Jabar. (rez)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *