Kuburan Jaksa Pertama RI Dipindah ke Cibinong

by -
Kejaksaan Agung memindahkan makam Jaksa Agung Pertama Republik Indonesia, MR R Gatot Taroenamihardja ke Taman Makam Pusara Adhyaksa Cibinong, Bogor. (Sumber: Puspenkum Kejaksaan Agung)

METROPOLITAN – Makam Jaksa Agung pertama Republik Indonesia (RI), Mr R Gatot Taroenamiradja, akhirnya di­pindahkan ke Pusara Adhy­aksa, Cibinong, Kabupaten Bogor, Kamis (25/11).

Prosesi upacara dan pemin­dahan makam Jaksa Agung pertama itu dimulai dari ma­kam sebelumnya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Menteng Pulo, Tebet, Jakarta Selatan.

Jenazah Jaksa Agung pertama itu dibawa dari Jakarta menu­ju Cibinong sejak pagi dan tiba di Pusara Adhyaksa, Ci­binong, sekitar pukul 09:00 WIB.

Wakil Jaksa Agung Republik Indonesia, Setia Untung Ari­muladi, mengatakan bahwa pertimbangan pemindahan makam Jaksa Agung pertama RI itu sudah direncanakan sejak 2019.

“Saya selaku ketua Persatuan Jaksa Indonesia mendapat infomasi bahwa di TPU Men­teng Pulo ada makam Jaksa Agung pertama. Kita cek ke sana, kemudian saya meng­hubungi keluarga yang ber­sangkutan untuk pemindahan. Keluarga menyetujui agar lebih terawat dan terperhati­kan,” ujar Untung usai upa­cara pemindahan, Kamis (25/11).

Menurutnya, sosok Mr R Gatot Taroenamiradja adalah orang yang sangat berjasa dan selalu menjadi panutan untuk Adhyaksa muda ke depannya.

Baca Juga  Puluhan Kuburan di Bogor Hilang Terbawa Longsor

“Almarhum berdedikasi tinggi. Dari sisi integritas, be­liau adalah panutan bagi kami semua, khususnya Adhyaksa muda,” sambung Untung.

Tak hanya itu, nama harum Mr R Gatot Taroenamiradja akan diabadikan menjadi se­buah nama gedung kejaksaan di Jakarta atau nama sebuah jalan. Tujuannya, nama dan jasa Jaksa Agung pertama ini selalu terkenang.

“Kita lihat ke depannya. Ka­rena untuk Jaksa Agung Sup­rapto itu sudah ada nama jalan. Ini akan kami usulkan ke pe­merintah,” terangnya.

Di mata keluarga, mendiang Mr R Gatot Taroenamiradja dikenang sebagai sosok panu­tan. Ia dikenal tegas namun santun dan sangat sederhana.

Hal itu diungkapkan Pra­dana Ganda Subrata, anak dari Purwoto Ganda Subrata yang merupakan keponakan Mr R Gatot Taroenamiradja.

Ia mengaku pihak keluarga sangat berterima kasih atas pemindahan makam kakeknya itu. Ia bersyukur di lokasi ma­kam yang baru akan ada yang mengurusnya dengan rutin. Sebelumnya, di TPU Menteng Pulo, Jakarta Selatan, sudah begitu padat.

Baca Juga  Akibat Serangan Jantung, Kepala Kejaksaan Meninggal

“Ini merupakan suatu kehor­matan bagi kami ada yang mengurus makam beliau. Apa lagi kan sekarang di makam Menteng Pulo sudah sangat padat, di tengah kota pula. Bisa sewaktu-waktu ada peng­gusuran dan lain sebagainya,” ujar Pradana usai prosesi pe­mindahan makam, Kamis (25/11).

Pradana mengatakan, ba­nyak cerita soal almarhum Mr R Gatot Taroenamiradja dari ayahnya, Purwoto Ganda Sub­rata. Menurutnya, mendiang Jaksa Agung pertama itu orang yang selalu jujur dan berde­dikasi tinggi.

“Memang beliau pelopor Jaksa Agung di zaman Soekar­no. Saya dengar dari nenek dan ayahanda saya, orangnya sangat jujur, lurus, berdedi­kasi, pekerja keras, dan nggak takut sama apa pun. Kalau menurut beliau itu benar, langsung dijalankan. Jadi etos kerjanya itu yang saya selalu ingat dari almarhum ayah saya cerita mengenai Pak Gatot,” kenangnya.

Baca Juga  Mulan Jameela Bungkam

Selain jujur dan pekerja ke­ras, Mr R Gatot Taroenami­radja dikenal sebagai sosok yang sangat sederhana bagi seorang mantan Jaksa Agung Republik Indonesia.

“Waktu tahun 50-an, sering sowan (silaturahmi, red) ke pamannya (R Gatot, red), di ruang tamu disuruh duduk itu duduknya di tikar. Segitu Jaksa Agung. Jadi beliau memang lurus,” terangnya.

Pradana menjelaskan ren­cana pemindahan makam Mr R Gatot Taroenamiradja sudah direncanakan sejak tiga tahun silam. “Dari Kejagung berkun­jung ke makam di Menteng Pulo, di situ ada tulisan Jaksa Agung pertama RI dan memang sudah padat makam itu. Keja­gung melihat dari buku tamu di TPU siapa yang mengurus selama ini, di situ ada nama ayah saya. Jadi ayah saya se­masa hidupnya merawat makam itu. Akhirnya karena ada alamat di buku tamu, dari pihak ke­jaksaan datang ke rumah kami, diskusi, dan akhirnya makam beliau dipindahkan,” tandasnya. (far/c/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *