Para Penambang Batu di Kaki Semeru Kembali Bangkit Melawan Trauma, Begitu Mendung Bergegas Angkat Kaki

by -

Para penambang batu harus bekerja sambil sesekali mendongak dan menajamkan pendengaran untuk menangkap perubahan cuaca. Namun, berkah dari erupsi Semeru, batu kini tinggal pilih, tak butuh alat berat.

PAGI masih muda, baru pukul 07:00. Namun, pung­gung Timbul Mariono telah mengilap basah oleh kering­at. Bertelanjang dada, ia me­mecahkan bongkahan batu yang melimpah di sepanjang Kali Lanang dengan ayunan godam.

Tiga kali pukulan, batu di kali yang terletak di Dusun Curah Kobokan, Desa Supi­turang, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, itu terbelah. Nun di sana, awan putih terlihat jelas mengepul dari puncak Semeru. Otot-otot para penambang batu Kali Lanang terlatih menempatkan posisi godam harus diayunkan.

Pada Senin (7/2) pagi pekan lalu itu, batu keras dari gugu­ran Semeru tersebut pecah menjadi beberapa bagian. Dari bongkahan itu pula, pundi-pundi uang Timbul berasal.

”Ya, begini cari batu buat makan,” ucapnya kepada Jawa Pos (7/2). ”Makan kok sama batu. Makan ya pakai nasi,” celetuk rekan pemecah batu di sampingnya dengan logat khas Pandalungan.

Timbul yang kena sindir hanya meringis. Tawa pun pecah di antara 12 pemecah batu yang bergelut mencari nafkah.

Baca Juga  Tiba di Semeru, Relawan Anak Negeri Langsung Buka Posko Kesehatan

Sejak Semeru meletus pada 4 Desember tahun lalu, baru dua pekan terakhir Timbul dan rekan-rekannya memulai aktivitas menambang batu. Mereka tahu, Semeru belum sepenuhnya aman. Setiap saat bisa ada ‘kejutan’.

”Sebenarnya masih ada rasa takut, tapi mau bagai­mana lagi,” kata lelaki asal Dusun Kajar Kuning, Desa Sumberwuluh, Lumajang, itu.

Timbul harus menghidupi seorang istri dan tiga anak. Dan, ia tahu, perut lapar tak bisa diganjal dengan rasa takut. Dan, menjadi penambang batu yang dilakoninya sejak lima tahun silam kembali dipilih. Setelah hampir dua bulan dia mengang­gur.

Istri dan ketiga anaknya kini tinggal di pengungsian di Desa Sumbermujur. Timbul memilih tinggal di dusunnya, Kajar Kuning, yang telah dit­inggalkan para warganya mengungsi.

Pria 43 tahun tersebut me­milih bertahan di desa yang kini hampir tak berpenghuni akibat timbunan abu semeru karena alasan ternak. Seba­nyak 17 ekor kambingnya butuh makan setiap hari.

Saban malam Timbul memi­lih tak tidur. Matanya ditahan agar tetap siaga berjaga jika sewaktu-waktu Semeru ‘batuk’ lagi seperti 4 Desember tahun lalu. Timbul baru beristirahat menjelang subuh. Tidur seben­tar, lalu pada pukul 06:30 sudah datang ke Kali Lanang untuk memecah batu.

Baca Juga  Posko Kesehatan Gerakan Anak Negeri Layani 635 Warga Korban Erupsi Semeru

Tekad bulat menghidupi anak dan istri juga dilakoni Fendik. Baru empat hari pria 26 tahun itu kembali berani menjadi pemecah batu.

”Saya ini baru bangun fon­dasi rumah dari uang yang saya kumpulkan belasan tahun. Tapi, belum jadi, sudah amblas (kena dampak letusan, red),” jelas warga Kampung Renteng tersebut.

Dusunnya menjadi salah satu area terdampak parah aliran lava dingin yang dit­umpahkan Semeru. Namun, Fendik tak mau terus men­gutuki nasib.

Bagi dia, lebih baik bekerja dengan tangan dan keringat sendiri. Mengumpulkan uang lagi. Lalu, kembali membangun mimpi yang tertunda: memi­liki rumah sendiri. Meski entah sampai kapan bisa terwujud.

”Ya, siapa juga yang mau ada bencana?” tanyanya.

Fendik mengantongi uang Rp50 ribu sehari dari hasil memecah batu. Penghasilan itu memang lebih sedikit jika dibandingkan sebelum ben­cana awan panas guguran (APG) Semeru menerjang.

Sebab, kini ia dan rekan-rekannya masih bekerja se­tengah hari. Paling lama pu­kul 11:00. Lebih dari itu, nekat menambang akan berisiko tinggi.

Baca Juga  Erupsi Susulan Semeru Masih Mengancam

Apalagi jika tetap nekat be­rada di sungai ketika awan mendung mulai memayungi Semeru. Mereka bakal ber­gegas naik ke kampung dan meninggalkan area tambang. Sebab, risiko banjir bandang bisa setiap saat mengham­piri.

Ya, kini bukan acuan waktu yang membuat para penambang berhenti. Melai­nkan ‘kode’ alam. Mata harus sesekali melihat ke atas dan menajamkan pendengaran untuk menangkap perubahan cuaca. Jika terdengar suara bergemuruh dari atas, tanda­nya mereka harus cepat ang­kat kaki.

Area tambang yang mereka gunakan untuk mengais re­zeki memang terhitung dekat dengan gunung setinggi 3.676 meter di atas permukaan laut tersebut. Kondisi tanah tem­pat mereka berpijak juga bu­kan tanpa bahaya. Waktu hari pertama kembali me­nambang, batu yang tertimbun tanah masih terasa anget. Tak jarang masih panas.

”Itu tangannya sampai merah karena memegang batu yang masih panas,” ungkap Musta­kim, penambang lain, menunjuk rekannya. Dia juga merasakan panasnya batu itu. Padahal, terjangan APG terjadi dua bu­lan silam. (jp/feb/run)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.