Dewan dan IMI Kompak Tolak TPST Rumpin

by -

METROPOLITAN – Ren­cana Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor, yang membangun Tempat Pengo­lahan Sampah Terpadu (TPST) berbasis modern di Kampung Gunungnyungcung, Desa Kampung Sawah, Kecamatan Rumpin, kembali mendapat penolakan.

Ketua Ikatan Motor Indo­nesia (IMI) Kabupaten Bogor, Aan Al-Muharom, mengata­kan bahwa lahan milik Pe­merintah Kabupaten (Pem­kab) Bogor itu bukan untuk TPST. Namun, lahan seluas 8,2 hektare itu diperuntukkan sirkuit bertarap nasional un­tuk balapan road race.

”Apa jadinya nanti, di situ ada sirkuit kemudian juga ada zonasi sampah. Jadi ku­rang elok dilihatnya,” terang lelaki yang juga Wakil Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Bogor itu.

Kang Aan, sapaan akrabnya, mengaku atas nama IMI Ka­bupaten Bogor berharap DLH mencari lahan lagi selain di Rumpin. Sehingga jangan sampai berbarengan dengan pembangunan sirkuit ke de­pannya.

”Saya berharap DLH men­cari lahan sendiri. Kan pem­kab banyak lahan, jadi bisa gunakan lahan lain,” ujar Kang Aan.

Baca Juga  Pengelola Bantah Kabar Pasar Cicangkal Ditutup Karena Ada Pasien Corona

Untuk rencana pembangu­nan sirkuit, Aan menjelaskan saat ini Detail Engineering Design (DED) atau detail gambar kerja sudah dibuat. Artinya, perencanaannya pun sudah dibuat, tinggal mulai pembangunan sirkuit.

”Terkait penolakan dari la­pisan masyarakat Rumpin, saya sependapat apa yang disampaikan lapisan masy­arakat. Saya juga berharap untuk zonasi sampah terse­but bukan di Kampung Sawah, tapi carilah lahan pemkab yang ada,” tegas Kang Aan.

Anggota DPRD Kabupaten Bogor, Daen Nuhdiana, mengaku sebagai anggota dewan maupun pribadi akan tetap menolak. Meski dija­dikan TPST berbasis modern, tetap akan berpengaruh pada investor untuk datang ke Rumpin. Sebab, di Rum­pin banyak tanah peng­embang.

”Kalaupun DLH kukuh ingin bangun TPS, secara jelas akan menghambat in­vestasi. Selain itu masih ba­nyak juga lahan-lahan pem­kab yang memang strategis, terutama yang jauh dari permukiman warga untuk dijadikan TPS,” tutur Daen.

Meskipun DLH menyele­saikan persampahan, tegas­nya, dengan teknologi modern bisa dikembangkan di TPA Galuga yang dimana lahannya tersebut milik Kota Bogor. Sebab, saat ini Kabupaten Bogor jadi tempat pembu­angan sampah dari luar.

Baca Juga  Diperbaiki, Jembatan Sikeng Rumpin-Parungpanjang Ditutup 3 Bulan

”Kan persampahan di Ga­luga saja tidak beres, soal baunya dan tumpukannya. Ini malah mau buat sampah modern. Selesaikan dulu sampah yang di Galuga supaya tidak ada tumpukan dan bau. Meski itu milik kota, tapi wi­layahnya masuk Kabupaten Bogor,” ucapnya.

Daen menyebut soal peren­canaan itu ranahnya di Ko­misi III. Namun, Komisi IV DPRD yang membidangi sosial, artinya DLH Kabupa­ten Bogor, harus jadi kajian dan berpikir untuk sepuluh hingga 20 tahun yang akan datang. Ketika dibuat, dam­pak sosialnya, korban pun masyarakat sekitar.

”Salah satu contoh di Ga­luga, sampahnya dari kota, tapi dampaknya warga Ka­bupaten Bogor. Bukan berar­ti saya tidak mendukung program pemerintah, tapi dampaknya luar biasa. Saya tetap menolak,” tegas Daen.

Sementara itu, Kepala DLH Kabupaten Bogor, Asnan, mengaku dengan adanya penolakan dari masyarakat, DLH sendiri baru melakukan sosialisasi tahap awal soal TPST di Desa Kampung Sawah.

Baca Juga  Saung The Green Wadah Pemuda Rumpin

”Mungkin masyarakat me­nilainya seperti Galuga. Namun TPST di Rumpin sangat berbeda seperti di Galuga,” terang Asnan.

Menurutnya, satu mobil bermuatan 2,5 ton dikali 20 truk sampah. Nantinya sam­pah tersebut akan langsung diolah menggunakan mesin modern, jadi tidak ada tum­pukan sampah seperti di Galuga.

”Namun kita sudah lakukan sosialisasi baru awal. Namun, adanya penolakan dari ma­syarakat, nolaknya seperti apa. Kita akan berikan pe­mahaman,” jelas Asnan.

Ditanya soal peruntukan sirkuit, tambah Asnan, untuk lahan yang akan digunakan hanya 3 hektare. Sisanya, bisa diperuntukkan pembangunan sirkuit. Ka­rena area lahan TPST itu, yang jelas akan dilakukan pema­garan.

”Pengolaan sampah ini, berbasis teknologi. Saya juga berharap masyarakat paham bagaimana cara pengelolaan sampah nantinya,” pungkas­nya. (mul/c/els/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *