Harga-Harga Mulai Naik, Indonesia Memasuki Krisis?

by -

METROPOLITAN – Krisis ekonomi di Sri Lanka berpo­tensi menjalar ke Indonesia. Ditambah lagi harga-harga kebutuhan pokok di Indone­sia mulai naik secara perlahan.

Tim ekonomi yang dipercaya Presiden Joko Widodo (Jo­kowi) harus bekerja keras dan ekstra hati-hati dalam situasi seperti ini.

”Kondisi saat ini, membuat para menteri tidak bisa santai. Semuanya harus kerja keras dan cerdas,” kata Presiden Direktur Centre for Banking Crisis (CBC), A Deni Daruri, Rabu (29/6).

Namun, Deni mengaku pe­simis dengan kinerja tim eko­nomi. Terlalu banyak politisi sehingga lebih mencerminkan bagi-bagi kursi, ketimbang profesionalitas. Sementara tantangannya cukup berisiko.

Deni menuturkan, upaya membangun perekonomian yang kuat diperlukan orang yang tepat. Artinya, profesio­nalisme dalam birokrasi men­jadi wajib hukumnya.

”Indonesia perlu kembali ke paham the right man on the right job. Karena masa­lahnya adalah masalah eko­nomi maka perbanyak men­teri yang paham ekonomi,” tuturnya.

Baca Juga  Deposito Berjangka Di Bank Kota Bogor Lebih Untung

”Caranya sederhana, men­jadikan PhD economics lulu­san Ivy League atau univer­sitas non-Ivy yang memiliki kaliber yang sama seperti MIT, Berkeley, Davis, dan Stanford,” imbuh Deni.

Jika prinsip the right man on the right job dijalankan Jokowi, kata Deni, maka menteri-menteri di bidang ekonomi bisa mengambil keputusan dengan baik tanpa ikutan-ikutan negara lain.

Contohnya Jepang, bank sentralnya terus menerapkan quantitative easing, semen­tara bank sentral negara lain­nya semakin mengetatkan sektor moneter.

Deni menyebut krisis eko­nomi kali ini berbeda untuk setiap negara. Dimana sum­ber inflasi akibat mahalnya biaya (cost push inflation ). inflasi karena biaya kemun­gkinan disebabkan kenaikan biaya barang, atau jasa penting. Di mana, tidak ada alternatif yang sesuai.

Baca Juga  Jusuf Kalla : Ahok Terlalu Sering Meminta Maaf

Ketika bisnis menghadapi harga tinggi karena bahan baku, maka pengusaha ter­paksa menaikkan harga out­put. Salah satu contoh inflasi dorongan biaya adalah krisis minyak era 1970-an, yang oleh beberapa ekonom dipandang sebagai penyebab utama in­flasi global.

Padahal, lanjutnya, inflasi dihasilkan dari kenaikan harga minyak yang dipatok OPEC. Karena minyak bumi sangat penting bagi industri, kenaikan harga yang besar dapat menyebabkan kenaikan harga barang.

Beberapa ekonom berpenda­pat, kenaikan harga seperti saat ini, menaikkan tingkat inflasi dalam periode yang lebih lama. Sebab, ekspek­tasi adaptif dan spiral harga/ upah, sehingga guncangan penawaran dapat memiliki efek yang terus-menerus (stag­flation).

Untuk mengatasi hal ini, menurutnya, sangat mudah. Pemerintah harus berorien­tasi menciptakan sumber energi dengan biaya marginal sebesar nol.

Untuk itu pemerintah harus mengembangkan sumber energi berbasis matahari dan angin sehingga ketergan­tungan kepada energi fosil yang harganya meningkat dapat dieliminasi.

Baca Juga  Rayakan Ultah, Hotel Olympic Renotel Sentul Berbagi

Langkah kedua, lanjutnya, pemerintah harus mencipta­kan monopoli alamiah dalam produksi energi fosil dan ma­kanan. Terapkan harga sebe­sar biaya marginal yang paling murah.

Untuk menjalankan misi ini, maka Pemerintah dapat mengambil alih semua peru­sahaan batu bara, sehingga memiliki skala ekonomi yang sangat tinggi.

”Selain itu, pemerintah ha­rus mengambil alih semua usaha perkebunan termasuk kelapa sawit dan produksi CPO-nya, sehingga skala eko­nominya menjadi sangat be­sar,” ungkapnya.

Monopoli alami, tambah­nya, merupakan monopoli dalam industri. Di mana, biaya infrastruktur tinggi dan hambatan masuk lainnya relatif terhadap ukuran pasar. Memberikan pemasok ter­besar dalam suatu industri, seringkali pemasok pertama di pasar, keunggulan luar biasa atas pesaing potensial. (dtk/eka/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published.