Soegijo Sapoetro Pencetus dan Saksi Sejarah Hari Kesehatan Nasional, Dulu Negara Lain Belajar ke Indonesia tentang Puskesmas

by -

Soegijo Sapoetro berada di samping Bung Karno saat presiden pertama Indonesia itu melakukan penyemprotan DDT pertama untuk membasmi malaria di Tanah Air. Kini, di usia menjelang satu abad, perhatiannya pada dunia kesehatan masih sangat besar.

PERISTIWA itu menerbang­kan ingatan Eyang Soegijo Sapoetro balik ke masa seki­tar enam dekade silam. Yang kelak di kemudian hari men­jadi salah satu titimangsa penting dalam sejarah Tanah Air.

“Pada 12 November 1959, Bung Karno menghadiri aca­ra kenegaraan di Solo,” tutur pria 91 tahun itu kepada Men­teri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin yang tengah berkun­jung ke kediamannya di Yo­gyakarta. Namun, sebelum ke Solo, Bung Karno mampir ke Yogyakarta terlebih da­hulu. Sebab, saat itu Indone­sia mengalami wabah mala­ria dan Yogyakarta salah satu daerah yang paling parah.

Terjadilah peristiwa berse­jarah itu: Bung Karno meny­emprotkan cairan insektisida DDT (dichloro diphenyl trichloroethane) di sebuah rumah warga di Kalasan, Yo­gyakarta. Peristiwa itu meru­pakan kali pertama cairan DDT untuk mengendalikan malaria disemprotkan di In­donesia.

Baca Juga  MT Hayatul Islamiyah dan Majelis Taklim se-Kabupaten Bogor Deklarasi Dukung Anis Jadi Capres

“Setelahnya, DDT digunakan untuk melawan wabah di seluruh penjuru Indonesia,” paparnya dalam video doku­mentasi keluarga yang diton­ton Jawa Pos.

Soegijo yang menjabat ke­pala Komando Operasi Pem­basmian Malaria (Kopem) berada di samping presiden pertama Indonesia tersebut saat penyemprotan DDT.

Setelah itu, Soegijo mengu­sulkan kepada Menkes saat itu, dr Satrio, agar peristiwa penyemprotan pertama ter­sebut menjadi Hari Kesehatan Nasional (HKN). Satrio se­tuju meneruskan usulan itu ke Bung Karno.

“Setelahnya, hingga saat ini 12 November menjadi HKN. Yang terus diperingati,” terang pria kelahiran 21 Juli 1930 tersebut.

Eyang Soegijo dan Menkes Budi sejatinya memiliki per­samaan: tidak berlatar bela­kang dokter atau pendidikan kesehatan lainnya, tapi sama-sama berkecimpung di dunia tersebut.

Baca Juga  Jelang 'Habis Kontrak' Hari Ini, Pasien Covid RS Lapangan Kota Bogor Tinggal Dua Orang

“Latar belakang pendidikan beliau itu ekonomi. Ekonom satu-satunya yang jadi Kopem,” terang Jagaddhito Proboku­sumo, cucu Eyang Soegijo, kepada Jawa Pos. Waktu telah lama berlalu sejak Eyang So­egijo tak lagi di Kopem. Tapi, perhatiannya pada dunia kesehatan masih sangat besar.(*/c7/ttg/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *