Ada 2.767 ODGJ di Bogor, Dinsos Tingkatkan Stadar Pelayanan

by -

METROPOLITAN.id – Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bogor mencatat ada 2.767 ada penyandang disabilitas mental atau Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) hingga 2022.

Saat ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor melalui Dinsos dan UPT Balai Kesejahteraan Sosial terus meningkatkan standar pelayanan untuk mereka agar mendapat layanan kesehatan yang semakin baik.

Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial pads Dinsos Kabupaten Bogor, Dian Mulyadiansyah tak memungkiri awalnya mereka kesulitan mendapatkan akses kependudukan.

Padahal, untuk mendapatkan akses-akses bantuan perlindungan sosial dasar, salah satu syaratnya adalah mereka harus punya administrasi kependudukan.

“Makanya kita dorong ke keluarga untuk dimasukan dalam Kartu Keluarga (KK), sehingga mereka memiliki Nomor Induk Kependudukan (NIK),” ujar Dian, Senin (25/7).

Setelah itu, pihaknya kemudian merujuk ke rehabilitasi sosial, baik melalui pengobatan ataupun rujukan ke Rumah Sakit Marzoeki Mahdi di Kota Bogor untuk mendapatkan pelayanan medis bersama Dinas Kesehatan dan Puskesmas di bidang kesehatan jiwa.

Baca Juga  4.507 Warga Bogor Gagal Divaksin

Menurutnya, yang sudah dalam proses rehabilitasi medis jumlahnya hampir setengah dari jumlah tersebut.

“Mereka sudah secara rutin melakukan pengobatan dengan didampingi para pendamping disabilitas mental,” ungkapnya.

Di tahun 2021 lalu, Pemkab Bogor melalui Dinsos telah mendorong mereka untuk mendapatkan bantuan sosial berupa modal usaha bagi 136 penyandang disabilitas mental yang sudah dianggap mampu berusaha di bidang usaha.

Bantuan tersebut sesuai kemampuannya, seperti jualan sembako, ternak perikanan, dan ada yang di peternakan domba.

Kepala UPT Balai Kesejahteraan Sosial Kabupaten Bogor, Fitri Sri Wahyuni menjelaskan, penyandang disabilitas mental harus ditangani secara intensif dan berkelanjutan. Tujuannya, agar mereka mampu kembali menjalankan fungsi sosialnya secara wajar dalam kehidupan masyarakat.

“Jadi yang kami temui ya rata-rata yang sakit, eks ODGJ, yang dukanya itu kadang mereka tidak diterima sama keluarga. Tempat ini adalah shelter, staff di sini tugasnya selain assessment, juga psikososial ya, jadi pendekatan-pendekatan kepada klien. Jadi, setiap pagi kita ada kegiatan rutin kaya senam, kalau lansia kan belum bisa senam ya, paling kita ajak belajar jalan biar mereka bisa mandiri, ya karena tadi itu target kita kan yang ngerujuk ke panti kan harus mandiri ya,” jelas Fitri.

Baca Juga  Setelah Populer di Instagram 5 Destinasi Wisata Dunia Ini Rusak

Fitri menerangkan, jika sudah ada yang kelihatan pulih dan tidak tahu keluarganya di mana, akhirnya dirujuk ke panti.

“Beda halnya kalau ada keluarganya yang mau jemput.,” sambungnya.

Di samping itu, upaya lain yang tak kalah penting yang dilakukan UPT Balai Kesejahteraan Sosial Kabupaten Bogor adalah pemberdayaan ODGJ. Tujuannya, agar mereka dapat hidup mandiri, produktif, dan percaya diri di tengah masyarakat, bebas dari stigma, diskriminasi atau rasa takut, malu serta ragu-ragu.

Namun, upaya ini sangat ditentukan oleh kepedulian keluarga dan masyarakat di sekitarnya.

“Alhamdulillah sih sembuh mereka, rata-rata kan eks ODGJ ya. Akhirnya ada yang dua tahun di sini, ada yang ketemu keluarganya, hari ini juga ada yang akan dijemput keluarganya pulang ke Ciputat Tangerang, bahkan kemarin ada yang ke sini untuk mengajarkan mereka kerajinan tangan, membuat dompet, dan lain-lain,” kata Fitri.

Baca Juga  Justin Bieber Punya Pacar Baru?

Ia pun berharap seluruh lapisan masyarakat dapat mendukung upaya dalam memberikan pelayanan kesehatan jiwa terbaik kepada masyarakat.

“Stigmatisasi dan diskriminasi terhadap siapapun juga harus dihapuskan agar tidak berdampak pada munculnya berbagai masalah sosial, ekonomi, dan keamanan di masyarakat,” pungkasnya. (fin)

Leave a Reply

Your email address will not be published.