Ogah ke Senayan, Bima Arya Lebih Sreg Maju DKI 1 atau Jabar 1, Ini Alasannya

by -
Wali Kota Bogor Bima Arya. (Foto:Fadli/Metropolitan)

METROPOLITAN.id – Bagi Wali Kota Bogor Bima Arya, menyelesaikan berbagai persoalan di Kota Bogor menjadi yang lebih penting dan fokus utama di sisa masa jabatannya sebagai F1 ketimbang memikirkan karier politik selanjutnya.

“Buat saya, yang penting Pekerjaan Rumah (PR) di Kota Bogor semaksimal mungkin saya beresin dulu. Salah satunya masalah transportasi,” kata Bima Arya saat acara Metropolitan bertajuk ‘Ngopi : Ngobrol Padat Berisi, PR Bima Arya di Sisa Jabatan’, di Rumah Kreatif Metropolitan Graha Pena Radar Bogor, Kamis (12/5).

Apalagi, Kota Bogor salah satunya tengah fokus menggarap konversi angkot 3:1 menjadi bus melalui program Buy The Service (BTS) Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) yang meluncurkan Biskita Transpakuan.

“Kan baru ada 47 unit bus yang ngaspal. Sudah ada 150-an angkot yang hilang dijalan. Kita pengen 2024 kalau bisa hilang semua. Tapi setidaknya terus berkurang lah dengan konversi bus itu,” tukasnya.

Baca Juga  Bima Janji Akhir Januari Lahan R3 Dibayar

Selain itu, program ini sedikit terganggu dengan mundurnya Direktur Perumda Jasa Transportasi Lies Permana Lestari, sebagai salah satu pengelola Biskita Transpakuan.

“Artinya saya akan fokus dulu di kota Bogor. Begitu selesai, nanti akan saya putuskan kemana. Salah satunya capaian di Bogor. Kalau itu maksimal, melangkah kemana pun enak,” ujarnya.

Ditanya kemana akan melangkah jika pilihannya maju sebagai anggota DPR RI, gubernur Jawa Barat atau gubernur DKI Jakarta, Bima Arya menegaskan bahwa hal itu akan sangat bergantung pada capaian di Kota Bogor.

Yang pasti jika diberi tiga pilihan tersebut, ia menyatakan diri enggan maju untuk melenggang ke Senayan alias menjadi anggota DPR RI dan lebih memilih maju ke DKI 1 atau Jabar 1.

Baca Juga  Bima Arya Ajak Peserta Belajar dan Bergaul

“Kalau pilihannya ke (gubernur) DKI, (gubernur) Jabar atau DPR RI, ya (kalau) DPR RI saya nggak. Rasanya saya lebih sreg bisa langsung membuat kebijakan. Sedangkan DKI dan Jabar, sama sama strategis,” ujar Bima Arya.

Menurutnya, DKI Jakarta sebentar lagi tidak lagi menjadi ibukota negara, tapi tetap jadi magnet untuk pusat ekonomi bisnis dan perdagangan.

Buatnya, DKI Jakarta harus tetap jadi wilayah megapolitan yang terintegrasi dengan Depok, Tangerang, Bekasi, Depok dan Bogor juga sekitarnya.

“Ini kan jadi megapolitan terbesar di dunia setelah Tokyo. Bayangkan, berapa triliunan uang yang bakal mensejahterakan masyarakat. Itu DKI,” paparnya.

Kalau Jabar, sambung dia, merupakan provinsi terpadat dan etnis terbesar kedua di Indonesia dengan berbagai potensi wisata, pedesaan dan lainnya.

Baca Juga  HIPMI Kota Bogor Siap Cetak Mahasiswa Jadi Pengusaha Muda

Kedua hal ini, kata Bima, jika digarap maksimal dan keluar dari jebakan politik hingga perbedaan yang sifatnya konflik kepentingan, maka bisa mensejahterakan warga.

“Jadi dua-duanya kemana yang lebih menarik? Ya namanya politik, banyak variabel. Kira-kira menurut saya, baru akan lebih jelas di awal 2024. Saya akan fokus dulu di Kota Bogor, begitu selesai nanti akan saya putuskan kemana. Sangat tergantung pada hasil pilpres, pileg, juga capaian di Bogor. Kalau itu maksimal, melangkah kemana pun enak,” tuntasnya. (ryn)

Leave a Reply

Your email address will not be published.