Mau Sukses lewat UMKM, tak Cukup Andalkan Online

by -

METROPOLITAN – Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Me­nengah (UMKM) tidak cukup mengandalkan penjualan online jika ingin bertahan. Seiring meredanya pandemi Covid-19 penjualan fisik juga masih diperlukan.

Berdasarkan studi Sirclo, 74,5% konsumen masih ber­belanja baik offline dan on­line selama pandemi Covid-19. CEO dan co-founder Blibli, Kusumo Martanto mengata­kan bahwa masa depan retail setelah pandemi sebagai in­tegrasi antara kanal online dan offline, atau omnichannel.

Karenanya, Blibli terus mem­perkuat ekosistem omnichan­nel-nya diantaranya melalui Blibli InStore, Click and Col­lect, dan Blibli Mitra, yang menghubungkan operasi bisnis online dan offline dalam ekosistem yang terintegrasi bagi mitra ritel Blibli.

”Belanja omnichannel telah menjadi norma yang baru. Kita harus bisa siap untuk mem­berikan layanan omnichannel yang cepat dan tanpa cela,” kata Kusumo, Sabtu (18/6).

Baca Juga  Regional Wilayah Bogor Buka Registrasi Anggota

Namun, para konsumen juga sudah banyak yang be­ralih belanja online. Para konsumen di Indonesia meng­gunakan platform e-commer­ce untuk membeli kebutuhan sehari-hari baik dari UMKM maupun perusahaan-peru­sahaan besar selama pan­demi Covid-19.

”Selama pandemi, bagai­mana orang-orang menda­patkan sanitizer, masker, obat-obatan-di situlah kami me­mainkan peran besar,” katanya.

Selama pandemi, UMKM yang beralih ke kanal online memang bisa lebih bertahan. Berdasarkan penelitian pada 2021 yang dilakukan Blibli dengan Boston Consulting Group dan Kompas,

UMKM yang online bisa memiliki pendapatan 1,1 kali lebih tinggi dari UMKM yang hanya beroperasi offline.

Sementara UMKM yang online juga 2,1 kali lebih mun­gkin untuk menjual berbagai produk dalam skala nasional dan 4,6 kali lebih mungkin untuk mengekspor produknya ke luar negeri.

Baca Juga  Jokowi Dorong 52 Juta UMKM Masuk Bukalapak

Namun, proses digitalisasi di Indonesia bukannya tanpa tantangan. CEO Tiket.com, George Hendrata, menyatakan bahwa pelatihan untuk Sumber Daya Manusia (SDM) masih diperlukan untuk merealisa­sikan potensi digitalisasi.

Hal itu diamini Kepala Dep­uti Teknologi dan Konsumen Temasek, Fock Wai Hoong. Menurut Fock, berdasarkan survei Temasek bersama Goog­le, talenta SDM memang tetap menjadi hambatan besar untuk perkembangan teknologi.

”Ini menjadi tantangan un­tuk kita semua, bagaimana untuk berfokus untuk reskil­ling dan upskilling populasi pekerja kita sementara kita bersiap untuk berpartisipasi di internet economy,” pung­kasnya. (dtk/eka/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published.