Airlangga Sebut AS Sudah Masuk Jurang Resesi

by -

METROPOLITAN – Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan Ame­rika Serikat secara teknis sudah masuk jurang resesi. Hal itu menurutnya terjadi karena gejolak ekonomi glo­bal.

Menurutnya, rantai pasok ekonomi dunia masih ber­gejolak karena Covid-19, masalah justru ditambah lagi dengan adanya gejolak geopolitik perang Rusia dengan Ukraina. Dua masa­lah ini membuat kenaikan harga berbagai komoditas dunia, mulai dari pangan hingga energi.

Kenaikan harga komoditas ini berimbas pada harga-harga kebutuhan pokok di tingkat konsumen. Ujungnya, inflasi pun terjadi dan mem­perlambat pergerakan eko­nomi.

”Kenaikan harga komodi­tas ini di beberapa negara mendorong inflasi tinggi dan ekonomi jadi melambat. Maka bisa timbul resesi eko­nomi,” papar Airlangga dalam Mid Year Economic Outlook Bisnis Indonesia, Selasa (2/8).

Baca Juga  Airlangga Kantongi Dukungan DPD

Hal tersebut sudah mem­buat ekonomi Amerika mele­mah dan akhirnya resesi. ”Di Amerika sudah dua kali ne­gatif, sehingga technically dia masuk inflasi dan stag­flasi,” sebut Airlangga.

Bagaimana dengan Indo­nesia, apakah Indonesia akan dibayangi resesi juga? Men­urut Airlangga, tidak. Ia me­nyampaikan sejauh ini kemungkinan resesi di In­donesia kecil. Bahkan, ia menyebut Indonesia terma­suk negara yang mampu ekspansi ekonominya.

”Negara-negara yang masih bisa ekspansi, termasuk In­donesia. Probabilitas resesi Indonesia bersama india presentasenya masih rendah,” kata Airlangga.

Berdasarkan data CEIC, jelas Airlangga, ekonomi Indonesia masih akan men­guat. CEIC membuat indeks berdasarkan indikator utama ekonomi, mulai dari keu­angan, moneter, pasar te­naga kerja, perdagangan, hingga industri.

Baca Juga  Berkunjung ke Sentra Vaksinasi Serviam, Ini Pesan Menko Airlangga

Menurutnya, dari indeks tersebut Indonesia masih berada pada pertumbuhan ekonomi dalam jangka pan­jang. Artinya, ekonomi In­donesia masih akan terus menguat dalam beberapa waktu ke depan.

”Berdasarkan leading in­dikator CEIC, indikator dari keuangan, moneter, pasar tenaga kerja, perda­gangan, dan industri di mana angka 100 adalah tren jangka panjang. Indonesia berada di dalam indeks di atas 100,” papar Airlangga. (dtk/eka/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published.