Kenangan Bersama Ibu (2)

by -

Kenangan Bersama Ibu (2)

BERSAMA teman-teman, aku non­ton layar tancap yang memutar film-film silat dan Rhoma Irama.

Jarak rumahku ke pasar sekitar lima kilo dengan waktu tempuh be­lasan menit saja dengan sepeda. Aku ke pasar naik minibus. Orang-orang menyebutnya elf. Ibu akan mengha­dangkan angkutan umum yang selalu penuh penumpang itu di jalan seberang warung kecil ibu. Tetapi aku lebih sering naik sepeda bila belanjaan tidak terlalu banyak. Toko langganan ibu berada persis di deretan paling muka, sebelah gang masuk ke los pedagang sayur, sing­kong, ubi, dan hasil bumi lainnya.

Toko langganan ibu dijaga empat orang kakak beradik. Kakak paling sulung bertugas menjaga kotak uang yang atau kasir. Dia perempuan seu­sia kakak sulungku. Wajahnya mirip Leni Marlina. Dia jarang bicara. Tiga orang adiknya bertugas me­layani pembeli. Menurut kakak sulungku mereka ganteng-ganteng. Yang paling besar mirip Ikang Faw­zi, yang kedua mirip Rico Tampatty, dan paling muda mirip Richie Ri­cardo. Ikang dan Rico juga sama tak banyak bicara.

Hanya Richie Ricardo yang sering bicara. Menanyakan kabarku, ke­napa aku terlihat murung. Dia juga mengomentari rambutku, bajuku, dan perawakanku. Dia suka menga­jakku bicara tentang warung ibu, tentang sepedaku, malah juga tentang sekolahku ”Kamu ganteng mirip Chen Lung,” katanya, membuatku tersipu namun senang.

Bersambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *