Miris! Kasus Pelecehan Seksual Menggurita

by -

Kasus pelecehan seksual terus terulang dan kembali menambah daftar korban. Belakangan, banyak kasus kekerasan seksual mencuat ke publik. Para pelaku melancarkan aksinya di ruang publik. Mulai dari angkot, stasiun, hingga institusi pendidikan.

WARGA Citayam, AF, men­jadi salah satu korban pele­cehan seksual di angkot. AF pun mengungkapkan krono­logi peristiwa tidak mengenak­kan yang dialaminya. Peris­tiwa itu terjadi pada Senin (4/7), ketika ia hendak berang­kat kerja di kawasan Kuning­an, Jakarta Selatan.

”Mau berangkat kerja. Ka­rena saya domisili di Citayam, jadi naik kereta jurusan Ja­karta-Kota, turun di (Stasiun, red) Tebet,” kata AF, Kamis (7/7).

Dari Stasiun Tebet, AF naik angkot nomor 44 yang menga­rah ke Kuningan. Dalam ang­kutan terdapat empat penum­pang, termasuk pelaku dan AF. Ketika itu, pelaku duduk di pojok kanan bersamping­an dengan korban. Saat itu, AF merasa ada yang meraba bagian dadanya.

”Aku make sure dengan me­lihat ke arah kanan dan men­coba menepis. Ternyata benar ada tangan. Dari situ saya langsung refleks pindah bang­ku dan inisiatif ambil hp un­tuk merekam wajah pelaku,” kata AF.

Namun, AF menyayangkan saat kejadian itu tidak ada yang menolong atau membantunya. Bahkan, saat AF masih ber­sampingan dengan pelaku, ia sudah berteriak.

AF merupakan satu dari se­kian banyak korban yang mungkin pernah mengalami kasus serupa tapi hanya bung­kam.

Baca Juga  Bapak Tiri Malah Ketagihan...

Kasus dugaan pelecehan seksual lainnya juga dialami ibu rumah tangga berinisial LS (42) saat menunggu KRL di peron Stasiun Manggarai, Rabu (6/7) siang.

Kasus itu bermula saat LS tengah duduk di bangku ruang tunggu peron Stasiun Mang­garai, hendak pulang ke ru­mahnya di Ciputat, Tangerang Selatan.

Saat tengah duduk menung­gu bersama temannya, tiba-tiba terduga pelaku atas nama Dede Suhendar (32) yang berdiri di belakangnya me­nempelkan tangannya ke bahu LS. Seketika itu LS cu­riga dengan perilaku Dede, karena kondisi peron belum terlalu ramai.

Kendati demikian, LS belum berani teriak, takut hal itu dilakukan tak sengaja. Namun, setelah ia diam, Dede justru menjadi-jadi. Tanpa malu, Dede kemudian menempel­kan alat kelaminnya ke pung­gung LS yang berada di depan­nya. Atas tindakan Dede, seketika itu LS langsung me­negurnya. ”Hei! Ngapain kamu di belakang saya?” kata LS.

Karena tindakannya tertang­kap basah dan takut diamuk massa, Dede langsung lari meninggalkan korban.

Melihat Dede kabur, sejurus kemudian korban dan teman­nya langsung teriak dan mengejar pelaku yang lari di sepanjang peron.

Beruntung, berkat teriakan korban dan temannya, pela­ku berhasil diamankan petu­gas keamanan yang berjaga di ujung peron. Pelaku ke­mudian dibawa ke bagian keamanan Stasiun Mangga­rai.

Saat ditanya atas perbuatan yang dilakukannya, Dede mengaku khilaf dan baru per­tama kali melakukan pelece­han tersebut. Dede pun me­minta agar perbuatannya tak dilaporkan ke polisi.

Baca Juga  Kasus Pelecehan Oknum PNS KPU Kota Bogor Masih Gelap

“Saya baru pertama kali melakukan. Nggak tahu ke­napa tiba-tiba saya melakukan itu,” ucapnya memelas di ru­ang pemeriksaan.

Bukan hanya AF dan LS yang mendapat perlakuan tidak menyenangkan. Di Jawa Timur, aksi predator seks semakin liar hingga institusi pendidi­kan pun menjadi tempat ke­jadian perkara.

Mantan siswa SMA Selamat Pagi Indonesia (SPI) Kota Batu, Jawa Timur, yang men­jadi korban pelecehan sek­sual seorang motivator Juli­anto Eka Putra (JE), buka suara pada podcast Deddy Corbuzier, Rabu (6/7).

Dua wanita korban pelece­han seksual itu mengaku per­nah dilecehkan Julianto Eka Putra di gedung sekolah.

Sosok JE yang kini sudah ditetapkan sebagai terdakwa adalah pendiri sekolah terse­but. Dalam podcast berdu­rasi 55 menit itu, kedua korban membeberkan secara rinci bagaimana pelaku cabul itu melakukan aksi bejatnya ke­tika mereka masih duduk di bangku SMA.

Komisi Nasional Perlindun­gan Anak (Komnas PA) me­nyatakan terus mengawal persidangan kasus kekerasan seksual yang terjadi di Seko­lah SPI Kota Batu, Jawa Timur, dengan terdakwa JE yang merupakan pendiri SPI dan juga berprofesi sebagai mo­tivator.

Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait mengaku pi­haknya mengawal proses persidangan yang digelar tertutup di Pengadilan Ne­geri Malang tersebut.

”Kita harus kawal kasus ini. Jangan sampai dibiarkan. Karena anak-anak bisa men­jadi korban dari predator seperti yang dilakukan ter­dakwa JE,” kata Arist di Kota Malang, Jawa Timur, Rabu (6/7).

Baca Juga  Jawaban Admin Twitter Commuter Line Soal Aduan Pelecehan Seksual Tak Pantas, KAI Minta Maaf

Arist menegaskan Komnas PA sudah memberi pendam­pingan terhadap korban ke­kerasan seksual kurang lebih selama satu tahun. Ia berha­rap proses peradilan bisa berjalan dengan baik dan memberi keadilan kepada korban.

Bertalian dengan itu, Airst mengatakan, Komnas PA me­nyayangkan adanya seorang saksi ahli yang seharusnya memberi perlindungan ke­pada anak-anak korban ke­kerasan, tetapi pada kasus SPI Kota Batu memberi kesaksian untuk meringankan terdakwa.

”Saya kenal dengan beliau (saksi ahli itu, red), dia adalah aktivis anak yang seharusnya membela korban, bukan pelaku. Namun, memang itu hak hukum dari saksi ahli yang didatangkan,” katanya.

Sementara itu, pelaku pre­dator seks lainnya yang di­duga telah ’memangsa’ ba­nyak korban, buron hingga kini.

Moch Subchi Al Tsani (MSAT) alias Mas Bechi hingga dise­but-sebut menjadi salah satu aktor utama kasus pencabu­lan yang menimpa beberapa murid di Pondok Pesantren (Ponpes) Shiddiqiyyah di Desa Losari, Kecamatan Plo­so, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Mas Bechi tak lain adalah putra mursyid atau tokoh Pe­santren Shiddiqiyyah ber­nama Kiai Muchtar Mu’ti.

Kini, Mas Bechi ditetapkan sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO) oleh kepolisian yang hingga kini belum berhasil mengamankan terduga kasus pencabulan tersebut. (jp/feb/ run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *