Modus Iming-iming Permen, Kakek di Bogor Cabuli 6 Bocah

by -

METROPOLITAN.id – Polresta Bogor Kota berhasil mengamankan seorang kakek warga Kelurahan Gunungbatu, Kecamatan Bogor Barat berinisial KS.

Kakek 60 tahun ini diamankan lantaran kedapatan melakukan aksi pencabulan terhadap enam bocah perempuan berusia di bawah umur.

Adapun, modus yang dilakukan tersangka sendiri yaitu dengan mengiming-imingi para korban dengan memberikan permen.

Kasat Reskrim Polresta Bogor Kota, Kompol Dhoni Erwanto mengatakan, setelah menerima laporan, Jajaran Polresta Bogor Kota langsung melakukan penangkapan seorang kakek berinisial KS (60) pada akhir Februari lalu.

“Tersangka kita tahan dari 27 Februari karena adanya laporan dari keluarga korban pada tanggal 26 Februari. Kemudian kita langsung lakukan penyelidikan,” kata Kompol Dhoni kepada wartawan, Senin (14/3).

Dari hasil penangkapan tersebut, sambung Dhoni, pihaknya mengungkapkan bahwa KS (60) dengan para korban berasal dari lingkungan yang sama.

Karena itu, sejumlah korban mau menerima ketika pelaku mengiming-imingi makanan atau permen untuk melakukan pelecehan seksual.

“Berawal dari lingkungan yang sama (tetangga). Sehingga, korban pun mau saat diiming-iming KS memberikan permen dan camilan,” ucapnya.

Saat itulah pelaku melakukan aksi bejatnya dengan cara memegang alat kemaluan sejumlah korbannya yang rata-rata masih berusia 6 hingga 10 tahun.

Baca Juga  Hiks, Sudah Melanggar Prokes, Warga Bogor Ini Nggak Hafal Pancasila Pula

Aksi bejat pelaku baru diketahui ketika salah satu korban mengeluhkan sakit diaera kemaluanya kepada orang tuanya. Lalu, saat itulah orang tua korban melaporkan KS yang tak lain tetangganya itu ke Polresta Bogor Kota.

“Korban (mengeluhkan) sakit dikemaluannya, dan menceritakan semuanya, sehingga orang tuanya tahu bahwa ada perbuatan (cabul) yang dilakukan tersangka terhadap anaknya dengan memegang kemaluan korban,” kata Dhoni.

Namun demikian, pihaknya masih melakukan pemeriksaan dan penyelidikan secara intensif untuk mengetahui apakah masih ada korban lainnya atau tidak.

“Yang pasti proses penyelidikan masih kita lakukan,” ujarnya.

Sementara itu, saat ini Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kota Bogor tengah melakukan pendampingan psikologis terhadap korban dan orangtuanya.

Adapun, rata-rata korban merupakan anak-anak perempuan di bawah umur. Dengan rentang usia 2,5 hingga 10 tahun.

“Jadi kemarin kita dapat laporan ada kasus pecehan seksual terhadap anak-anak di Gang Masjid, Gunung Batu. Itu yang baru terlaporkan dari orangtuanya. Jadi tindak lanjut kita adalah turun langsung ke TKP. Alhamdulillahh pelakunya sudah ditangkap kepolisian,” kata Kepala DP3A Kota Bogor, Iceu Pujiati.

Menurutnya, pihaknya melalui UPT DPPA turun lakukan inventarisasi dan komunikasi dengan keluarga korban. Nantinya akan dilakukan pendampingan baik korban dan orangtua.

Baca Juga  PDAM Pastikan Pemasangan Pipa Kelar Februari

Selain itu, sambung Iceu, DP3A juga memberikan edukasi kepada orangtua terkait perlindungan anak, pendampingan psikologis anak. Sebab dikhawatirkan ada dampak psikologis terhadap anak tersebut

“Jadi terjadwal kita akan mendampingi secara psikologis kepada anak dan orangtua. Dan kita mendindak lanjut ada pendampingan secara hukum,” ucapnya.

Di samping itu, Iceu juga memberikan informasi dan edukasi terkait Undang-Undang Perlindungan Anak. Khususnya kepada para orangtua di sekitar lokasi kejadian.

Termasuk juga mengajak para orangtua untuk melalukan gerakan berani melapor, apabila ada kasus kekerasan perempuan dan anak. Hal ini terus digencarkan karna masih banyak masyarakat yang berani melapor, jika terjadi kasus serupa.

Pendampingan ini, dikatakan Iceu, bukan hanya bentuk nyata dari visi Bogor Kota Ramah Keluarga dan Kota Layak Anak (KLA). Namun juga sebagai kewajiban pihaknya, ketika ada kasus kekerasan dan pelecehan, DP3A merupakan lembaga yang harus melakukan perlindungan dan pendampingan.

“Intinya kita melakukan pendampingan ingin mengetahui sejauh mana anak korban terdampak psikologisnya. Ini yang harus kita amankan. Dari dampak psikologis, kesehatsn mental, kalo fisik nanti divisun rumah sakit. Kalau kita pendsmpingan psikologis dan mental,” jelasnya.

Baca Juga  LGP Nilai ada 3 Tiket Pilpres dari 3 Poros

Terpisah, Komisioner KPAID Kota Bogor Bidang Pornografi dan Cybercrime KPAI Kota Bogor, Sumedi mengatakan, pihaknya mendapatkan laporan terkait kasus tersebut pada Kamis (10/3) sore. Mendapat laporan itu KPAID Kota Bogor bersama stalkholder terkait melakukan observasi lapangan pada Jumat (11/3).

“Saya coba observasi ke TKP, korban itu ada enam orang, semua anak-anak dibawah umur. Paling besar usia kelas 4 SD, rata-rata korban usia 2,5 tahun,” katanya.

Orangtua yang sudah mulai memahami kasus tersebut adalah perbuatan kejahatan, langsung melaporkan kepada pihak kepolisian. Namun kata Sumedi setelah dilakukan inventarisasi ternyata ada beberapa anak lain yang menjadi korban dari pria paruh baya berusia 60 tahun itu, namun enggan melapor.

Padahal, kata Sumedi, peristiwa itu bukanlah aib yang harus ditutupi. Bahkan harus dilaporkan ke pihak berwenang agar tidak ada korban selanjutnya.

“Untuk itu perlu ada pendampingan psikologis terhadap anak dan orangtua yang mengalami traumatik atas apa yang dialami oleh anaknya. Sehingga ke drpsn tidak ada hambatan dalam tumbuh kembang anak dari sisi sikologis ataupun fisik dan orangtua yang menjaga anak pun bisa memberikan pengawasan yang cukup,” tandasnya. (rez) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *