Tepas Salapan Lawang Dasakreta

by -

Metropolitan – Selesai dibangun tahun 2016, Tepas Salapan Lawang Dasakreta didesain dengan sarat makna peninggalan pusaka kota. Sepuluh tiang, penopang misalnya, melambangkan ‘Dasakreta’, sebuah konsep yang diabadikan dalam naskah kuna Pakuan Pajajaran. ‘Dasakreta’ (10 kesejahteraan) mengingatkan setiap orang tentang sepuluh hal yang harus dijaga kebersihannya secara jasmaniah dan rohaniah. Tujuannya  agar setiap orang bisa dekat pada keutamaan amalan baik dan terhindar dari perilaku buruk menyangkut telinga, mata, kulit, lidah, hidung, mulut, tangan, kaki, dubur (tumbung), dan kelamin (baga-purusa).

Kesepuluh tiang tersebut sekaligus menghadirkan sembilan pintu (salapan lawang).  Ini melambangkan sembilan titik ‘pintu’ yang ada pada raga manusia dan menjadi penghubung bagian tubuh manusia dengan alam semesta. Salapan lawang adalah simbol filosofi utama Pakuan Pajajaran yakni ‘Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh’. Tiga sikap dialogis antar sesama insan (silih, saling) itu adalah kunci  pembangunan Kota Bogor yang berkelanjutan. 

Tiga sikap itu, menurunkan sembilan acuan kesejahteraan yakni: 1. Kedamaian (Peace); 2. Persahabatan (Friendship); 3. Keindahan (Beauty); 4. Kesatuan (Unity); 5. Kesantunan (Good-manners); 6. Ketertiban (Ordered by Law); 7. Kenyamanan (Convenience); 8. Keramahan (Hospitality); dan 9. Keselamatan (Safety).  Jadi dengan menjaga 10 bagian dalam raga maka 9 aspek kesejahteraan akan terwujud atau pintu kesejahteraan akan terbuka

Selain itu lawang juga menyiratkan sikap rendah hati. Sikap yang  senantiasa ‘ngalawangan’ (mempersilakan-lewat) siapapun untuk masuk ke Kota Bogor. Sikap itu pula yang terabadikan pada toponimi, seperti Lawang Saketeng, Lawang Gintung, Lawang Suryakancana dan sebagainya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *