Biskita Gratis Diserbu Penumpang Di Halte St Bogor, Nunggu Tiga Bus, Baru Bisa Naik

by -

Kamis pagi, cuaca cerah. Matahari sudah menunjukkan sinarnya. Hiruk pikuk warga terlihat betul di Stasiun Bogor. Langkah kaki seolah berpacu dengan waktu. “Kerja… kerja… kerja..!” begitu kata kondektur Biskita yang sudah bersiap mengangkut penumpang.

AGUS Mulyanto, namanya. Ia dipercaya menjadi sopir Biskita yang baru 2 November lalu mengaspal di Kota Bogor. Agus tak sendirian. Masih ada puluhan rekannya yang juga direkrut jadi sopir Biskita.

Pagi itu, halte di Stasiun Bo­gor memang tampak penuh. Sejak bus yang digadang-gadang bakal menggantikan angkot itu dibuka gratis, ba­nyak warga yang penasaran.

Rita, salah satunya. Warga Kedunghalang itu sengaja datang pagi agar bisa mera­sakan naik bus baru kepu­nyaan Kota Bogor, Biskita.

”Sambil jalan-jalan ajak anak-anak, Mas. Kan katanya gratis. Pengin tahu di dalam seper­ti apa,” kata Rita yang ditemui dalam bus.

Ia tak mengira bahwa Biski­ta bakal ramai diserbu penum­pang. Malahan, bus anyar seri Nucleus 5 dengan fasilitas istimewanya bikin penumpang jadi betah berlama-lama da­lam bus.

“Ternyata ramai ya. Tiap berhenti langsung penuh. Ini anak-anak pada pengin jalan-jalan sampai nggak jadi turun. Masih pengin mutar,” jawab Rita, polos.

Baca Juga  Dedie A Rachim Berharap Biskita Transpakuan Gratis hingga Akhir 2022

Ya, bus yang baru saja di­luncurkan Wali Kota Bogor Bima Arya pada Selasa (2/11) lalu itu kini jadi primadona baru warga. Bukan cuma se­gudang fasilitas dan sentuhan modernnya saja, tetapi juga karena penumpang tidak di­pungut ongkos alias gratis hingga akhir tahun.

Sejak diluncurkan, bus bu­atan karoseri Laksana Sema­rang baru mengaspal sepuluh armada. Itu pun hanya di koridor 5, yakni Stasiun Bogor- Ciparigi.

Metropolitan pun menyem­patkan menikmati sensasi naik bus modern itu dari Stasiun Bogor menuju Ciparigi, Bogor Utara.

Benar saja, hasilnya sampai siang Biskita selalu penuh sesak. Perlu menunggu lebih dari 30 menit dan melewatkan keberangkatan tiga bus, baru bisa naik satu armada berno­mor TP005 dengan nomor polisi F 7606 AC.

Namun, saat menaiki bus, penumpang belum diwajibkan tapping atau barcode melalui aplikasi BISKITA.

”Kita sosialisasikan untuk mulai tapping e-money atau barcode aplikasi. Tapi belum wajib lah. Semua bisa naik selama uji coba ini. Kita ing­atkan untuk tapping bagi yang punya e-money, meskipun saldo kosong. Sembari jadi acuan hitungan penumpang, plus cara manual,” ujar petu­gas BPTJ di Stasiun Bogor.

Baca Juga  Biskita Trans Pakuan Mulai Ditarif Awal 2022, ASN hingga Mahasiswa Dapat Diskon

Sepanjang perjalanan, bus didominasi ibu-ibu dan anak-anak dalam keadaan penuh sesak. Layaknya bus wisata, ibu-ibu dan anak-anaknya pun riuh sembari swafoto dalam bus dan saling men­gobrol.

Perjalanan dimulai pukul 13:18 WIB dan berakhir di terminal akhir, Terminal Ci­parigi, pada pukul 14:03 WIB.

Kehadiran Biskita rupanya diapresiasi penumpang lanjut usia (lansia). Ada beberapa lansia yang dengan tertib naik bus dan duduk di kursi prio­ritas. Di antara belasan kursi berwarna biru, ada dua kursi merah. Itulah kursi yang sengaja diperuntukkan lansia, ibu hamil, anak-anak, dan disabilitas.

Salah seorang penumpang Biskita lansia, Pauline Wi­dyawati (66), mengaku senang dengan kehadiran Biskita Trans Pakuan. Sebab, memberikan pelayanan transportasi yang aman, nyaman, dan bersih. Meski begitu, sebagai lansia, ia menginginkan aspek aman pada satu hal.

”Buat kami, tentu ini sudah baik. Karena tidak khawatir kalau naik angkutan umum. Apalagi kalau bisa memuda­hkan untuk akses ke rumah sakit,” harapnya.

Sepanjang perjalanan, cen­derung tidak ada hambatan. Namun, tidak semua pem­berhentian punya halte atau shelter, dan hanya berupa rambu pemberhentian bus.

Tidak adanya jalur khusus juga membuat jalannya bus berbarengan dengan angkot dan kendaraan lain. Termasuk saat terjebak macet di sekita­ran Jalan Sholeh Iskandar hingga Tugu Narkoba, Keca­matan Bogor Utara.

Baca Juga  Pemkot Bogor bakal Resmikan Dua Koridor Baru Biskita

Sesampainya di Terminal Ciparigi, tampak penumpang sudah menunggu giliran un­tuk naik bus arah Stasiun Bogor. Lagi-lagi didominasi ibu-ibu dan anak-anak.

Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Direktur PDJT Kota Bo­gor Eko Wibisono, hingga akhir tahun, Biskita Trans Pakuan free alias gratis tanpa ongkos.

Hal itu bertujuan fokus pada mengajak warga beralih ke moda transporasi bus ter­sebut.

”Sementara ini gratis, nol rupiah. Cuma kita sosialisa­sikan tapping e-money dan aplikasi. Bagi warga yang be­lum punya e-money, nanti dibantu pramudinya,” katanya.

Terkait perkiraan tarif nanti­nya, pihaknya mengaku bak­al melakukan survei terlebih dahulu, melihat jumlah pe­numpang saat uji coba dan jarak. Sejauh ini, baru sepuluh bus yang beroperasi di koridor 5, Stasiun Bogor-Ciparigi.

”Kalau gaji pengemudi itu UMR plus insentif. Mekaniknya juga pasti UMR. Tapi mungkin berbeda (dengan sopir, red). Sejauh ini sekitar 50 orang eks PDJT dan sopir angkot yang ikut seleksi,” ungkapnya. (ryn/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published.