Melongok Kisah Kader TBC di Kabupaten Bogor, Ditolak Warga hingga Rela Datang ke Wilayah Terpencil

by -
Anggota Yayasan Akses Sehat Indonesia tengah melakukan Sosialisasi dengan warga, Rabu (23/3).

METROPOLITAN.id – Di tahun 2021, Indonesia menjadi negara peringkat kedua dunia sebagai negara dengan kasus Tuberkulosis (TBC) terbanyak setelah India. Hal itu membuat Yayasan Akses Sehat Indonesia ikut ambil bagian untuk berpartisipasi aktif dalam menanggulangi TBC, khususnya di Kabupaten Bogor.

Terlebih, Kabupatn Bogor menyumbang angka terbanyak di Indonesia. Dari data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mencatat per 2021 ini terdapat 15.074 warga Kabupaten Bogor yang terjangkit penyakit menular tersebut. Sehingga perlu dukungan dari berbagai pihak untuk mengentaskan TBC Kabupaten Bogor.

“Kegiatan yang kami lakukan yaitu investigasi kontak pasien TBC, penyuluhan dan pendampingan minum obat bagi pasien,” tutur Ketua Yayasan Akses Sehat Indonesia Alwin Khafidhoh Rabu, (23/3).

Yayasan Akses Sehat Indonesia yang merupakan kluster kesehatan dari Yayasan Nirunabi bekerja bersama 160 kader untuk terjun ke masyarakat dalam memberantas penularan TBC.

Baca Juga  Rumah Sakit di Bogor Sediakan SABU

Sementara itu, menurut Koordinator Kader TBC wilayah Bogor Tengah dan Timur, Sukmawati, menjadi kader bukan hanya mempunyai pengetahuan seputar TBC. Namun, juga harus mempunyai trik agar pasien TBC bisa secara terbuka menerima kehadiran para kader saat berkunjung ke rumah. Trik tersebut bisa didapatkan dari pengalaman-pengalaman saat kader sudah berkunjung ke rumah pasien.

“Karena di lapangan itu kendalanya banyak, ada yang banting pintu. Maka saya arahkan pakai trik seperti ini misalnya, jangan bilang kalau kita mau investigasi kontak TBC. Bagaimana caranya supaya warga yang kita kunjungi terbuka, kita harus ngomongnya pelan-pelan,“ paparnya.

Tidak hanya itu, kondisi lokasi pasien juga menjadi kendala yang terkadang membuat para kader kelelahan yang membuat para kader bimbang untuk melanjutkan programnya. Begitu juga ada pasien TBC yang merasa sehat dan menolak untuk melakukan pengobatan.

Baca Juga  Nggak Sesuai Aturan, Peternakan Ayam Potong di Rumpin Ditertibkan

“Padahal seharusnya pasien TBC harus melakukan pengobatan rutin selama enam bulan penuh tanpa putus. Jika tidak maka penderita akan mengalami kebal obat atau MDR-TB (Multi Drug Resistance TB,red). Sedangkan para kader menyebutkannya dengan istilah RO (resisten obat),” kata dia.

Pendampingan yang dilakukan para kader bertujuan agar pasien TBC tidak lengah saat menjalani pengobatan. Maka, motivasi sangat diperlukan agar pasien TBC tetap semangat dan tidak lupa untuk mengonsumsi obatnya.
Tak jarang para kader juga menawarkan bantuan untuk mengantarkan obat.

“Para kader memberikan edukasi dan motivasi. Agar pasien tetap semangat minum obat. Jika ada beberapa pasien yang rumahnya jauh dari puskesmas, bisa minta tolong pada kader wilayah untuk mengambil obatnya,” kata Ria Agustin, Koordinator Kader wilayah Bogor Barat dan Selatan.

Baca Juga  Rancangan APBD DKI Jakarta 2020 Anggaran Kunker Dewan Naik Rp934 Miliar

Stigma negatif masyarakat terhadap penyakit TBC membuat para penderita itu enggan untuk berobat. Maka dari itu para kader sebisa mungkin bergerak diam-diam dan tidak mencolok saat melakukan kunjungan ke rumah penderita TBC. Karena stigma negatif tersebut sangat sulit dihilangkan.

“Kita bisa edukasi untuk merubah stigma masyarakat tentang penyakit TBC. Saya tekankan di sini kepada warga. Siapa pun yang terkena atau keluarga siapa pun jangan merasa itu penyakit kutukan atau penyakit yang memalukan,” ujar Sukmawati. (far/b/mam)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *