Sebut Konser 3 Hari di Kebun Raya Bogor Tidak Santun dan Tidak Beradab, Budayawan : Di Dalam Ada Makam Bersejarah Warga Bogor!

by -
Situasi konser 3 hari di Kebun Raya Bogor, beberapa waktu lalu. (Foto:Fadli/Metropolitan)

METROPOLITAN.id – Polemik konser tiga hari yang digelar Swaraya di Kebun Raya Bogor (KRB) memantik reaksi warganet, ketua DPRD Kota Bogor hingga Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) terkait buruknya penyelenggaraan hingga berakibat rusaknya tumbuhan di Kebun Raya Bogor.

Kecaman serupa juga dilontarkan Budayawan Bogor, Tjetjep Toriq. Buatnya, mengadakan konser di dalam Kebun Raya Bogor yang berakibat rusaknya ekosistem.

Ia mengaku tidak aneh lantaran sejatinya Kebun Raya Bogor merupakan tempat untuk penelitian atau konservasi dan bukan untuk tempat konser.

Tjetjep tak segan menyebut penyelenggaran konser selama 3 hari di dalam Kebun Raya Bogor merupakan perbuatan yang tidak santun dan tidak beradab lantaran seperti tidak ada tempat lain saja yang lebih pas untuk gelaran konser.

“Tidak santun dan tidak beradab. Kita tahu semua Kebun Raya Bogor itu bukan untuk konser tapi untuk penelitian atau konservasi. Kayak nggak ada tempat lain saja,” katanya kepada awak media, Rabu (29/6).

Selain itu, sambung dia, di dalam Kebun Raya Bogor terdapat peninggalan sejarah masyarakat Bogor berupa lima makam sepuh yang sangat dihormati masyarakat Sunda pada umumnya serta khususnya warga Bogor.

Baca Juga  BOR Hanya 10,9 Persen, Kota Bogor Kekeuh Pertahankan Operasional RS Perluasan

“Sebagai masyarakat Sunda, kami protes keras dengan kejadian itu. Dan yang jadi pertanyaan, siapa yang memberi izinnya? Bagaimana yang memberi izin, apakah tidak tahu atau pura-pura tidak tahu,” ketusnya.

“Sekali lagi kami protes keras dan minta pertanggung jawaban atas kerusakan yang ditimbulkan hal tersebut (konser Swaraya). Mugia (Semoga,red) para sepuh tidak murka,” imbuh Tjetjep.

Apalagi, kejadian ini bukan pertama kali terjadi sehingga mengundang reaksi banyak pihak. Beberapa waktu lalu, Kebun Raya Bogor sempat membuka wahana wisata malam GLOW.

Wahana itu pun mengundang reaksi keras, bahkan para budayawan dan masyarakat Bogor menggelar aksi protes di depan pintu Kebun Raya Bogor.

Ia tak menampik jika masalah ini tidak terselesaikan apalagi terus mengadakan konser di dalam Kebun Raya Bogor, tidak menutup kemungkinan aksi serupa akan dilakukan.

“Masih dalam perumusan kang, bisa saja (protes dalam aksi demontrasi). Kami masih terus koordinasi dengan yang lain, yang tergabung dalam Aliansi Komunitas Budaya Jawa Barat,” tegasnya.

Sebelumnya, konser tiga hari yang digelar di Kebun Raya Bogor (KRB) pada akhir pekan lalu, rupanya berujung polemik.

Baca Juga  Meski Kota Bogor PPKM Level 1, Danrem Ingatkan Ini

Selain mengeluhkan kinerja panitia dan jalannya konser yang dinilai buruk, dampak lingkungan seperti rusaknya rumput pasca digunakan konser pun menarik perhatian publik.

Akun instagram KRB @kebunraya.id dan Pantia penyelenggara Swaraya @swaraya.id pun tak luput dari serangan warganet yang kecewa terhadap jalannya konser selama tiga hari tersebut.

Warganet berkomentar miring di akun Instagram @kebunraya.id, seperti @srizurcher yang kecewa soal parkir dan meminta Kebun Raya Bogor dikembalikan saja fungsi dan manfaat yang sesungguhnya, ketimbang menjadi tempat konser.

“Jumat lalu, pengunjung gak boleh parkir didalam,boleh parkir didalam jika beli voucher 100k dari resto Raasaa. Mohon kembalikan fungsi dan manfaat dari Kebun Raya yang sesungguhnya,” tulis @srizurcher.

Akun Instagram penyelenggara @swaraya.id pun tak luput dari ‘serangan’ warganet.

“kasian ya jadi rumput,” tulis @msetiajii.

“ngga beres emang nihh nyari cuan doangg,” @m_martin_f.

Kritik juga dilontarkan Ketua DPRD Kota Bogor Atang Trisnanto. Ia sangat menyayangkan ada sebuah acara yang diharapkan bisa memberikan apresiasi budaya atau karya seni dan meningkatkan perekonomian, justru menambah polemik.

Mulai dari masalah keberadaan kelestarian lingkungan maupun dalam sisi identitas Kebun Raya Bogor itu sendiri sebagai budaya Bogor yang harus dijunjung tinggi.

Baca Juga  Jelang Akhir Tahun, PAD Kota Bogor Capai Rp914 M, Pajak Hiburan Paling Jeblok

“Saya kira ini kita kembali kan lagi fungsi KRB yang lama, terutama koservasi ekologi dan budaya,” ujarnya.

Saat dikonfirmasi, General Manager Corporate Communication dan Security PT MNR Kebun Raya Bogor, Zaenal Arifin menegaskan bahwa Swaraya merupakan salah satu program kampanye Kebun Raya Bogor untuk mendekatkan diri kepada generasi muda melalui bahasa yang mudah diterima oleh mereka.

Pada program ini, kata dia, pesan konservasi dan edukasi dikemas sehingga mudah diterima oleh mereka.

“Pertunjukan musik bukan yang utama yang paling penting pesan konservasi yang disampaikan, pembagian bibit tanaman, kultur jaringan, dan anggrek serta edukasi tumbuhan yang utama,” katanya kepada Metropolitan.id, Senin (27/6) sore.

Memang, ia membenarkan ada beberapa rumput mengalami kerusakan. Menurutnya, kondisi alam faktor rumput prefentif sudah dilakukan dan diperhitungkan. Termasuk membatasi pohon koleksi dengan pagar pelindung.

“50 pekerja kita siapkan untuk membersihkan sampah dan kebersihan. Perbaikan rumput diperkirakan 4 hingga 5 hari kedepan,” tuntas Zaenal. (ryn)

Leave a Reply

Your email address will not be published.