Pengakuan Karyawan Pinjol Liar yang Kerja dengan Bos asal China, Nagih Utang Sambil Sebarkan Teror ke Setiap Nasabah

by -

METROPOLITAN – SS (21) dan SW (23), dua karyawan di sebuah perusahaan jasa pin­jaman online (pinjol), hanya bisa pasrah saat digelandang ke Mapolres Bogor, Kecamatan Cibinong. Tampangnya seba­gai penagih utang dipamerkan saat polisi merilis kasus pinjol liar yang kerap meneror na­sabahnya.

PT Bright Finance Indonesia (BFI) masuk daftar hitam pe­rusahaan pinjol yang berma­salah. Ini terkuak setelah Sa­treskrim Polres Bogor berhasil membongkar sindikat pinjol yang didanai Warga Negara Asing (WNA) asal China.

Kapolres Bogor AKBP Harun menuturkan, penangkapan keduanya bermula atas adanya laporan polisi ke Polsek Ba­bakanmadang Nomor LP/ B/27B/XI/2021/JBR/RES BGR/ SEK BABAKANMADANG pada 18 November 2021 lalu.

Kedua pelaku tersebut di­tangkap di salah satu peruma­han di Kecamatan Babakan­madang, Kabupaten Bogor, pada 20 November 2021. Ke­mudian pada 30 November 2021, SW diamankan di Batam.

Baca Juga  ASN Bogor Wajib Tes Swab Usai Liburan Tahun Baru

Dari keterangan pelaku, jelas Harun, keduanya memiliki peranan berbeda. SS bertugas sebagai penagih dan SW ber­tugas sebagai translator. Sebab, memiliki atasan yang diindi­kasikan WNA asal China.

”SW ini bertugas sebagai penerjemah karena atasan mereka berbicara bahasa China. Sementara SS bertugas sebagai pengingat para nasa­bah,” terang Harun, Selasa (7/12).

Kedua pelaku tersebut di­ringkus polisi lantaran mene­bar teror dan ancaman ke­pada para nasabahnya saat melakukan penagihan pinja­man.

”Pelaku selaku reminder ini menghubungi korban dengan maksud mengingatkan akan tagihan pinjol yang belum dibayar. Akan tetapi saat mela­kukan penagihan kepada kor­ban, pelaku mengirimkan template yang berisi ancaman dan penghinaan terhadap korban,” bebernya.

Tak hanya itu, pelaku juga mengancam akan menyebar­kan informasi dan data diri korban kepada semua nomor kontak yang ada pada pelaku.

Baca Juga  Alhamdulillah Putri Saya Sehat Wal’afiat

”Pelaku juga sempat mem­buat grup sebagai ancaman kepada korban. Jadi kalau korban belum bayar, infor­masi dan data diri korban akan dibocorkan di grup itu,” ujar­nya.

Harun mengaku saat ini pi­haknya masih melakukan penyelidikan dan pendalaman terkait kasus tersebut. Kemun­gkinan pihak kepolisian bak­al menetapkan tersangka baru dalam kasus tersebut.

”Saat ini baru dua orang yang kami tetapkan sebagai ter­sangka. Kemungkinan akan ada penambahan tersangka. Sambil kasus ini didalami,” paparnya.

Kasat Reskrim Polres Bogor AKP Siswo DC Tarigan men­gatakan, saat ini kasus pinjol tersebut masih didalami pi­haknya. Bahkan, petugas juga tengah melakukan pengejaran terhadap petinggi perusahaan.

”Kami juga masih melakukan pengejaran terhadap petinggi PT BFI yang diduga merupakan WNA China,” tegasnya.

Baca Juga  Ibu Tiri Dalang Pembakaran Dua Mayat dalam Mobil

Atas perbuatannya itu, pela­ku dikenakan Pasal 45 ayat 4, juncto Pasal 27 ayat 4, dan atau Pasal 45 B Juncto Pasal 29 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016. Atas perubahan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE dengan ancaman hukuman maksimal enam tahun penjara.

Sementara itu, lanjut Siswo, korban yang melapor kepada pihak kepolisian, memiliki utang sebesar Rp200 juta ke­pada pelaku melalui pinjol tersebut.

”Rp200 juta itu sudah ter­masuk bunga 30 persen. Kor­ban awalnya meminjam Rp150 juta,” tutup Siswo. (far/c/feb/ run)

Leave a Reply

Your email address will not be published.