Disabilitas asal Bogor Mimpi Lanjutkan S3 di Luar Negeri hingga Jadi Duta Besar untuk Indonesia

by -

METROPOLITAN.id – Menjadi seorang CPNS di Mahkamah Agung bukanlah tujuan terakhir yang ingin dicapai Syifa Fauziah. Disabilitas asal Bogor ini memiliki mimpi dapat melanjutkan S3 di luar negeri.

Bahkan, lulusan S2 Program Studi Ilmu Hukum di Universitas Pakuan Bogor juga bercita-cita dapat bekerja sebagai duta besar untuk Indonesia.

“Bukan (cukup jadi PNS Mahkamah Agung). Kalau saya justru dari SMA punya mimpi bisa keliling dunia, makanya saya pengen jadi diplomat itu untuk keliling dunia,” katanya.

“Saya ingin jadi Duta Besar untuk Indonesia. Karena waktu SMA saya dapat kesempatan pengalaman pertukaran pelajar ke Amerika Serikat,” ucap dia.

“Nah, dari situlah saya mulai tumbuh dan mikir mau kaya gini (ngambil kuliah S1 dan S2),” sambung lulusan MA Al-Falak Kota Bogor.

Menurutnya, tujuan bekerja sebagai Duta Besar ingin ia ambil karena tertarik dengan budaya dan semua hal. Dalam artian, ia ingin bisa membandingkan kelebihan dan kekurangan yang ada di Indonesia dengan negara lainnya.

“Pengen belajar aja, dalam hal semuanya terkait budaya dan semuanya lah, untuk membandingkan negara saya dengan negara lainnya,” imbuhnya.

“Dan (bekerja sebagai) PNS tuh bukan akhir, kita ga tau ke depannya seperti apa,” lanjut Syifa Fauziah.

Baca Juga  Warga Bogor Rebutan Sembako Presiden Jokowi di Pasar Gunungbatu

Bahkan untuk mensukseskan mimpinya tersebut, Syifa Fauziah juga berniat untuk melanjutkan S3 di luar negeri.

“Saya sih ada niat dan kalau ada kesempatan dan rezeki yang berlebih saya pengen ngelanjutin lagi ke S3 karena kan dengan pendidikan kita bisa lebih berkembang, kesempatan jadi lebih terbuka,” ungkap dia.

“Saya pengen cobain beasiswa keluar sambil belajar bahasa Inggris. Sudah pernah coba daftar ke Jepang namun gagal karena bahasa Inggris yang kurang,” tandasnya.

Sebelumnya, keterbatasan bukan akhir dari segalanya. Perumpamaan itu nampaknya yang dipegang seorang Syifa Fauziah. Disabilitas asal Kota Bogor ini berhasil menamatkan gelar magisternya dengan predikat cumlaude.

Warga Kelurahan Loji, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor ini berhasil lulus dari Program Studi Ilmu Hukum di Universitas Pakuan Bogor dengan IPK 3,80.

Syifa Fauziah sendiri resmi bergelar magister pada 30 Maret 2022 lalu. Perempuan kelahiran 1997 itu menjalani proses wisuda di lantai dasar Gedung Pakuan Siliwangi (GPS).

Prestasi yang diraih Syifa Fauziah sendiri sudah terlihat sejak ia mengenyam pendidikan di bangku sarjana. Lulus dari S1 Fakultas Hukum Universitas Pakuan Bogor, anak pertama dari tiga bersaudara ini berhasil meraih IPK 4,00.

Kini, Syifa Fauziah juga sudah berstatus CPNS di Mahkamah Agung sejak awal 2021 lalu. Ia tinggal menunggu pengangkatan secara resmi menjadi seorang PNS di Mahkamah Agung.

Baca Juga  Loncat Ke Sungai Usai Lahiran Stres, Mahmud Cantik Bunuh Diri

Ditemui Metropolitan.id baru-baru ini, Syifa Fauziah mengaku tidak punya mimpi besar melalui bidang hukum ini. Sejak lulus S1, ia hanya bermimpi dapat bekerja sebagai seorang notaris.

Selang perjalanan waktu, Syifa Fauziah merasa tertarik melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2 karena ilmu yang didapatkan terasa masih mentah.

Baginya, perjalanan karirnya sebagai Sarjana Hukum masih umum dan masih banyak yang harus digali dan dikembangkan. Untuk itu, Syifa Fauziah kembali melanjutkan pendidikan di S2 sejak 2019 silam.

“Nanggung juga dan kebetulan alhamdulillah dapat beasiswa juga dari kampus dan yayasan,” kata perempuan berparas cantik ini.

“Dan kebetulan saya kemarin sebelum lulus sempat daftar di Mahkamah Agung, alhamdulillah sekarang status saya CPNS,” ucapnya.

“Di Mahkamah Agung saya ditempatkan di Pengadilan, lebih ke litigasi atau penyelesaian kasus di Pengadilan,” sambung perempuan berhijab ini.

Soal pekerjaannya saat ini di Mahkamah Agung, dijelaskan Syifa Fauziah, sebenarnya ini merupakan doa kedua orang tuanya. Di mana, sebelum lulus ia sempat ditanya pekerjaan seperti apa yang akan diambil baginya.

Baca Juga  Airlangga Capres 2024, Golkar Beri Sinyal Deklarasi Capres Lebih Dini

“Jadi pas belum lulus itu umi pernah nanya dan bilang, kalau mau jadi dosen silahkan. Tapi kalau misalkan umi sih, kalai boleh di pengadilan lah coba-coba sesuai jurusan,” imbuh dia.

“Padahal dari awal ga ada planing buat masuk jadi PNS, selang perjalanan coba-coba apalagi jadi harapan orang tua dan alhamdulillah satu kali tes lulus,” lanjutnya.

Soal kondisi, bagi mantan honorer di Kantor Kecamatan Bogor Barat, bukan lah sesuatu yang menghambat dirinya untuk meraih gelar magister.

Karena, ia memiliki prinsip, kekurangan bukan lah sesuatu yang dianggap sebagai kendala. Sebagai manusia, mungkin yang membedakan lebih ke pola pikir dari pribadinya masing-masing.

“Sebenarnya untuk kondisi saya rasa tidak terkendala sih, kita sama-sama manusia, mungkin yang membedakan kita terkendala atau tidak itu pola pikir ya,” imbuh dia.

“Kalau memang saya menganggap keadaan saya ini sebagai kendala ya saya akan selalu terkendala. Tapi kalau saya mikirnya setiap orang punya kekurangan dan kelebihannya masing-masing, cuma mungkin wujudnya terlihat dan tidak terlihat,” ungkapnya.

“Jadi saya mikirnya gitu, mau kemana pun saya yaudah bodo amat lah, alhamdulillahnya saya punya keluarga yang mensupport dan rekan-rekan juga mensupport,” ujar dia. (rez) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *