Hiks! Tingkat Kebahagiaan Warga Jakarta Menurun

by -

METROPOLITAN – Badai pandemi Covid-19 membuat banyak sektor kehidupan ter­guncang. Namun di tengah situasi bangsa yang serbasulit itu, mayoritas masyarakat In­donesia ternyata masih tetap bahagia. Lalu bagaimana dengan masyarakat Ibu Kota Jakarta?

Dalam surveinya, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut sejumlah provinsi yang indeks kebahagiaannya turun, satu di antaranya DKI Jakarta. In­deks Kebahagiaan DKI Ja­karta pada 2021 sebanyak 70,68 poin dan berada di urutan ke-27 dari 34 provinsi. Pada 2017 indeks kebahagiaan Ja­karta mencapai 71,33. Dengan demikian, kebahagiaan warga Jakarta selama masa pandemi turun 0,65 poin.

Menurut sosiolog perkotaan dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tantan Hermansah, orang Jakarta berpotensi se­bagai kelompok-kelompok yang sangat rentan pada per­soalan kebahagiaan. Apalagi, tingkat konsumsi informasi di Jakarta kemungkinan yang terbesar di Indonesia.

Dinamika-dinamika kecil pada masyarakat kota besar seperti Jakarta disebut gampang memberikan stimulus kepada pelaku, sehingga berdampak terhadap kebahagiaannya. “Misalnya, ada musibah ban­jir di suatu kelurahan di Ja­karta atau misalnya aksi kri­minalitas di suatu tempat, maka dengan cepat infor­masi itu akan mengganggu sistem kesejahteraan masy­arakat,” ujarnya.

Baca Juga  Inilah Sumber Kebahagiaan dan Senyum Ayu Ting Ting

Sementara itu, dosen pada Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Eko­logi Manusia (IKK-Fema) IPB University, Yulina Eva Riany, menilai, pengukuran indeks kebahagiaan memiliki ba­nyak indikator yang merupa­kan persepsi atas kondisi “bahagia” tersebut. Dengan demikian, masyarakat Indo­nesia banyak yang memer­sepsikan bahwa mereka ma­sih puas dengan kondisi yang mereka hadapi dan merasa hidup masih bermakna me­skipun situasi lagi sulit.

Mengapa ini bisa terjadi? Menurut Yulina, peran budaya diperkirakan sangat dominan atas persepsi bahagia. Budaya Indonesia yang cenderung menerima kondisi apa adanya, menjalani hidup yang men­galir dan tidak memiliki ekspek­tasi yang tinggi kemungkinan memiliki andil atas tingginya indeks kebahagiaan masyara­kat Indonesia. “Selain itu, kondisi masyarakat dengan situasi less competitive dip­rediksi dapat meningkatkan tingkat kebahagiaan masyara­kat,” papar Eva.

Baca Juga  Cerpen: Kebahagiaan Yang Tertunda

Gerakan Indonesia Kita (GITA) Komunitas Relawan yang bergerak membantu masyarakat di masa pandemi, di antaranya dengan memin­jamkan tabung oksigen se­cara gratis kepada masyarakat yang membutuhkan serta melakukan tes Covid-19 gra­tis.

Ketua Gerakan Indonesia Kita (GITA), Arif Iman Nur­lambang, mengatakan, seman­gat berbagi yang ditunjukkan banyak orang di masa pan­demi memang bisa memicu kebahagiaan. Padahal, pada dasarnya orang akan merasa bahagia apabila tangannya di atas. Artinya, sewaktu ia mem­beri maka ia akan merasa ba­hagia. Namun dalam konteks penanganan pandemi di In­donesia ada alasan tertentu.

Dalam konteks penanganan pandemi di Indonesia, sambung dia, ada alasan tertentu menga­pa orang punya semangat tinggi untuk berbagi. Pertama, karena orang Indonesia me­mang memiliki semangat gotong-royong. Alasan kedua, justru karena kecemasan, ya­kni kecemasan bahwa kalau pandemi terus panjang, mun­gkin dirinya akan terkena virus atau bisa saja dia tidak hidup lagi tahun depan. Kecemasan itu yang kemudian memban­tu meningkatkan solidaritas orang-orang.

Baca Juga  Tika Ramlan : Sudah Lengkap, Tutup Pabriknya

Terlepas dari faktor penyebab kebahagiaan, Alif justru menunjukkan satu hal mena­rik pada masyarakat Indonesia di masa pandemi ini, yakni orang-orang sadar dengan kampanye kesehatan. Orang jadi tahu bahwa virus corona berbahaya kalau disikapi dengan stres, depresi atau pe­simis. Jadi, dengan begitu kondisi ini harus dihadapi ini optimistis supaya imunitas tubuh meningkat.

“Saya nggak lihat, tapi mudah-mudahan ini terjadi. Kalau betul itu yang terjadi, itu me­narik sekali, sesuatu yang se­benarnya tidak terkait indeks kebahagiaan, tapi lebih ke­pada bagaimana orang Indo­nesia memupuk kepercayaan untuk menghadapi situasi,” paparnya. (sin/tob/suf/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published.