Menguntungkan, Kementan Gelar Pelatihan Contact Farming di Ciawi

by -

METROPOLITAN.ID – Contract farming memiliki peranan penting dalam keberlanjutan aktivitas pertanian. Dalam mengembangkan usaha, petani sering diharapkan pada permasalahan klasik seperti minimnya akses permodalan, akses teknologi dan akses pasar.

Contract Farming dapat didefinisikan sebagai bentuk kerja sama yang bersifat komersial antara petani dengan perusahaan untuk mengatasi permasalahan petani seperti akses permodalan, permasalahan teknologi, akses pasar dan lain-lain.

Keberhasilan contract farming juga ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya faktor kesetaraan, transparansi, dan saling menguntungkan antar kedua belah pihak.

Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo, era industri 4.0 identik dengan IT dan digitalisasi yang lekat dengan generasi milenial. Mantan Gubernur Sulawesi Selatan ini pun mengatakan bahwa petani harus sudah mengubah pola fikirnya.

“Pertanian saat ini bukan pertanian yang seperti dahulu. Tak hanya fokus pada budidaya, petani juga harus memikirkan pasca panennya, peningkatan nilai produknya serta pasar”, ungkapnya.

Baca Juga  Bebani Keuangan Negara, Pengamat Ekonomi Minta Pemerintah Cabut Obligasi Rekap BLBI

Syahrul pun tak henti mengajak petani-petani muda untuk bisa mengambil peran dalam pengembangan pertanian modern, merupakan kunci peningkatan produktivitas.

Hal senada dikemukakan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian [BPPSDMP] Kementan, Dedi Nursyamsi bahwa petani adalah profesi menjanjikan dengan pendapakan yang menggiurkan bagi milenial.

Maka untuk meningkatkan minat generasi muda pada sektor pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan dan International Fund for Agricultural Development (IFAD) memiliki Program Youth Enterpreneurship and Employment Support Services (YESS).

Program ini dikhususkan bagi generasi muda meningkatkan kapasitas pengetahuan dan kemampuan mereka di bidang pertanian.

Dedi Nursyamsi mengatakan ada dua kunci utama dalam pelaksanaan program YESS.

“Pertama, program YESS hadir untuk meningkatkan kapasitas pemuda di perdesaan melalui pendidikan dan pelatihan untuk menjadi agen pembangunan pertanian. Kedua, sasaran dari program YESS, yakni pemuda harus memiliki jiwa kewirausahaan dari hulu sampai hilir,” kata Dedi.

Baca Juga  Loh Kok Ratusan Sapi asal Bali Mati Mendadak ?

Salah satu upaya mendukung keberhasilan tersebut, dilaksanakanlah pelatihan ToT Contract Farming bagi staff BDSP, Fasilitator Muda, Dosen dan Guru yanga bertujuan untuk menghasilkan petani muda yang agresif dan kemampuan manajerial yang professional terkait perjanjian/ kontrak di bidang pertanian dengan perusahaan, lembaga keuangan, dan Lembaga lainnya.

Kegiatan pelatihan ToT Contract Farming ini dilaksanakan di PPMKP Ciawi, Bogor Jawa Barat pada tanggal 19-21 April 2022. Tercatat 30 orang peserta yang merupakan staf BDSP, Fasilitator Muda, dan 2 Dosen dari Polbangtan Bogor.

Dalam sambutannya Kepala PPMKP Ciawi, Yusral Tahir menjelasjan, melalui pelatihan contract farming ini di harapkan bisa mendapatkan kepastian harga, kualitas dan kontinuitas produk pertanian dalam rangka membangun sinergisitas yang baik antara petani dan perusahaan penampung hasil pertanian untuk meningkatkan kesejahteraan petani khususnya di kawasan Jawa Barat.

Baca Juga  Muhammad Ridwan Sabet Medali Emas Tarung Derajat untuk Bumi Tegar Beriman

Pada kesempatan berbeda, Project Manager Program YESS Inneke Kusumawati menjelaskan selama pelatihan, peserta fasilitator muda dibekali materi pelatihan seperti; konsep dasar contract farming, persiapan contract farming, rencana aksi tindak contract farming, monitoring dan evaluasi contract farming, adopsi dan replica model contract farming serta strategi keberlanjutannya dan lesson learned from success story.

“Kami berharap, setelah mengikuti pelatihan ToT ini diharapkan peserta pelatihan dapat menjadi mentor dan mampu mendesiminasikan pengetahuan terkait contract farming kepada Calon Penerima Manfaat (CPM) supaya mampu mengaplikasikan kemitraan untuk peningkatan kesejahteraan petani, agar mendapatkan kepastian harga produk pertanian petani oleh pihak penerima hasil pertanian dari petani tersebut”, ujar Inneke .(suf)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *