Ridwan Kamil Berpeluang Besar Wakili Jabar Maju di Pilpres 2024

by -
Peneliti Politik dan Kebijakan Publik Mandala Research Institute, Eko Sri Raharjo

METROPOLITAN.id – Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil dinilai berpeluang besar maju di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 mewakili Jawa Barat.

Peneliti Politik dan Kebijakan Publik Mandala Research Institute, Eko Sri Raharjo mengatakan, nama Ridwan Kamil selalu muncul dalam survei bursa calon presiden (capres) dan wakil presiden (wapres) di Pilpres 2024. Peluang lelaki yang karib disapa Kang Emil ini terbilang besar.

“Dalam sejumlah jajak pendapat atau survei publik dalam beberapa waktu terakhir, kadar popularitas dan elektabilitasnya hampir selalu masuk dalam peringkat lima besar. Bersama sosok-sosok kandidat populer lainnya seperti Prabowo Subianto, Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo, nama Ridwan Kamil menunjukan tren peningkatan,” ujar Eko, Kamis (4/11).

Kandidat Doktoral Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI) ini menjelaskan, popularitas Ridwan Kamil juga mengungguli kandidat lain, di antaranya Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Menparekraf Sandiaga Uno, Menko Polhukam Mahfud MD, Menko Perekonomian sekaligus Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Mensos Tri Rismaharani, Menteri BUMN Erick Thohir, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudoyono, hingga Ketua DPR RI Puan Maharani.

Dari hasil survei publik yang dikeluarkan lembaga survei Poltracking Indonesia yang dirilis pada 25 Oktober lalu, elektabilitas Ridwan Kamil sebesar 4,1 persen dari total 1.200 responden. Posisinya berada di bawah Ganjar Pranowo (22,9 persen), Prabowo Subianto (20 persen) dan Anies Baswedan (13,5 persen).

Sementara survei eksperimental yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada 15-21 September 2021, tercatat adanya tingkat popularitas atau kedikenalan (popularity) Ridwan Kamil yang mencapai 66 persen dan tingkat kedisukaan (likeability) sebesar 82 persen.

Baca Juga  Usai Mencoblos, Anies Optimistis Menang Pilkada

“Memang semuanya masih sebatas angka atau statistik, namun dari sisi tabungan sosial dan politik, sebagai kepala daerah dengan populasi penduduk terbesar di Indonesia, potensi untuk menaikkan daya saing (competitiveness) seorang Ridwan Kamil sangat dimungkinkan,” ungkapnya.

Tak hanya itu, Eko menilai hingga saat ini Ridwan Kamil identik dengan satu-satunya kandidat yang merepresentasikan Jawa Barat. Terlebih, dalam konstelasi polituk aktivitas dan figur¬†Ridwan Kamil relatif sepi dari ‘dinamika politik’.

“Sebagian besar diisi oleh publikasi atau ekspose dari media yang cenderung positif, sehingga berpotensi besar menaikkan kadar likeability atau afeksi publik terhadap dirinya. Sebab, dalam politik kontemporer, imaji yang positif cenderung beriringan atau ekuivalen dengan elektabilitas. Jadi bisa saja ada sosok yang popularitasnya tinggi, namun karena tidak disukai menjadi faktor ketidakterpilihannya,” terang Eko.

Untuk itu, jika dalam beberapa waktu jelang Pilpres 2024 ada rangkaian hasil kerja pembangunan dan pelayanan publik di Jawa Barat yang cukup signifikan, maka keniscayaan tingkat keterpilihan dan penerimaan akan terus meningkat.

Eko juga teringat pada momen beberapa pekan setelah Ridwan Kamil terpilih sebagai Gubernur Jawa Barat pada Pilgub 2018. Ketika itu, wacana Ridwan Kamil menyulap Sungai Kalimalang di wilayah Bekasi menjadi seperti Sungai Cheyonggyecheon di Seoul, Korea Selatan.

Wacana tersebut terekspose luas hingga nasional. Bahkan rencan mempercantik dan merevitalisasi Kalimalang dengan konsep menata ulang tata ruang sepanjang sungai dan mengembalikan ruang terbuka hijau (RTH) sepanjang bantaran Kalimalang itu dipaparkannya di akun media sosial pribadinya dan menjadi viral.

