Angkot Minggir, Biskita Mau Lewat!

by -

Julukan kota sejuta angkot sepertinya perlahan ingin ditinggalkan Bogor. Salah satu caranya lewat penyediaan angkutan transportasi massal. Sudah ada 49 bus yang siap mengaspal di pusat kota pada 2 November besok. Biskita namanya.

BISKITA merupakan akronim dari Bus Inovatif, Solusi Trans­portasi Perkotaan Terinte­grasi, dan Andal. Nama ini dipilih karena cukup mudah diingat dan diharapkan dapat mendorong rasa ikut memi­liki di kalangan masyarakat.

Layanan Biskita ini merupa­kan hasil kolaborasi pemerin­tah pusat (BPTJ) dengan Pe­merintah Kota (Pemkot) Bogor dalam menyajikan layanan Bus Rapid Transit (BRT). Bus ini akan mengaspal di jalur Trans Pakuan Koridor (TPK) 5.

“Silakan masyarakat menik­mati bus ini, tidak berbayar alias gratis sampai akhir De­sember. Kelebihannya sangat banyak. Nyaman, kecepatan waktu karena tidak ngetem, dan banyak fasilitas lainnya,” kata Kepala Dinas Perhubung­an (Dishub) Kota Bogor, Eko Prabowo.

Pihaknya juga mengaku sangat menyambut baik pro­gres salah satu upaya pena­taan transportasi di Kota Bogor ini. Sebelum beroperasi, ia mengaku bahwa seluruh sopir telah dibekali standar pelaya­nan. Begitu juga dengan ke­siapan halte yang ikut diper­hatikan.

“Ini merupakan batu lonca­tan untuk penataan transpor­tasi selanjutnya. Kami berha­rap tentunya ini menjadi momentum dan semangat baru insan transportasi dan Pemkot Bogor untuk bekerja sama menata transportasi yang baik ke depan,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris BPTJ, Zamrides, menjelaskan awalnya BPTJ direncanakan langsung menghadirkan 75 bus di Kota Bogor. Mengingat waktu sisa tahun yang pendek atau tinggal dua bulan, jadi hanya bisa diadakan 49 bus secara bertahap.

“Biskita Trans Pakuan ini akan soft launching awal November dan sudah langsung berope­rasi. Untuk awal gratis (hingga akhir tahun, red). Nanti kita evaluasi. Bisa saja kalau sudah berbayar, bayarnya setengah atau seperti apa skemanya. Tapi tetap ada subsidi,” jelas­nya.

Baca Juga  Bos Trans Pakuan Angkat Tangan

Sebelumnya, bus program Bus The Service (BTS) besutan Badan Pengelola Jasa Trans­portasi (BPTJ) kian dekat ng­aspal di Kota Bogor. Tak kurang dari 49 unit bus direncanakan ngaspal awal November nan­ti.

Hal itu diungkapkan Wali Kota Bogor, Bima Arya, saat meninjau proses produksi bus yang dinamakan Biskita Trans Pakuan itu di karoseri Laksa­na, Semarang, belum lama ini.

Bus ukuran tiga perempat itu akan beroperasi di sejum­lah rute dalam kota. Di anta­ranya, rute Ciparigi, Warung­jambu, Ahmad Yani, Air Man­cur, Fly Over Jalan Martadi­nata, Merdeka, Jembatan Merah, dan Stasiun Bogor.

Kemudian, dari Stasiun Bo­gor kembali lagi menuju Ci­parigi melalui Jalan Juanda, Sudirman, Pemuda, Warung­jambu, Sholeh Iskandar, Talang, Simpang Pomad.

Fasilitias paling mencolok yang ada di Biskita yakni bracket atau rak khusus se­peda yang dipasang pada moncong bus untuk memu­dahkan para goweser. Ben­tuknya futuristik ditambah sentuhan desain batik Bogor.

Pada interior terpasang pendingin udara (AC), CCTV, passenger counting system, disability friendly, peralatan keamanan APAR dan pintu emergency. Untuk kapasitas penumpang sebanyak 35 orang, terdiri dari 20 tempat duduk dan 15 orang berdiri.

Hadirnya berbagai kenya­manan dalam bus BTS bertu­juan agar masyarakat yang semula menggunakan ken­daraan pribadi beralih ke bus.

Bima Arya mengatakan, Biskita Trans Pakuan diproy­eksikan untuk mengganti angkot-angkot di Kota Bogor dengan sistem konversi. Nanti­nya tiga unit angkot akan di­gantikan menjadi satu unit bus Trans Pakuan jenis ini.

