Wisata Malam GLOW Kebun Raya Bogor Beroperasi Bulan Ini

by -

METROPOLITAN.id – PT Mitra Natura Raya (MNR) berencana mengoperasionalkan wisata malam Kebun Raya Bogor dalam waktu dekat ini.

Wisata malam dengan menyuguhkan atraksi menggunakan lampu hias bertajuk GLOW itu akan dibuka bagi masyarakat pada umumnya.

“Kita berencana dalam waktu dekat ini. Saya rasa satu atau dua minggu ke depan kita akan coba,” kata Direktur Sales dan Marketing PT MNR, Michael Bayu A. Sumarijanto.

Menurutnya, sebelum wisata malam bertajuk GLOW ini benar-benar bisa dioperasionalkan bagi masyarakat umum, ada beberapa hal yang harus dipenuhi dan diselesaikan pihaknya.

Seperti, penyediaan tong sampah yang belum mencapai 100 persen dan pengaturan-pengaturan terhadap yang dilakukan di lapangan.

“Mungkin satu dua minggu ke depan ini kita sudah bisa mempublikasikan dan kita buka,” ucap dia.

Disinggung mengenai permintaan Pemkot Bogor mengenai wisata malam GLOW tidak beroperasi sebelum kajian keluar, Bayu menuturkan, berdasarkan informasi yang didapat dari Badan Riset Nasional (BRIN), bahwa kajian akan terus bergulir beriringan dengan pengoperasionalan GLOW.

Sebab, kajian itu tidak mungkin bisa selesai dan tuntas dengan cepat. Melainkan membutuhkan waktu yang cukup panjang.

“Kalau dari informasi teman-teman BRIN, bahwa kajian akan terus bergulir. Karena tidak mungkin kajian itu bisa dilakukan sekarang, lalu selesai dan tuntas, sementara kajian itu harus diabsahkan oleh lembaga-lembaganya dan seterusnya,” imbuhnya.

“Dan ketika kita beroperasi kajian secara dalamnya baru bisa berjalan, artinya (operasional) berjalan saja, (dibuka untuk umum) dilakukan bulan Oktober,” sambung Bayu.

Ditambahkan Bayu, mengenai keberatan beberapa pihak terkait adanya bangunan permanen, melakukan pengerasan secara besar-besaran dan pembangunan kontruksi, dapat di lihat sendiri bahwa di lokasi hal tersebut tidak lah benar atau tidak ada.

Baca Juga  Maksimalkan Pelayanan, Kantah Jaktim Getol bikin Terobosan

Sebab, yang dilakukan pihaknya di wisata malam GLOW hanya bersifat semi permanen yang kapan pun bisa di take out.

“Bisa dilihat sendiri kalau itu tidak ada, yang kita lakukan disini sifatnya semi permanen semua. Kapan pun bisa kita take out, maka tidak terlalu berdampak terhadap infrastruktur di Kebun Raya Bogor ini,” bebernya.

Adapun, ditambahkannya, wisata malam bertajuk GLOW ini bertujuan untuk membuat sebuah kemasaran baru dalam berkomunikasi tentang kekayaan hayati Indonesia, yang dikemas sedemikian rupa untuk menggugah anak-anak muda atau milenial sebagai penerus bangsa yang masih terbelenggu dengan gadget, individualistik, kebanyakan di rumah atau kurang kembali ke alam.

“Kami berharap GLOW ini bisa menjadi sebuah atraksi baru dimana mereka (anak muda atau milenial) mau mencintai lagi kekayaan hayati kita, inilah intinya dari GLOW itu sendiri,” ujar Bayu.

Sementara itu, Plt Deputi Bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi Nasional pada BRIN, dr Yan Rianto menjelaskan alasan pihaknya tetap mengizinkan wisata malam GLOW tetap beroperasi meski kajian belum keluar.

Sebab, jika operasional wisata malam GLOW ditunda, pihaknya tidak bisa melakukan riset atau penelitian. “Justru kalau GLOW nya ditunda kita jadi tidak bisa melakukan riset,” katanya.

Meski demikian, dr Yan memastikan pengoperasionalan GLOW ini aman dilakukan karena seperti yang sudah dijelaskan bahwa operasional GLOW ini dilakukan dalam waktu yang terbatas.

Baca Juga  Ratusan Polmas Tersebar se-Kota Bogor, Rino : Fokus Jaga Kamtibmas hingga Cegah Tawuran Pelajar

Artinya, seperti hari yang terbatas hanya beroperasi Sabtu dan Minggu, waktunya terbatas hanya berlangsung selama empat jam dan secara area hanya menggunakan 10 persen lahan dari luas Kebun Raya Bogor.

Untuk itu, momen ini (operasional GLOW) akan digunakan pihaknya sebagai situs penelitian. “Maka ini jadi kesempatan bagi kami di BRIN untuk menjadikan sebagai situs penelitian,” ucap dia.

“Dan ini nanti bisa kita kumparasi dengan daerah lain di Kebun Raya yang 90 persennya tidak terpapar cahaya, jadi itu kombinasi penelitian yang akan dilakukan,” sambungnya.

Dirinya juga menambahkan, bahwa saat ini penelitian sudah dirancang dan pihaknya pun sebenarnya sudah mengidentifikasi jumlah tanaman yang masuk ke dalam indanger, di mana ada 25 jenis tanaman. Sementara, sisanya merupakan tanaman biasa.

“Tapi nanti tetap semua kita amati baik tanaman biasa dan koleksi. Masing-masing peneliti sudah menyiapkan designya dan nanti kita juga berencana memasang sensor, jadi bukan hanya GLOW saja tapi aspek lainnya juga,” imbuh dia.

“Kalau penelitan kita biasanya dilakukan perbandingan dan itu biasanya memakan waktu satu tahun,” ujarnya.

Sebelumnya, Wali Kota Bogor, Bima Arya meminta rencana pengoperasionalan wisata malam di Kebun Raya Bogor agar distop terlebih dahulu.

Pemintaan ini disampaikan menyusul adanya kekhawatiran publik akan rencana penyuguhan atraksi malam menggunakan lampu hias bertajuk GLOW yang akan dilakukan di lokasi Kebun Raya Bogor.

“Belum bisa beroperasi dulu, sebelum ada jawaban dari hasil kajian yang dilakukan para pakar dari IPB dan BRIN,” kata Bima Arya usai melakukan pertemuan dengan BRIN dan Mitra Natura Raya, selaku pengelola Kebun Raya Bogor di Balai Kota Bogor, Selasa (28/9).

Baca Juga  Kadin Komite Turki Fasilitasi UMKM Bogor Jualan di Luar Negeri

Menurut Bima Arya, kenapa kajian yang dilakukan pihak IPB dan Badan Riset Nasional (BRIN) penting dimiliki. Sebab, semua harus punya data dan landasannya.

Seperti ada berapa sekarang spesies di Kebun Raya Bogor, kalau malam seperti apa komunitasnya, sejauh mana aktivitas itu bisa menganggu dan lain sebagainya.

“(Maka) Ini semua harus dilakukan kajian. Saya kira ini (juga) yang kita harus fokuskan. Saya juga minta DLH koordinasi dengan BRIN dan IPB, khususnya menghubungi pak rektor agar bisa memberikan jawaban itu,” ucapnya.

“Apapun jawabannya nanti tentu kami akan komunikasikan lagi dengan Mitra Natura Raya. Pada intinya kita pastikan semuanya berjalan sesuai karakter Kota Bogor dan potensi yang ada di Kebun Raya,” sambung dia.

Disinggung sampai kapan kajian ini akan selesai, Bima mengaku tidak bisa memastikannya. Sebab, kajian ini akan dilakukan secara detail, baik itu sejauh mana nokturnal itu terganggu, prinsip-prinsip lainnya di dalam ada aktivitas apa dan lain sebagainya.

“Kita lihat lah mungkin satu minggu ke depan (kajian selesai),” imbuh Bima Arya.

“(yang pasti) tadi dari pengelola menyampaikan bahwa kajian yang dilakukan secara internal ini sebetulnya masih sejalan dengan prinsip-prinsip konservasi, tetapi saya minta karena sudah menjadi perhatian publik kajian itu diperluas melibatkan IPB dan BRIN,” tandasnya. (rez)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *