PB Inspira : Intoleransi Merusak Sendi-sendi Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

by -

METROPOLITAN.ID – Memperingati Hari Toleransi Internasional yang jatuh pada tanggal 16 November 2020, Pengurus Besar Inisiator Perjuangan Ide Rakyat (PB Inspira) menggelar Diskusi dan Teater Kebudayaan di Internasional IPB Convention Center (IICC), Botani Square, Kota Bogor, belum lama ini.

Diskusi umum yang mengangkat isu “Toleransi” ini disambut antusias oleh ratusan peserta dari pelbagai kalangan. Rizqi Fathul Hakim, Ketua Umum PB Inspira menyebut bahwa kegiatan diskusi dan pertunjukan seni budaya ini adalah upaya Kaum Muda untuk mencairkan suasana bangsa yang sedang tidak bersahabat.

“Di tahun 2020 ini kita sedang menghadapi dua ujian berat. Di mulai dari persoalan Pandemi Covid-19, hingga isu-isu yang memantik perseteruan sesama anak bangsa. Persoalan Covid-19 secara nyata memukul jatuh ekonomi bangsa. Sedangkan persoalan Intoleransi secara perlahan merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Poin terakhir ini (Intoleransi,red) menurut kami adalah ancaman dan rintangan yang akan menghambat Visi Indonesia Emas di masa mendatang,” tegas dia.

Baca Juga  Dapat Surat Pengalihan Daya Listrik Dadakan, Warga Geruduk Kantor PLN

Untuk itu, sambungnya, mengambil suatu inisiatif bagaimana mencairkan ketegangan yang terjadi selama ini. Diskusi ini tentu sangat dharapkan mampu memberikan sentuhan baru dalam kesadaran banyak orang agar mampu menyikapi fakta Perbedaan dengan bijaksana. Sebagaimana yang didengar langsung dari paparan Mas Irwan Suhanto, bahwa lebih dulu berbangsa sebelum bernegara. Dan toleransi adalah kunci di mana leluhur mampu membangun sebuah bangsa.

Dilain kesempatan, Sekjend PB Inspira, Dinal El Gusti, menegaskan bahwa kegiatan Diskusi yang diselingi dengan pertunjukan Teater Budaya ini adalah sebuah ikhtiar membuka mata para pemuda-pemudi Indonesia yang mulai kurang peduli dengan persoalan yang sedang dihadapi bangsa saat ini.

“Barusan kami mendengar sebuah satire cerdas dari Prof Arif Satria tentang pemuda. Menurutnya tua muda seseorang tidak lagi dilihat dari usia, tapi dari caranya melihat masa lalu dan masa depan. Yang muda adalah mereka yang mampu membaca dan mengantisipasi masa depan. Dan kemampuan ini sudah sepantasnya dimiliki oleh kita sebagai pemuda. Semangat ini harus ditanam dan harus menjadi bagian penting dari segala upaya pemuda dalam membangun Bangsa demi mewujudkan visi Indonesia Emas 2045,” beber dia.

Baca Juga  Galak! The Buldozer Libas  Persika Karawang  3-1

Di akhir kesempatan, Ketua Pelaksana Kegiatan Diskusi dan Teater Kebudayaan, Muhammad Hafidz Azami mengapresiasi seluruh peserta, pemateri, tamu undangan dan sponsor kegiatan yang turut serta membantu jalannya kegiatan tersebut.

“Sebagai Ketua Pelaksana, Saya sangat bersyukur, bangga, dan merasa terhormat dengan kehadiran ratusan peserta, pemateri-pemateri hebat, seniman-seniman hebat, dan tiga sponsor kegiatan ini yakni BNI, Bank Mandiri dan Etos Institute. Tanpa doa dan dukungan dari semua pihak, kami yakin kegiatan ini tidak akan berjalan sesuai yang diharapkan. Untuk itu kami ucapkan beribu terimakasih yang tak terkira untuk semua pihak yang telah mendukung kegiatan kami ini. Kurang lebihnya kami mohon maaf,” tandasnya.

Baca Juga  Lewat Perpres , Presiden Kuatkan Fungsi Penyuluhan Ketahanan Pangan

Sejumlah Tokoh Nasional seperti Bambang Soesatyo (Ketua MPR RI), Prof. Arif Satria (Rektor IPB), Saut Situmorang (Mantan Wakil Ketua KPK), Bima Arya (Walikota Bogor), Irwan Suhanto (Aktivis HAM) dan Iskandarsyah (Aktivis 98).

Selain dihadiri oleh para tokoh nasional, grup band ternama seperti Marjinal, Seniman Pawon UIKA Bogor dan sejumlah Seniman dari Penyandang Disabilitas Bogor pun turut memberikan sentuhan seni budaya yang memukau ratusan peserta yang hadir dalam forum tersebut.(*/suf)

Leave a Reply

Your email address will not be published.