Lulus dengan Predikat Cumlaude, Disabilitas asal Bogor Kini Jadi CPNS di Mahkamah Agung

by -

METROPOLITAN.id – Keterbatasan bukan akhir dari segalanya. Perumpamaan itu nampaknya yang dipegang seorang Syifa Fauziah. Disabilitas asal Kota Bogor ini berhasil menamatkan gelar magisternya dengan predikat cumlaude.

Warga Kelurahan Loji, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor ini berhasil lulus dari Program Studi Ilmu Hukum di Universitas Pakuan Bogor dengan IPK 3,80.

Syifa Fauziah sendiri resmi bergelar magister pada 30 Maret 2022 lalu. Perempuan kelahiran 1997 itu menjalani proses wisuda di lantai dasar Gedung Pakuan Siliwangi (GPS).

Prestasi yang diraih Syifa Fauziah sendiri sudah terlihat sejak ia mengenyam pendidikan di bangku sarjana. Lulus dari S1 Fakultas Hukum Universitas Pakuan Bogor, anak pertama dari tiga bersaudara ini berhasil meraih IPK 4,00.

Kini, Syifa Fauziah juga sudah berstatus CPNS di Mahkamah Agung sejak awal 2021 lalu. Ia tinggal menunggu pengangkatan secara resmi menjadi seorang PNS di Mahkamah Agung.

Baca Juga  Dampak Insiden SDN Otista, DPRD Minta Pemkot Bogor Evaluasi Serapan Anggaran Perbaikan Sekolah

Ditemui Metropolitan.id baru-baru ini, Syifa Fauziah mengaku tidak punya mimpi besar melalui bidang hukum ini. Sejak lulus S1, ia hanya bermimpi dapat bekerja sebagai seorang notaris.

Selang perjalanan waktu, Syifa Fauziah merasa tertarik melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2 karena ilmu yang didapatkan terasa masih mentah.

Baginya, perjalanan karirnya sebagai Sarjana Hukum masih umum dan masih banyak yang harus digali dan dikembangkan. Untuk itu, Syifa Fauziah kembali melanjutkan pendidikan di S2 sejak 2019 silam.

“Nanggung juga dan kebetulan alhamdulillah dapat beasiswa juga dari kampus dan yayasan,” kata perempuan berparas cantik ini.

“Dan kebetulan saya kemarin sebelum lulus sempat daftar di Mahkamah Agung, alhamdulillah sekarang status saya CPNS,” ucapnya.

Baca Juga  Kangkangi Spanyol 2-1, Jepang Sukses Jadi Juara Grup dan Wakil Asia Kedua Lolos 16 Besar Piala Dunia 2022

“Di Mahkamah Agung saya ditempatkan di Pengadilan, lebih ke litigasi atau penyelesaian kasus di Pengadilan,” sambung perempuan berhijab ini.

Soal pekerjaannya saat ini di Mahkamah Agung, dijelaskan Syifa Fauziah, sebenarnya ini merupakan doa kedua orang tuanya. Di mana, sebelum lulus ia sempat ditanya pekerjaan seperti apa yang akan diambil baginya.

“Jadi pas belum lulus itu umi pernah nanya dan bilang, kalau mau jadi dosen silahkan. Tapi kalau misalkan umi sih, kalai boleh di pengadilan lah coba-coba sesuai jurusan,” imbuh dia.

“Padahal dari awal ga ada planing buat masuk jadi PNS, selang perjalanan coba-coba apalagi jadi harapan orang tua dan alhamdulillah satu kali tes lulus,” lanjutnya.

Soal kondisi, bagi mantan honorer di Kantor Kecamatan Bogor Barat, bukan lah sesuatu yang menghambat dirinya untuk meraih gelar magister.

Baca Juga  Waspada! Ini Modus Pelaku Ganjal ATM di Bogor Kelabui Korbannya

Karena, ia memiliki prinsip, kekurangan bukan lah sesuatu yang dianggap sebagai kendala. Sebagai manusia, mungkin yang membedakan lebih ke pola pikir dari pribadinya masing-masing.

“Sebenarnya untuk kondisi saya rasa tidak terkendala sih, kita sama-sama manusia, mungkin yang membedakan kita terkendala atau tidak itu pola pikir ya,” imbuh dia.

“Kalau memang saya menganggap keadaan saya ini sebagai kendala ya saya akan selalu terkendala. Tapi kalau saya mikirnya setiap orang punya kekurangan dan kelebihannya masing-masing, cuma mungkin wujudnya terlihat dan tidak terlihat,” ungkapnya.

“Jadi saya mikirnya gitu, mau kemana pun saya yaudah bodo amat lah, alhamdulillahnya saya punya keluarga yang mensupport dan rekan-rekan juga mensupport,” ujar dia. (rez)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *