Per Tahun Ada Sekitar 7.800 Ibu Meninggal Saat Melahirkan, 25 Ribu Bayi Lahir Meninggal

by -
Menkes Budi Gunadi Sadikin saat kampanye #AksiBergizi berupa pemberian tablet tambah darah (TTD) bagi remaja putri di SMK Negeri 1 Cibinong, Kabupaten Bogor, Kamis (21/7). (Ist)

METROPOLITAN.id – Menteri Kesehatan (Menkes) Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin menyebut kasus stunting, kematian ibu dan kematian anak masih cukup tinggi.

Hal itu disampaikannya saat kampanye #AksiBergizi berupa pemberian tablet tambah darah (TTD) bagi remaja putri di SMK Negeri 1 Cibinong, Kabupaten Bogor, Kamis (21/7).

“Kita lihat salah satu masalah kesehatan yang utama adalah stunting, kematian ibu dan kematian anak. Stunting kita tuh masih tinggi di atas 20 persen. Kematian ibu itu 7.800-an pertahun, kematian anak itu 25 ribu per tahun, itu yag mau kita turunkan,” ujar Budi.

Menurutnya, banyak kasus ibu yang meninggal diakibatkan karena masalah hipertensi. Untuk itu, rajin olahraga sangat penting untuk mencegahnya.

Baca Juga  Hanura Bangun Kekuatan Partai Dari Bawah

Kasus stunting, kematian ibu dan anak juga disebabkan karena kurang gizi. Untuk itu, asupan makanan dan gizi yang cukup sangat penting mencegah persoalan tersebut.

“Ketiga kematian ibu dan anak juga disebabkan karena anemia, kurang darah. Jadi mesti minum tablet tambah darah. Nah 3 program ini harus dijalankan, olahraga cukup supaya hipertensi turun, kemudian makan yg bergizi dan minum tablet tambah darah supaya tidak kekurangan darah,” ungkapnya.

Yang jelas, upaya menjangkau 5 juta ibu hamil dan 12 juta remaja yang memasuki masa subur itu tidak bisa dilakukan sendiri.

“Itu tidak mungkin kita lakukan sendiri. Harus dilakukan dengan model gerakan dimana masing-masing putri-putri ini mengerti harus menjaga kesehatan mereka. Itu sebabnya kita bikin program Aksi Bergizi sekarang,” sambungnya.

Baca Juga  Dishub Jabar: Pemkab Bogor dan Tangerang nggak Akur

Budi menargetkan ada 12 juta remaja putri (usia SMP/SMA) yang harus cukup gizi, tidak anemia dan cukup zat besi. Target tersebut diakuinya masih terus dikejar mengingat masih tingginya angka anemia di Indonesia.

“Masih kita kejar (target), sekarang masih tinggi, daerah sini saja masih 13 persen – 14 persen yang anemia. Makanya kalau anemia itu bisa stunting, bisa kematian ibu, bisa kematian anak. Kita mesti naikan kecukupannya. Diturunan dari 13 persen ke 10 persen dan semakin sedikit,” tandasnya. (fin)

Leave a Reply

Your email address will not be published.