Kualitas Udara Jakarta Bisa Bikin Depresi

by -

METROPOLITAN – World Resource Institute (WRI) ber­sama Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta berko­laborasi membangun Low Emission Zone (LEZ) di kawa­san Kota Tua. ”Penerapan emission zone ini untuk men­gurangi ketergantungan ken­daraan pribadi dan mening­katkan daya tarik kawasan. Pemprov DKI Jakarta melaku­kan penetapan LEZ Kota Tua awal 2021,” ujar peneliti WRI, Retno Wihanesta, dalam we­binar Media Briefing Kebijakan Zona Rendah Emisi di Kota Tua, kemarin.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menunjuk­kan bahwa nilai konsentrasi udara Jakarta 2019 20-70 mkg, sedangkan 2020 25-50 mkg. Berdasarkan standar WHO, kualitas di Jakarta sangat tidak sehat. Sumbernya dari trans­portasi darat, pembakaran industri, pembakaran kebu­tuhan listrik dan pembakaran domestik.

Baca Juga  Berpotensi Maju Di Pilkada Jakarta, Bima Arya: Sebagai Kader Harus Siap

”Pihak yang terkena dampak adalah masyarakat penyakit penyerta, anak-anak, lansia orang yang aktif di luar ruangan. Dampaknya penyakit perna­pasan, stunting, jantung, ka­tarak, depresi. Masyarakat akan kehilangan waktu produktif,” terang Peneliti WRI Bela Tia.

Bela menjelaskan, LEZ me­miliki dampak yang bagus jika terus dilanjutkan dan di­kembangkan. ”Berkurangnya konsentrasi polutan, menu­runkan angka penyakit dan gangguan kesehatan, menu­runkan angka kemacetan pada area yang ditargetkan, menerapkan standar baku mutu udara untuk seluruh kendaraan dan kegiatan indu­stri yang beroperasi di LEZ,” jelasnya.

Penerapan emisi rendah dila­kukan dengan beberapa cara, yakni kondisi kualitas udara secara berkala, data kendara­an yang beroperasi dan tingkat kemacetan, inventarisasi emisi dari sumber polutan secara berkala, termasuk emi­si kendaraan, data jumlah pengguna transportasi umum menuju kawasan LEZ dan melakukan pemantauan.

Baca Juga  Ke Jakarta Mulai Berlaku Denda Tilang Rp500 Ribu

”Kolaborasi dengan Pemprov yaitu LEZ untuk mendukung penerapan zona rendah emi­si di Jakarta dan clean air ca­talyst untuk mempercepat solusi udara bersih,” ujar Bela. Adapun alasan pemilihan Kota Tua sebagai pilot case LEZ dikarenakan kawasan ini mer­upakan kawasan cagar budaya.

”Kota Tua merupakan kawa­san cagar budaya yang perlu dijaga warisannya. Di kawasan Kota Tua menerapkan sistem transportasi menerus yang aman, nyaman dan efisien. Adanya kewajiban atau upaya untuk arus menerus,” ujar Kepala Bi­dang Lalu Lintas Perhubungan DKI Jakarta, Rudy Saptari. Selain itu, tantangan dalam implemen­tasi LEZ di Kota Tua adalah terkait kondisi jalan dan kepa­datan pedagang kaki lima. (de/ tob/suf/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *