Pabrik Tahu Berformalin di Bogor Bodong, Bakal Disegel Segera

by -

METROPOLITAN.id – Dua pabrik tahu berformalin di Parung, Kabupaten Bogor, yang diungkap Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI ternyata bodong alias belum mengantongi izin.

Fakta tersebut diungkapkan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Bogor, Dace Supriadi, Jumat (10/6).

Temuan itu juga bakal langsung dilaporkan ke bupati Bogor untuk ditindaklanjuti segera.

“Tidak memiliki izin untuk bangunannya. Ini akan dilaporkan ke bupati karena berbahaya untuk masyarakat,” ujar Dace.

Selain tidak mengantongi izin mendirikan bangunan (IMB), dua pabrik tahun berformalin iti tidak memiliki izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dari Dinas Kesehatan.

Pabrik yang terletak di Desa Waru dan Desa Waru Kaum, Kecamatan Parung ini hanya memiliki Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP). Izin tersebut bukanlah izin untuk memproduksi, hanya digunakan untuk keperluan distribusi produk.

Baca Juga  Pemotor yang Tewas diduga Tergencet Truk Pasir di Bogor Merupakan PNS

“Berdasarkan data di dinas yang bersangkutan, produksi tahu ini hanya memiliki surat izin perdagangan sejak 9 maret 2019,” ungkapnya.

Selanjutnya, pihaknya bersama instansi lain akan berkoordinasi untuk melakukan penyegelan terhadap dua pabrik tahu tersebut. Rencananya, penyegelan akan dilakukan pada Senin, (13/6).

Sebelumnya, BPOM RI mengungkap adanya produksi tahu berformalin di dua pabrik tahu di wilayah Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor.

Pabrik tersebut ternyata memiliki omzet fantastis. Dalan setahun, kedua pabrik tersebut bisa meraup untung hingga miliaran rupiah.

“Produksinya itu 1 sampai 2 ton, kemudian (omzetnya) Rp2 – 3,5 miliar per tahun. Kalau pabrik ini Rp1,5 M (omzetnya), produksinya per hari itu 700 kiliogram kalau di sini,” ujar Kepala BPOM RI, Penny K Lukito saat konferensi pers di lokasi pabrik di Desa Waru Kaum, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, Jumat (10/6).

Baca Juga  Rela Diberhentikan Soeharto dari Jabatan Kapolri Demi Bela Kebenaran

Menurutnya, tahu-tahu tersebut disebar ke sejumlah pasar yang ada di Bogor, Tangerang, hinga Jakarta.

“Ini temuan yang cukup besar. Penggunaan bahan berbahaya di jalur pangan,” ungkapnya.

Pihaknya juga menyita sekitar 1.500 tahu berformalin yang siap edar dari pabrik tersebut. Selanjutnya, kedua pabrik tersebut ditutup dan tidak diperkenankan melakukan produksi.

Pihaknya juga mengamankan dua pemilik pabrik berinisial S (35) dan N (45). Keduanya bakal ditetapkan sebagai tersangka.

“Di Undang-undang pangan, sanksinya bisa lima tahun penjara atau denda Rp10 miliar. Karena ini menggunakan bahan berhaya untuk pangan,” terangnya.

Menurut Penny, pihaknya telah melakukan pengawasan intensif di tempat pengolahan pangan di 10 provinsi sejak awal 2022. Ia pun menyayangkan masih ada pabrik bandel yang menggunakan formalin sebagai campuran bahan pangan.

Baca Juga  Tak Hanya Bangun Jalan, Kodim Bogor Geber Pembangunan Non Fisik

Padahal, sejak 2016 lalu, pemerintah melarang formalin untuk masuk ke jalur pengolahan pangan. Pemanfaatan formalin hanya dibolehkan untuk kebutuhan non-pangan, seperti produksi kayu dan pengawetan jenazah.

“Untuk itu sanksi akan kita tegakkan lebih tegas lagi,” tandasnya. (fin)

Leave a Reply

Your email address will not be published.