Wisatawan Timur Tengah Sepi, Pelaku Usaha Puncak Menjerit

by -

METROPOLITAN – Kebija­kan pelonggaran Pemberla­kuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 1 masih membuat para pengu­saha restoran dan kafe, khu­susnya ala Timur Tengah yang berada di kawasan Kampung Arab, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, masih sepi pengunjung.

Restoran dan kafe bertulis­kan aksara Arab itu tampak sepi pengunjung dampak kebijakan PPKM. Sebelum pandemi, biasanya ramai dikunjungi wisatawan Timur Tengah di musim jelang Idul Adha.

Salah seorang penjaga kea­manan restoran di Puncak, Purwo, mengatakan bahwa selama pandemi jalan terlihat lengang, serta aktivitas jual-beli terlihat sepi. Biasanya banyak yang bertransaksi dengan bahasa Arab.

”Jadi bukan hanya restoran dan kafe saja, para penjual kambing juga hampir banyak yang gulung tikar lantaran sepi wisatawan Timur Tengah yang datang berlibur ke ka­wasan Puncak ini,” ujarnya.

Baca Juga  Tips Pintar Mencari Tempat Makan

Ia berharap pemerintah se­cepatnya memberi kelong­garan peraturan dan turis dari Timur Tengah tidak dip­ersulit masuk Indonesia. Jangan dilihat dari sisi jeleknya saja. Setidaknya mereka bisa memberikan dampak baik, khususnya untuk ekonomi masyarakat di Puncak.

Terpisah, Kepala Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, M Eko Windiana, mengaku menerima kabar gembira ba­hwa wisatawan dari Arab Saudi sudah bisa masuk In­donesia.

“Hal positif yang kami te­rima dari Desa Tugu Selatan, karena memang selama ini masyarakat kami pelaku pa­riwisata yang berhubungan langsung dengan wisatawan Timur Tengah. Selama pan­demi yang terjadi di Indone­sia selama dua tahun ini hampir terjun bebas dalam hal ekonomi,” katanya.

Dengan kabar serta infor­masi Pemerintah Arab Saudi, lanjutnya, sudah bisa mem­berikan ruang untuk bisa kembali berwisata ke kawasan Puncak, khususnya Desa Tugu Selatan. Ini menjadi kabar gembira untuk seluruh pelaku usaha pariwisata.

Baca Juga  Arus Balik Wisatawan Puncak Bogor Diprediksi Sore Ini

“Menanggapi hal tersebut, kami akan coba melakukan komunikasi dan pengawasan dengan seluruh stakeholder yang bersentuhan langsung dengan wisatawan seperti Hadama, Tour Guider, serta taksi yang ada di wilayah kami yang notebenenya semua pelaku adalah warga Desa Tugu Selatan, termasuk para pengelola vila dan para pen­jaga vila,” tutupnya. (jal/suf/ run)

Leave a Reply

Your email address will not be published.