Program Samisade dan Percepatan SDGs Desa di Kabupaten Bogor

by -

Oleh: Dr. (Cand) Saepudin Muhtar, S.IP, M. Sos
(Tim Percepatan Pembangunan Strategis Kabupaten Bogor)

Tak bisa dipungkiri, secara umum keterbelakangan, kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan merupakan permasalahan utama yang sampai hari ini masih dihadapi desa di seluruh Indonesia, tak terkecuali di Kabupaten Bogor. Daerah yang berpenduduk sekitar 5,42 juta jiwa ini memiliki jumlah desa terbanyak di Indonesia, 416 Desa. Dengan kondisi tersebut, tak heran muncul istilah yang menyebut Kabupaten Bogor sebagai the Huge Village, artinya Desa yang Sangat Besar.

Secara demografis, wilayah Kabupaten Bogor mayoritas pedesaan. Sehingga, keberhasilan pembangunan akan dinilai baik jika desa telah berkembang dan mandiri. Sebagian besar potensi dan kekayaan daerah berada di desa, termasuk UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah), pertanian, dan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) sebagai katalisator kemandirian ekonomi desa.

Menyelesaikan permasalahan di desa tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pemerintah daerah tidak bisa berjalan sendiri. Oleh karenanya, sejak awal dilantik menjadi orang nomor satu di bumi Tegar Beriman, Bupati Ade Yasin selalu menegaskan bahwa membangun Kabupaten Bogor harus bersama-sama dengan sinergi dan kolaborasi serta inovasi.

Salah satu konsep yang bisa dijalankan dalam membangun daerah adalah konsep pentahelix atau multipihak yang di dalamnya terdapat unsur pemerintah, akademisi, badan atau pelaku usaha, masyarakat atau komunitas, dan media. Semua harus bersatu padu bergerak bersama untuk mencapai visi dan misi yang telah dicanangkan.

Baca Juga  Dana RTLH Langsung Dibagikan Ke Warga

Visi adalah arah kemana kita hendak akan pergi. Visi Kabupaten Bogor adalah Terwujudnya Kabupaten Bogor Termaju, Nyaman dan Berkeadaban. Disusul misi, strategi dan aksi pembangunan.

Misi adalah alasan keberadaan kita sebagai bangsa/masayarakat, atau raison d’être. Ada lima misi pembangunan Kabupaten Bogor. Pertama, mewujudkan masyarakat yang berkualitas. Kedua, mewujudkan perekonomian yang berdaya saing dan berkelanjutan. Ketiga, mewujudkan pembangunan daerah yang merata, berkeadilan, dan berkelanjutan. Keempat, mewujudkan kesalehan sosial. Kelima, mewujudkan tata kelola pemerintah daerah yang baik.

Sementara itu, strategi dan aksi pembangunan Kabupaten Bogor terangkum dalam program Pancakarsa. Pancakarsa adalah lima tekad/keyakinan untuk mencerdaskan (Bogor Cerdas), mensehatkan (Bogor Sehat), membangun (Bogor Membangun), memajukan (Bogor Maju), dan menciptakan kondisi masyarakat Kabupaten Bogor yang beradab (Bogor Berkeadaban).

Dengan jumlah desa terbanyak se-Indonesia, menjadi beban dan tantangan tersendiri bagi seorang kepala daerah dalam upaya menyelesaikan permasalahan yang ada di dalamnya. Di tengah permasalahan desa yang begitu kompleks, Pemerintah hadir di tengah-tengah masyarakat, berinovasi dan melakukan terobosan dengan mengeluarkan satu program brilian, yakni program Satu Miliar Satu Desa (Samisade).

Samisade adalah program padat karya dengan melibatkan masyarakat. Tujuannya tidak hanya membangun infrastruktur desa, namun juga mendorong pemulihan ekonomi di tengah pandemi Covid-19, sekaligus mempercepat pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Desa.