Baca Juga  Pakai Tas Rp220 Juta, Aura Kasih Sewot

Hal itu menjadi salah satu contoh kecil pemberitaan positif yang cukup strategis dan masif, sehingga nama Ridwan Kamil kian dikenal publik di seluruh Indonesia yang sedang mengalami euforia penggunaan media sosial.

Pada era disrupsi media digital saat ini, nama Ridwan Kamil pun boleh dibilang kian tenar di kalangan milenial yang sangat padat aktivitasnya di dunia media sosial.

“Bagitu juga dengan sejumlah pemberitaan terkait upaya Ridwan Kamil dan jajarannya kunjungan ke sejumlah negara untuk menarik investor-investor asing untuk memutar modalnya di wilayah Jawa Barat. Misalnya saja menggelar pertemuan dengan beberapa mitra kerja di Amsterdam, Belanda, untuk bekerja sama dalam penanaman investasi di kawasan industri baru Rebana sebagai sebuah zona terintegrasi atau saling terkoneksi untuk tempat tinggal, wisata, bisnis dan industri dengan potensi pembukaan 3-5 juta lapangan kerja baru,” bebernya.

Di masa pandemi Covid-19, Provinsi Jawa Barat juga masih menjadi destinasi investasi terbaik di Indonesia. Pada semester 1 2021, tercatat Jawa Barat memuncaki realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Indonesia dengan nilai sebesar Rp 72,5 triliun.

Begitu juga dengan keunggulan keberadaan 700 universitas serta responsivitas layanan investasi digital yang pernah dilontarkannya sebagai penunjang kelebihan lain Jawa Barat.

“Realitas politik yang harus menjadi catatan adalah meskipun Jawa Barat memiliki seabrek kelebihan sebagai modal politik Ridwan Kamil, namun suara pemilih di Jawa Barat belum sepenuhnya milik Kang Emil,” kata Eko.

Baca Juga  Survei Capres 2024 IndEX : Masuk Tiga Besar, Ridwan Kamil Lewati Anies dan Sandiaga Uno

Eko menjelaskan, polaritas sosial politik yang terjadi selama ini menunjukkan bahwa publik Jawa Barat masih terbelah dalam referensi politik figur yang berbeda.

“Taruhlah Prabowo Subianto dan Anies Baswedan, boleh dibilang memiliki basis jaringan massa yang kuat juga di Jawa Barat. Ini artinya, daftar pemilik suara Jawa Barat yang mencapai sekitar 32,6 juta orang pada Pemilu 2019, belum aman di genggaman Kang Emil,” sambungnya

Dengan kondisi itu, Eko menilai perlu faktor-faktor lain untuk merawat dan merengkuh daftar Pemilih Tetap (DPT) terbesar dari seluruh provinsi di Indonesia itu melalui posisi Ridwan Kamil sebagai kepala daerah Jawa Barat.

Formulasi untuk merawat dan melejitkan tingkat keterkenalan atau pengetahuan publik serta afeksi terhadap figur dan kinerja serta kepemimpinannya masih terbuka lebar.

“Masih ada sekitar 3 tahun lagi untuk merealisasikan setiap konsep dan program pembangunan serta pelayanan publik yang sudah disusunnya sehingga secara tidak langsung akan memoles citranya sebagai seorang pemimpin yang kompeten, kreatif dan inovatif, sekaligus disukai publik Jawa Barat,” terangnya.

Dengan begitu, rekam jejak kepemimpinannya akan terekam di benak publik luas Indonesia. Terlebih, panggung kerja dan prestasi sebagai kepala daerah termasuk etalase sekaligus modal yang paling mudah untuk dirawat, demi menjaga stabilitas popularitas dan elektabilitas serta akseptabilitas Ridwan Kamil.

“Jika memang Kang Emil berencana melenggang dan bertarung dalam kontestasi politik 2024, tentunya sebagai simbolisasi dari representasi masyarakat Jawa Barat,” tandas Eko. (*/fin)

Leave a Reply

Your email address will not be published.