Kenangan Bersama Ibu (habis)

by -

Kenangan Bersama Ibu (habis)
Penulis : Aris Kurniawan

tak mau bertanya lagi ke ibu kenapa bapak tak kembali. Aku takut membuat ibu sedih dan me­nangis. Nanti aku ikut menangis. Aku benci menangis. Kata nenek, laki-laki tak boleh cengeng. Aku ingat terakhir melihat bapak pergi dijemput dua orang laki-laki ber­badan tegap.

Malam sebelumnya, mereka datang bersama Pak Lurah. Aku mendengar percakapan mereka dari balik kamar.

”Pak Dirja, saya minta bapak tidak ikut pawai partai lagi,” kata Pak Lu­rah.

”Kenapa, pak?”

”Pokokya tidak boleh. Itu mem­pengaruhi para tetangga mengali­hkan pilihan ke partai itu,” kata Pak Lurah.

Beberapa waktu sebelumnya lagi, Bu Lurah juga mengatakan hal yang sama kepada ibuku.

”Kyai kami meminta kami memi­lih Partai Ka’bah supaya ibadah kami sempurna,” kata Ibu.

”Memilih Partai Kuning pun kamu tak dilarang sembahyang lima waktu. Kamu juga tetap diperbole­hkan mengaji. Sudahlah jangan membantah. Jangan mempersulit diri sendiri,” kata Bu Lurah.

Aku teringat lagi Richie Ricardo. Kalau aku jago silat, aku tidak ha­nya bisa melawan teman-teman yang mengolok-olok, tapi juga melawan Pak Lurah dan Bu Lurah yang suka memaksa pilihan bapak dan ibuku.

Leave a Reply

Your email address will not be published.