Harga Rumah Mahal dan Bunga Tinggi Ancam Milenial RI

by -

METROPOLITAN – Masy­arakat dinilai akan sulit punya rumah lantaran mahalnya harga lahan, bahan baku atau material sampai suku bunga yang segera naik.

Direktur CELIOS Bhima Yudhistira Adhinegara menga­mini proyeksi jika anak muda di Indonesia akan makin su­sah punya rumah. Terlebih bagi mereka yang masih pu­nya tanggungan untuk kelu­arga.

”Apalagi anak muda yang baru mulai berkeluarga. Me­reka akan dijepit sana-sini menjadi sandwich generation,” kata Bhima, Sabtu (9/7).

Hal itu, menurut Bhima, karena banyaknya tekanan yang ada dari perekonomian. Seperti ancaman inflasi atau kenaikan harga, ancaman tingginya suku bunga.

”Imbas inflasi yang naik maka BI harus menaikkan suku bunga 25 bps untuk men­jaga stabilitas kurs rupiah. Kenaikan bunga KPR khus­usnya bunga floating ini akan menjadi pertimbangan calon debitur untuk membeli rumah,” ujarnya.

Baca Juga  Pemasok Kue Kantongi Omzet RP100 Juta

Bunga fixed ini adalah bunga tetap yang diberikan bank dalam jangka waktu tertentu. Jika bunga fixed ini sudah habis, maka bank akan mem­berlakukan floating rate atau suku bunga mengambang. Jadi bunga akan berubah mengikuti pergerakan bunga di pasar.

Nah, jika bunga naik maka bunga KPR akan mengikuti naik. Jika turun, ada kemun­gkinan cicilan juga turun.

Dikutip dari Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia (BI), harga di pasar primer kuartal I-2022 tercatat 1,77% atau lebih tinggi dari periode kuartal sebelumnya 1,47%.

Properti residensial adalah properti yang digunakan un­tuk hunian atau tempat ting­gal seperti rumah atau peru­mahan, rumah susun, sampai apartemen.

Baca Juga  Digoyang Gempa, Pemkab Solok Selatan Tanggap Darurat 2 Minggu

Kenaikan Indeks Harga Pro­perti Residensial (IHPR) ter­jadi pada seluruh tipe rumah yaitu tipe kecil 2,01% diban­dingkan periode kuartal se­belumnya 1,99%, tipe men­engah tercatat 2,18% dibanding kuartal sebelumnya 1,48% dan tipe besar 1,11% dibanding sebelumnya 0,93%.

Peningkatan pertumbuhan IHPR kuartal I-2022 didorong penyesuaian harga yang dila­kukan developer sejak awal tahun 2022 dengan berlakunya insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) satu namun be­sarnya dikurangi secara teru­kur (tapering) dibandingkan 2021.

Dikutip dari laman btnpro­perti.co.id, harga rumah susun nonsubsidi di Tanjung Barat, Jakarta Selatan mencapai Rp 700 juta. Kemudian harga rumah komersil di Kabupaten Bogor mulai dari Rp500 ju­taan. Lalu rumah nonsubsidi di Depok mulai dari Rp400 jutaan.

Baca Juga  Pameran Properti makin Dihidupkan

Selanjutnya rumah di Kota Tangerang mulai dari Rp500 jutaan. Sedangkan Tangerang Selatan mulai dari Rp370 ju­taan. (dtk/eka/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published.