Waspada! Bahaya Mengintai ABG di Medsos

by -

Dua minggu sudah seorang ABG atau remaja di Kota Bogor membuat keluarganya cemas. Sejak pamit pergi pada Maret lalu, HF (17), siswi SMA asal Bantarjati itu, tidak juga pulang. Kabarnya, korban dibawa pergi pria yang dikenalnya dari Facebook.

WARGA Kampung Kalibata itu diketahui meninggalkan rumah sejak 16 Maret 2022. Tak ada kecurigaan dari pihak keluarga saat HF pamit pergi.

Namun, hari demi hari, HF tak kunjung pulang ke rumah. Pihak keluarga yang mulai khawatir pun berulang kali menghubungi nomornya. Namun, jawabannya nihil.

“Ditelepon tidak aktif. Chat-nya juga ceklis satu,” ungkap paman HF, Budi.

Tak sampai situ, pihak kelu­arga juga menghubungi teman-teman HF. Sampai akhirnya mendapat informasi bahwa HF diduga jadi korban pen­jahat yang bermodus kenalan di Facebook.

“Jadi berdasarkan infor­masi dari teman-temannya, HF ini sempat berkomuni­kasi dengan mereka (teman­nya, red), dan meminta uang sebesar Rp300 ribu untuk membayar taksi online dari Bogor ke Tangerang. Kemu­dian, HF juga menyampaikan bahwa dirinya tertipu. Dan semenjak itu HF tidak bisa dihubungi lagi,” terangnya.

Baca Juga  1.990 Aduan Masuk Ke Bawaslu RI

Pihak keluarga pun cemas hingga akhirnya melapor ke Polsek Bogor Utara. Namun, laporan yang dilayangkan pihak keluarga belum ada perkembangan.

Dari peristiwa itu, pihak keluarga menduga HF mene­mui teman laki-laki setelah berkenalan di media sosial (medsos).

“Kami menduga HF ini me­nemui orang tersebut setelah komunikasi di Facebook, ka­rena naik taksi online berang­katnya,” tuturnya.

Budi melanjutkan, saat be­rangkat dari rumahnya, HF memakai kerudung hitam dan memakai celana jeans, se­patu hitam, dan pakai tas selempang.

“Keponakan kami ini ciri-cirinya memiliki kulit sawo matang, mata agak sipit, dan tinggi badan 153 cm,” beber­nya.

Ia berharap keponakannya dapat ditemukan dalam kon­disi selamat dan sehat wala­fiat.

“Bagi yang menemukan ke­ponakan kami, bisa hubungi ke nomor 0857-1414-054 (Mulyani) dan 0881-1602-926,” harapnya.

Sementara itu, Komisi Per­lindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kota Bogor ikut menyikapi hilangnya HF yang sudah lebih dari dua pekan tidak pulang ke rumah.

Baca Juga  Polda Jabar Kerahkan 20 Ribu Anggota

Apalagi, kejadian itu berhu­bungan dengan aktivitas anak dalam medsos. Sebab, sebe­lum menghilang, HF diketa­hui izin pergi bertemu laki-laki yang dikenalnya lewat Facebook.

“Ini semakin membuat rasa prihatin dan kekhawatiran. Membuat orang tua harus lebih intensif mengawasi ke­giatan anak bermedsos,” kata Komisioner KPAID Kota Bogor, Sumedi, kepada Metropolitan. id, Sabtu (16/4).

Pihaknya menilai ada pe­ningkatan intensitas peng­gunaan gadget pada anak selama pandemi. Terlebih untuk penggunaan medsos karena anak merasa jenuh terus ada di rumah.

Namun, sambungnya, masih banyak anak dan orang tua yang tidak sadar bahaya meng­intai dari aktivitas pada med­sos. Di antaranya, sepak terjang predator seksual anak yang mengintai dari medsos.

“Ini yang harus betul-betul dipahami dan diketahui oleh orang tua. Ketika mereka ber­medsos, ada kemungkinan bahaya mengintai dan me­nyasar anak. Misalnya preda­tor seksual,” jelasnya.

“(Mereka, red) Mengintai anak melalui pesan langsung, direct message di medsos. Membangun interaksi ke arah aksinya. Ini yang banyak orang tua kurang awas. Sayangnya juga banyak anak-anak tidak tahu cara melindungi diri dari aksi tersebut,” imbuh Sumedi.

Baca Juga  Paslon Harus Daftarkan Medsos untuk Kampanye

Meski begitu, lanjutnya, ba­haya tidak hanya muncul dari aktivitas bermedsos. Namun, juga kegiatan secara umum di internet. Dimana banyak konten kekerasan atau pornografi yang bisa diakses anak tanpa pengawasan orang tua.

Berkaca pada kejadian hi­langnya remaja di Bantarjati tersebut, KPAID Kota Bogor berharap orang tua bisa bijak dan tahu betul apa saja yang dilakukan anak dengan gad­get-nya. Termasuk bermedsos.

Anak juga diharapkan mam­pu berkata ‘tidak’ jika dimin­ta dan diajak pada situasi menuju kejahatan seksual. Ataupun tahu jika ada hal mencurigakan dari orang yang berkomunikasi dalam medsos.

“Kami siap fasilitasi, terma­suk anak-anak yang kecan­duan gadget atau terdampak aktivitas medsos. Di sini per­lunya pendampingan dan pengawasan orang tua. Ter­masuk ada kesepakatan ter­tentu dengan anak dalam menggunakan gadget atau bermedsos,” tuntasnya. (ryn/ feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published.