Eks Karyawan Jungleland Tuntut Gaji dan Pesangon, Minta Ganti Untung Rp5 Miliar

by -

Puluhan eks karyawan Jungleland Adventure (JLA) Sentul, Kabupaten Bogor, kembali mendatangi kantor Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Bogor, Rabu (20/7). Mereka menuntut upah dan pesangon selama bekerja ditunaikan manajemen Jungleland.

KETUA Tim eks Karyawan JLA Sentul, Subandi, bersama 22 mantan karyawan Jungle­land menuntut atas haknya yang belum terbayar hampir dua tahun. Menurutnya, tun­tutan tersebut sudah berjalan satu tahun. Namun hingga saat ini belum ada kejelasan.

Subandi menjelaskan, ke­datangannya bersama eks karyawan Jungleland ke Dis­naker untuk mengikuti me­diasi ketiga yang difasilitasi Disnaker Kabupaten Bogor. Namun, ia mengaku mana­jemen Jungleland tak hadir sehingga mediasi yang dijad­walkan hari ini harus diundur. Sontak, hal itu membuat eks karyawan yang sedang mem­perjuangkan haknya kecewa.

“Kita kecewa dengan keti­dakhadiran perwakilan ma­najemen JLA Sentul yang seharusnya hadir dalam me­diasi hari ini, tapi tidak ada kabar yang jelas sampai wak­tu mediasi ketiga digelar,” ujarnya, Rabu (20/7).

Menurutnya, mediasi ketiga atau terakhir ini semestinya sudah menghasilkan kesepa­katan bersama atau perjanjian luar biasa dengan disaksikan Disnaker. Dengan ketidakha­diran manajemen, ia dan rekan-rekannya terpaksa ha­rus kembali menunggu hing­ga pekan depan. “Kita selaku mantan eks karyawan JLA Sentul saat ini hanya menuntut hak-hak kita atas upah dan pesangon yang belum dibay­arkan manajemen Jungleland Adventure terhitung hampir 2 tahun,” ungkapnya.

Baca Juga  34 Wahana Jungleland Bikin Seru

Subandi menjelaskan, pe­sangon serta upah dirinya beserta 22 eks karyawan JLA lainnya jika ditotal jumlahnya mencapai Rp5 miliar lebih. Meski sebelumnya sudah ada outstanding yang telah dise­pakati pihak Jungeland bebe­rapa waktu lalu dengan mem­bayar seluruh upah dan pe­sangon mantan eks karyawan­nya yang berjumlah sekitar 400 orang dengan mencicil tiap bulan, dirinya mengaku menolak hal tersebut.

Alasannya, proses mencicil tersebut memakan waktu sangat lama karena per bulan­nya hanya sekitar Rp500 ribu.

“Sementara akumulasi total yang mesti mereka bayarkan ke saya saja di angka Rp316 juta kurang lebih, mau sampai kapan beresnya. Padahal dari outstanding waktu itu, yang mestinya JLA mencicil pesangon dan upah eks ka­ryawannya ada 400 orang, tapi pelaksanaannya mereka sudah tidak komitmen. Ma­kanya saya menolak dicicil dan saya dalam hal ini ber­sama 22 eks karyawan JLA lainnya hanya menuntut hak kita sesuai peraturan yang ada,” ungkapnya.

Baca Juga  Gus Yaqut Kunjungi JungleLand Bogor, Titi Pesan ke Orang Tua

Di tempat yang sama, kuasa hukum 23 eks karyawan JLA Sentul dari Law Firm Odie Hudiyanto & Partner’s, Mila Ayu Dewata Sari, mengatakan, eks karyawan Jungeland sam­pai saat ini masih menderita karena tidak ada kepastian pembayaran atas pesangon dan upah yang tertunggak selama hampir dua tahun.

“Subandi dan kawan-kawan adalah kelompok pertama yang berani melawan dan menuntut hak mereka. Me­reka sejak Februari 2020 tidak dibayar upahnya oleh Jung­leland dan selanjutnya peru­sahaan melakukan pemutusan hubungan kerja sejak Juni 2020 tanpa alasan yang sesuai ke­tentuan aturan ketenagaker­jaan,” bebernya.

Saat perusahaan menghen­tikan operasionalnya, peru­sahaan tidak membuat kese­pakatan dengan pekerja ten­tang pelaksanaan waktu kerja dan pengupahan, seba­gaimana yang diamanatkan dalam Surat Edaran Nomor M/3/HK.04/III/2020 tentang Perlindungan Pekerja dan Kelangsungan Usaha dalam Pencegahan dan Penanggu­langan Covid-19.

Baginya, hal tersebut sang­at bertentangan dengan atu­ran yang dibuat Menteri Ke­tenagakerjaan yang telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor M/3/HK.04/III/2020 tentang Perlindungan Pe­kerja dan Kelangsungan Usaha dalam Pencegahan dan Penanggulangan Covid-19.

Baca Juga  Cemari Sungai Cianten, DKP bakal Disemprot

“Saya harap dengan adanya gugatan oleh klien kita ini dapat menghasilkan sesuai harapan sebagaimana mes­tinya,” tuturnya.

Selain itu, Mila juga meny­ayangkan ketidakhadiran manajemen JLA pada medi­asi yang semula dijadwalkan hari ini pukul 10:00 WIB. Ia menilai pihak JLA menyepele­kan para kliennya yang dulu pernah ikut membesarkan perusahaan tersebut.

“Padahal dari hasil mediasi kedua beberapa waktu lalu, sudah terdapat titik temu, tinggal disepakati melalui mediasi ketiga ini mau di­bawa ke mana dan seperti apa kasus ini. Apalagi, saya pri­badi kasihan melihat teman-teman yang sudah datang dari jauh untuk mediasi ke­tiga tapi harus diundur me­diasinya di kantor Disnaker Kabupaten Bogor. Kalau me­mang tidak hadir, pihak JLA Sentul seharusnya konfir­masi ke saya selaku kuasa hukum rekan-rekan eks ka­ryawan JLA. Kan mereka su­dah punya nomor kontak saya. Apa perlu kasus ini kita bawa ke tingkat Pengadilan Hu­bungan Industrial (PHI),” tandasnya. (fin/eka/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published.