Baca Juga  Klaim Biskita Trans Pakuan Diminati Warga, Bima bakal Operasikan Tiga Koridor Baru

Hadirnya 49 bus dari BPTJ ini ditengarai akan menggan­tikan 147 angkot sampai akhir 2021.

“Inilah penampilan Biskita Trans Pakuan yang sedang diproduksi di karoseri Laksa­na. Kerja sama dengan BPTJ Kemenhub. Insya Allah 49 bus siap meluncur di November ini, menggantikan 147 angkot. Konversi tiga angkot menjadi satu bus,” ungkap Bima Arya, Jumat (29/10).

Sedangkan, jelasnya, untuk nasib para sopir angkot yang terkena konversi akan diproy­eksikan menjadi sopir bus dengan sistem sif. Lalu untuk yang tidak jadi pengemudi bus, akan dilatih menjadi mekanik atau ditempatkan di bagian perawatan.

Kepala BPTJ, Polana B Pra­mesti, menyebut program subsidi untuk pengembangan angkutan umum massal di wilayah Bodetabek telah men­jadi perhatian BPTJ sejak lama.

Namun, baru pada 2021 pro­gram tersebut dapat direali­sasikan dengan Kota Bogor sebagai pilot project.

“Subsidi diberikan dalam bentuk skema BTS, dimana berbagai tahapan harus dila­kukan sebelum skema ini da­pat diterapkan,” katanya.

Ia menambahkan, Kota Bo­gor diputuskan sebagai pene­rima subsidi karena memiliki komitmen pembenahan trans­portasi perkotaan di wilayah­nya, serta mendapat dukungan dari legislatif.

Tahap awal implementasi skema BTS adalah pemilihan operator layanan yang dilaku­kan melalui proses pelelangan.

Polana menegaskan operator yang memenangi lelang ini harus mampu menyiapkan dan menyelenggarakan laya­nan dengan standar pelayanan BRT, dimana kemudian biaya operasionalnya dibeli/dibay­ar sebagai subdisi dari pemerin­tah pusat.

Terpilih sebagai operator melalui proses tender yakni Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) asal Kota Bogor, Pe­rusahaan Daerah Jasa Trans­portasi (PDJT), yang melaku­kan kerja sama dengan PT Kodjari Tata Angkutan dan Lorena.

Baca Juga  Trayek Biskita Ditambah Sampai Ciawi, 186 Angkot Dipaksa ‘Pensiun’

Polana menuturkan, standar pelayanan BRT yang harus dipenuhi operator layanan ini meliputi berbagai aspek. Se­perti keselamatan, kenyama­nan, dan kemudahan pelaya­nan.

“Sederhananya, layanan BRT ini seperti halnya layanan Transjakarta yang ada di DKI Jakarta. Hanya bedanya untuk di Kota Bogor belum memun­gkinkan menggunakan lajur khusus,” ujar Polana.

Sejauh ini, terangnya, di wi­layah Jabodetabek baru DKI Jakarta saja yang mampu me­nyelenggarakan layanan ang­kutan umum massal dengan konsep BRT yang berkelanju­tan.

Sementara itu, untuk wi­layah Bodetabek belum mam­pu menyelenggarakan karena umumnya alasan pembiayaan yang tinggi.

Ia berharap dengan adanya layanan angkutan umum mas­sal dengan konsep BRT ini akan mendorong masyarakat Kota Bogor memilih menggunakan angkutan umum massal.

“Sebab itu selain keharusan pemenuhan standar layanan, kami juga memberikan du­kungan aplikasi digital untuk kemudahan pelayanan bagi masyarakat,” jelas Polana.

Ia menjelaskan aplikasi di­gital dengan nama BISKITA tersebut dapat di-download melalui aplikasi Playstore pada gadget yang berbasis Android. Melalui aplikasi ini, dapat diakses informasi laya­nan, terutama untuk menge­tahui headway atau jarak ke­datangan maupun keberang­katan bus.

Selain itu, layanan BISKITA juga memiliki akun media so­sial tersendiri @biskita.id un­tuk semakin memudahkan masyarakat pengguna men­jangkau informasi terbaru yang dibutuhkan.

Pelibatan teknologi digital juga dilakukan dengan pema­sangan berbagai peralatan berbasis internet (Internet of Things) IOT seperti passenger counting, GPS Tracking, dan camera surveillance pada se­tiap unit bus, yang berguna untuk mendukung aspek mo­nitoring, pengawasan, dan keselamatan. (rez/ryn/feb/ run)

Leave a Reply

Your email address will not be published.