Cerita Mantan Warga Baduy Dalam Rela Dijatuhi Hukuman Adat demi Nikahi Pujaan Hati

by -

METROPOLITAN.id – Cinta itu buta. Perumpamaan itu nampaknya tepat dialami Sarta (32). Warga Kampung Cibogo, Baduy Luar, Kabupaten Lebak, Banten itu rela dijatuhi hukuman dan keluar dari Kampung Baduy Dalam hanya demi menikahi pujaan hatinya.

Tujuh tahun sebelumnya Sarta ini masih merupakan warga Kampung Baduy Dalam. Ia memutuskan keluar dari tempat kelahirannya karena tidak ingin dijodohkan dengan wanita yang bukan pilihannya.

Awalnya, Sarta dijodohkan dengan wanita pilihan orang tuanya. Sementara, ia sendiri sudah mempunyai tambatan hati lainnya.

Di tengah permintaan perjodohan itu, Sarta memberanikan diri menolak perjodohan itu dan meminta dinikahkan dengan wanita pilihannya, yakni Sapah.

Namun apa daya, permintaan tersebut tetap ditolak orang tuanya. Sarta pun kecewa. Apalagi, Sapah memiliki perasaan yang sama dan siap dinikahi oleh Sarta.

Baca Juga  Rocky Gerung Kuasai Lahan Sentul City, Usep Supratman: Lahan Garapan Harusnya Jangan Dibangun

Atas penolakan itu, Sarta pun memutuskan untuk pergi dari Kampung Baduy Dalam dan menikahi Sapah di Kampung Baduy Luar. Sapah sendiri awalnya merupakan warga Kampung Baduy Dalam.

“Saya sudah minta ke orang tua untuk dinikahin, cuma tidak diterima, sementara istri (Sapah) mau, akhirnya kita nikah diluar,” kata Sarta kepada Metropolitan.id, Senin (27/6).

“Istri pengennya sama saya, dan dari pada pusing saya bawa keluar saja, diluar (Kampung Baduy Luar) pun masih ada keluarga,” sambungnya.

Meski begitu, keputusan Sarta menikah dan membawa Sapah keluar dari Kampung Baduy Dalam bukanlah perkara mudah, yang selesai hanya begitu saja. Keduanya pun harus dijatuhi hukuman adat, karena telah melanggar perintah orang tua.

Baca Juga  Ibis Styles Bogor Pajajaran Berbagi dengan Panti Asuhan Abba

“Iya kena hukuman adat. Tapi bukan pelanggaran berat, cuma hitungannya bandel saja,” ucap Sarta.

Diakui Sarta, memang prinsip pernikahan di Kampung Baduy Dalam masih bergantung dengan keputusan orang tua, atau dijodohkan.

Sehingga, warga yang memutuskan untuk keluar dari Kampung Baduy Dalam bukan hanya dilakukannya seorang, rekan-rekannya pun ada yang melakukan hal sama.

“Sebenarnya banyak sih bukan saya saja, ada 5 orang yang seperti saya, keluar karena dijodihin orang tua,” imbuh Sarta.

“Tapi, untuk saat ini kalau pun saya mau balik lagi ke Kampung Baduy Dalam bisa saja, karena silaturahmi dengan orang tua sampai saat ini masih tetap terjaga, istri juga sering dibawa kesana,” ungkapnya.

Baca Juga  Panik Wajahnya Terekam CCTV, Pencuri Kembalikan Tas Penumpang Biskita Transpakuan

“Asalkan, saya dan keluarga mau mengikuti proses adat, seperti minta izin dulu ke Puun disana, semacam pengampunan atau bertobat,” lanjut dia.

“Karena kan kalau disana kita bener-bener harus mengikuti aturan. Seperti yang sudah biasa dilakukan disini (Kampung Baduy Luar) mengenal rokok, naik kendaraan dan sebagainya itu tidak diperbolehkan, kalau di dalam kan (Kampung Baduy Dalam) bener-bener kental aturannya,” tandasnya. (rez) 

Leave a Reply

Your email address will not be published.