Dedie Rachim Bantah Jalan Sudirman Bogor Rawan Laka Setelah Dibangun Jalur Khusus Sepeda

by -
Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim. (IST)

METROPOLITAN.id – Kecelakaan yang terjadi di Jalan Sudirman, Kota Bogor sehingga mengakibatkan lima kendaraan ringsek dan dua orang luka-luka, Selasa (18/1) pagi, kini dihubung-hubungkan dengan keluhan warga soal penyempitan jalan pasca-pembangunan pedestrian dan lajur sepeda di kawasan tersebut, beberapa waktu lalu.

Jalan Sudirman pun kini disebut lebih rawan kecelakaan. Sebab selain jalur yang cenderung trek lurus dan panjang, kini ditambah penyempitan jalan setelah pembangunan jalur khusus sepeda di tempat yang sedianya merupakan jalan kendaraan.

Namun, anggapan itu buru-buru ditampik oleh Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim. Menurutnya, hingga saat ini tidak ada data yang menunjukan bahwa ada peningkatan kejadian kecelakaan lalu lintas (laka lantas) pasca dilakukan pembangunan pedestrian dan jalur khusus sepeda di Jalan Sudirman, yang berakibat lebih sempitnya jalan untuk kendaraan.

“Nggak ada data yang menunjukan laka meningkat disitu,” katanya kepada Metropolitan.id, Selasa (18/1/2022).

Baca Juga  Bima Arya Jadi Pengantar Ketupat Lebaran buat Pasien Covid di Pusat Isolasi Ciawi

Menurutnya, hingga saat ini tidak perlu adanya rekayasa lalu lintas setelah kawasan tersebut ditata pembangunan yang ada.

Ia juga menyebut bahwa tidak benar bahwa setelah pembangunan pedestrian dan jalur khusus sepeda, menjadi lebih banyak terjadi kecelakaan di kawasan Jalan Sudirman.

“Jadi tidak benar pasca-penataan padestrian (dan lajur khusus sepeda) menjadi banyak laka, Itu maksudnya,” tukas Dedie.

Apalagi, kata dia, menurut keterangan yang ia dapatkan pasca kecelakaan Selasa (18/1/2022) pagi tadi, kecelakaan lalu lintas terjadi akibat salah satu pengendara yang terserang epilepsi.

“Kecelakaan karena salah satu pengendara diduga terserang epilepsi,” imbuhnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor Eko Prabowo mengatakan bahwa Jalan Sudirman memang rawan kecelakaan lantaran jalan cenderung lurus sepanjang 1 kilometer, dengan kondisi jalan yang mulus. Sehingga banyak pengendara memacu kendaraan, apalagi setelah lampur merah Sawojajar arah Air Mancur di jalan milik Provinsi Jawa Barat itu.

Baca Juga  Kota Bogor PPKM Level 3, Kantor Perumda Tirta Pakuan Tetap Buka dan Layani Pelanggan dengan Prokes Ketat

“Apalagi setelah lampu merah itu banyak yang langsung tancap gas, tapi tiba-tiba nongol kendaraan dari Kodim atau Bogor Permai, mau nyebrang lah, jadi memang harus waspada,” katanya saat ditemui Metropolitan.id, Selasa (18/1/2022).

Terkait penyempitan jalan pasca pembangunan pedestrian dan jalur sepeda, tim dari Dishub sedang melakukan pemetaan, khususnya wilayah kantong-kantong parkir yang membuat jalan menjadi sempit. Termasuk diskusi dengan Forum Lalu Lintas dan Forkopimda Kota Bogor. Salah satunya membahas kerawanan kecelakaan di kawasan tersebut saat ini.

“Karena disitu kan pusat kegiatan ekonomi juga, nah kita lagi memetakan. Memang hambatan ada, misal kita rencana buat kantong parkir, tapi kan warga kita pengennya berhenti itu langsung di tempat yang dituju, kalau ‘dibuang’ parkir agak jauh mereka nggak mau. Nah kita lagi petakan itu,” tukasnya.

Baca Juga  Camat Punya Penting Perkuat Pembangunan SDM Pertanian

Di sisi lain, kata dia, pihaknya juga merencanakan regulasi sistemnya nanti. Ia mencontohkan satu opsi, misalnya apakah memang harus dibuat aturan 25 meter sejak lampu merah tidak boleh ada parkir dan sebagainya.

“Nah ini kita sedang evaluasi. Kemungkinan rekayasa setelah penataan? Makanya apakah memang dengan parkir paralel itu masih menghambat. Itu berhubungan nggak dengan rawan kecelakaan itu. Atau bisa saja kecelakaan itu ya gara-gara human eror,” tukas Danjen, sapaan karibnya.

“Kalau parkir di kawasan tersebut, kan sudah ada rambu-rambunya, ada yang boleh dan ada yang tidak boleh. Dan kewenangannya ada di pemprov (Jabar). Nah ini yang akan kita diskusikan,” imbuhnya. (ryn)

Leave a Reply

Your email address will not be published.