Aksi TNI Bela Warga Lawan Sentul City Gegerkan Dunia Maya

by -

METROPOLITAN – Lagi-lagi sengketa lahan di Sen­tul City memanas. Teranyar beredar luas video ber­durasi kurang lebih 59 detik yang memperlihatkan seorang anggota TNI berpakaian lengkap marah–ma­rah dan tengah diredam sekelompok orang berpa­kaian preman berbadan tegap.

Dalam video tersebut, anggota TNI yang menguna­kan baret hijau meluapkan kekecewaannya kepada Sentul City. Bahkan, dia menantang oknum anggota lain yang dianggap sebagai pengkhianat bangsa. ”Mana Brigjen Rio, pengkhianat bangsa kau,” ungkapnya.

Tak hanya itu, persoalan Sentul City juga menjadi per­hatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor. Baru-baru ini, Pemkab Bogor bersama DPD RI dan Forkopimda meng­gelar rapat membahas penye­lesaian sengketa lahan di kawasan Sentul, Babakanma­dang.

Rapat tersebut digelar dengan harapan agar sengketa warga dengan PT Sentul City dapat dituntaskan. Hadir dalam rapat Wakil Bupati Bogor Iwan Setiawan, Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor Burhanud­din, perwakilan DPRD Kabu­paten Bogor, Kapolres Bogor AKBP Imanuddin, Komite I DPD RI, camat Babakanma­dang hingga kepala desa Bo­jongkoneng.

Baca Juga  Guyur Rp300 Juta sampai Tanam 2.500 Pohon

”Intinya, satu, agar perma­salahan ini bisa dituntaskan. Jangan sampai mengganggu keamanan dan ketertiban, terutama untuk masyarakat setempat. Harus ada solusi,” kata Sekretaris Daerah (Sek­da) Kabupaten Bogor, Bur­hanuddin. Ia menyampaikan ada sejumlah hal yang diba­has dalam rapat tersebut. Salah satunya meminta Sen­tul City memperhatikan ma­syarakat sekitar. ”Terus juga Sentul (City) juga harus mem­perhatikan masyarakat setem­pat,” terangnya.

Sementara itu, anggota Ko­mite I DPD RI, Eni Sumarni, memaparkan beberapa so­lusi terkait sengketa lahan antara Sentul City dengan warga. Pertama, Sentul City harus mengutamakan warga setempat.

”Tadi ada beberapa ya, ut­amakan warga setempat. Ke­dua, mengidentifikasi mana warga pemilik lahan yang asli penduduk Sentul dan yang tidak. Khusus untuk yang dari luar Sentul yang bukan KTP Sentul, dibedakan mana yang hak milik dan mana yang tanah adat dan garapan,” kata Eni.

Eni menjelaskan, salah satu penyebab sengketa lahan muncul adalah ada orang menyerobot tanah yang lama telantar tanpa akta kepemi­likan. ”Iya, karena orang kan kalau lama ditelantarkan tuh kan suka diserobot orang bisa saja. Karena lamanya tidak segera di akta,” ungkap­nya.

Baca Juga  Mantap, TNI Bangun Jembatan Rawayan di Sukahati

Terpisah, Head of Corpo­rate Communication PT Sen­tul City Tbk, David Rizar Nugroho, mengatakan, lahan atas aset–aset perusahaan diperoleh berdasarkan proses yang legal, termasuk alas haknya. Proses hingga terbit­nya sertifikat Hak Guna Bangu­nan (HGB) oleh Badan Per­tanahan Nasional (BPN) Kabupaten Bogor melalui proses yang legal dan semua prosedur telah dilalui sesuai aturan hukum yang berlaku.

Menurut David, Sentul City mengantongi izin lokasi No­mor 460.2/149/IL-Prw/KPN/95 seluas kurang lebih 2.465 hektare. Sentul City te­lah memperoleh tanah dari PTPN XI berdasarkan surat-surat yang sah dan legal, mu­lai dari perikatan untuk pen­galihan hak hingga pelepasan hak, sehingga Sentul City berdasarkan perizinan di atas layak diberikan hak oleh BPN Kabupaten Bogor.

Menurut David, Sentul City telah memiliki master plan dengan Nomor: 591.3/283/Kpts/MP/Per-UU/2011 tang­gal 19 Desember 2011 tentang Pengesahan Masterplan atas nama PT Sentul City Tbk yang telah disetujui Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor, sehingga arah pembangunan kawasan tersebut terinte­grasi dengan Rencana Tata Ruang Kabupaten Bogor se­suai tahapan pembangunan.

Baca Juga  Puluhan Relawan Digembleng Antisipasi Bencana

Selain itu, terkait kedatangan sekelompok orang yang mengaku sebagai warga Desa Bojongkoneng, Kecamatan Babakanmadang, Kabupaten Bogor, ke Komisi III DPR RI pekan lalu, David mengaku bingung karena Sentul City tak pernah punya masalah dengan warga asli yang ber-KTP Desa Bojongkoneng.

Terhadap warga asli yang sudah tinggal lama di perkam­pungan puluhan tahun sudah ada datanya, Sentul City tidak serta merta menggusur me­reka. Bahkan, Sentul City menyiapkan Kampung Hijau atau Green Village untuk membantu mereka. “Jadi tidak mungkin ada yang digusur begitu saja. Sekali lagi kalau itu penduduk asli, kan data mereka ada di kami lengkap,” ungkapnya. (mam/eka/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published.