Program Samisade yang digagas Bupati Bogor Ade Yasin ini mendapatkan pujian dan apresiasi dari Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Abdul Halim Iskandar (Gus Halim). Dalam sebuah kesempatan dialog di televisi, Gus Halim melontarkan dua kata kunci untuk Bupati Bogor Ade Yasin terkait program Samisade; cerdas dan tepat. Cerdas dalam berpikir, dan tepat dalam melangkah.

Baca Juga  SMP Kosgoro Tingkatkan Imtaq & Budaya Bersih

Dalam kesempatan itu, Gus Halim juga menilai Bupati Bogor mengambil kebijakan prioritas penyelesaian urusan infrastruktur di desa dengan berbasis pada hasil kajian. 38 persen infrastruktur di Kabupaten Bogor bermasalah dan Bupati Bogor dinilai tepat dalam mengambil langkah karena berdasarkan masalah. Bahkan, Menteri Desa PDTT akan mempromosikan program Samisade ke daerah lain di seluruh Indonesia untuk ditiru dan dimodifikasi.

Program Samisade dari Pemerintah Kabupaten Bogor ini juga relevan dengan pembangunan desa berkelanjutan (SDGs) Desa poin kesembilan, yaitu infrastruktur dan inovasi desa seusai kebutuhan. Selain itu, program ini juga mendukung kelembagaan desa yang dinamis dan budaya desa yang adaptif karena mendorong pemberdayaan masyarakat.

Program ini dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap upaya percepatan pembangunan desa di Kabupaten Bogor. Program samisade juga telah sukses menghapus 41 desa tertinggal hanya dalam waktu satu tahun. Kini, Kabupaten Bogor hanya menyisakan empat desa tertinggal, yaitu Desa Wirajaya di Kecamatan Jasinga, Desa Cilaku Kecamatan Tenjo, serta Desa Sukarasa dan Buanajaya di Kecamatan Tanjungsari.

Baca Juga  Sehari Rp300 Ribu, Pengemis Digaruk

Penulis melihat program Samisade ini relevan dengan gagasan seorang ekonom Inggris, John Maynard Keynes, yang berpandangan bahwa perlu adanya intervensi pemerintah dalam pembangunan. Di antaranya dalam bentuk kebijakan anggaran yang dapat mengatasi masalah pengangguran, sekaligus juga dapat meningkatkan daya beli, taraf hidup masyarakat dan mendorong adanya kegiatan transaksi usaha/bisnis.

Program samisade dalam pelaksanaannya melibatkan partisipasi seluruh elemen masyarakat. Partisipasi masyarakat di bidang infrastruktur desa berarti keikutsertaan seluruh anggota masyarakat dalam memecahkan masalah infrastruktur. Dalam hal ini, masyarakat terlibat berperan aktif dalam memikirkan, merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi program-program infrastruktur tersebut.

Gagasan brilian Bupati Bogor Ade Yasin ini menjadi legacy yang akan dikenang seluruh masyarakat Kabupaten Bogor, karena melibatkan peran masyarakat di dalamnya. Gagasan ini melibatkan manusia dalam proses pembangunan, baik sebagai pelaksana pembangunan, sebagai perencana pembangunan, dan juga sebagai sasaran dari proses pembangunan (as object). Maka dari itu, makna penting dari sebuah pembangunan adalah adanya kemajuan atau perbaikan (progress), pertumbuhan dan diversifikasi.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pada dasarnya pembangunan tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhan, dalam arti bahwa pembangunan dapat menyebabkan terjadinya pertumbuhan dan pertumbuhan akan terjadi sebagai akibat adanya pembangunan. Dalam hal ini, pertumbuhan dapat berupa pengembangan atau perluasan (expansion) atau peningkatan (improvement) dari aktivitas yang dilakukan oleh suatu komunitas masyarakat. (*/fin)

Leave a Reply

Your email address will not be published.