Babak Baru Kasus Kematian Brigadir J, 25 Polisi Diperiksa, Kapolri Copot Tiga Jenderal

by -
Irjen Ferdy Sambo usai diperika di Bareskrim Polri pada Kamis (4/8) (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

Polisi masih terus mengusut kasus kematian Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J, sopir istri Irjen Ferdy Sambo yang baru semalam dicopot dari jabatannya sebagai Kadiv Propam. Puluhan polisi diperiksa maraton untuk mengungkap dalang di balik tewasnya Brigadir.

DITTIPIDUM Bareskrim Polri telah memeriksa Irjen Ferdy Sambo selama tujuh jam. Ferdy Sambo yang ber­seragam dinas lengkap itu keluar dari Bareskrim pada Kamis (4/8) pukul 17:14 WIB.

Tercatat, sudah empat kali Sambo diperiksa terkait ke­matian Brigadir J. Terakhir, pemeriksaan dilakukan ke­marin mulai pukul 10:00 WIB.

Sambo sendiri tiba di gedung Bareskrim Polri pada pukul 09:55 WIB pagi tadi.

”Hari ini saya hadir me­menuhi panggilan penyidik Bareskrim Polri, pemeriksaan hari ini adalah pemeriksaan keempat,” ujar Ferdy Sambo di Bareskrim Polri, Kamis (4/8).

Sambo mengaku sebelum­nya telah menjalani serang­kaian pemeriksaan. Ia telah memberi keterangan di Polres Metro Jakarta Selatan dan Polda Metro Jaya.

”Saya sudah memberikan keterangan ke penyidik Polres Metro Jakarta Selatan, Polda Metro Jaya, dan sekarang yang keempat di Bareskrim,” kata Ferdy.

Sementara itu, usai meme­riksa, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo membuat kepu­tusan tegas dengan melakukan mutasi besar-besaran kepada sejumlah anggota Polri.

Termasuk mencopot tiga jenderal alias perwira tinggi Polri di antaranya Irjen Ferdy Sambo, Brigjen Hendra Kur­niawan, dan Brigjen Benny Ali dari jabatannya.

Baca Juga  Hasil Otopsi Brigadir Yosua Tunggu Waktu Dua Bulan, Pastikan Ada Tidaknya Luka Tembakan

Pencopotan para anggota Polri tersebut sesuai ST Nomor: 1628/VIII/KEP/2022 yang diteken pada Kamis, 4 Agus­tus 2022. (lihat grafis).

“Kita telah memeriksa tiga personel pati bintang 1, kom­bes lima personel, AKBP tiga personel, kompol dua perso­nel, pama tujuh personel, bintara dan tamtama lima personel,” bebernya, Kamis (4/8).

Sigit menuturkan, hingga kini sudah 25 personel kepo­lisian yang sudah diperiksa tim khusus. Mereka berasal dari propam, polres, dan juga ada beberapa personel polda dan bareskrim.

”Sebanyak 25 personel ini kita periksa terkait ketidak­profesionalan TKP dan bebe­rapa hal yang kita anggap itu membuat proses olah TKP dan juga hambatan-hambatan dalam hal penanganan TKP dan penyidikan, yang tentunya kita ingin bahwa semuanya bisa berjalan baik,” katanya.

Sigit menegaskan ke-25 per­sonel itu akan menjalankan proses pemeriksaan terkait perlenggaran kode etik. Apa­bila ditemukan tindak pidana maka mereka akan diproses secara pidana.

“Dan tentunya apabila dite­mukan adanya proses peidana, kita juga akan memproses pi­dana yang dimaksud,” tegasnya.

Kabareskrim Polri Komisaris Jenderal Agus Andrianto men­gatakan, personel Polri yang kedapatan menghalangi pro­ses penyelidikan dan men­ghilangkan barang bukti da­lam kasus penembakan Bri­gadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J te­rancam dijerat pasal pidana.

“Hasil pemeriksaan dari Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Polri akan menen­tukan apakah akan dijadikan dasar peningkatan status menjadi pelaku dalam Pasal 55 dan 56 KUHP,” kata Agus Andrianto dalam konferensi pers, Kamis (4/8).

Baca Juga  Irjen Ferdy Sambo Diangkut ke Mako Brimob, Diduga Rusak Barang Bukti Kematian Brigadir J

Ia mengatakan, personel yang terlibat akan diperiksa soal siapa yang menyuruh melakukan perbuatan pidana, termasuk memberi kesem­patan atau bantuan, hingga menghilangkan barang buk­ti dan menghambat penyidi­kan.

“Kami dari tim khusus mendapat surat dari penyidik untuk melakukan evaluasi terhadap penanganan limpa­han laporan (LP) dari Polres Jaksel ke Polda Metro Jaya, untuk mengkaji apakah taha­pan yang mereka lakukan sesuai prosedur,” imbuhnya.

Agus Andrianto mengaku ada kendala dalam pembuk­tian karena barang bukti yang rusak atau sengaja dihilangkan, sehingga membutuhkan waktu untuk mengungkap tuntas kasus penembakan Brigadir J.

Berdasarkan hasil penyeli­dikan yang dilakukan, jajaran Bareskrim sudah memeriksa 43 saksi hingga Kamis (4/8). Bharada Richard Eliezer alias Bharada E telah ditetapkan sebagai tersangka pembunu­han dengan sangkaan Pasal 338 KUHP juncto Pasal 55 dan 56 KUHP.

“Kenapa tidak diterapkan Pasal 340? Karena ini masih rangkaian proses pendalaman dari temuan-temuan selama pemeriksaan yang dilakukan timsus,” katanya.

Sementara itu, pelaku pe­nembakan yang menewaskan Brigadir J yakni Bharada E resmi jadi tersangka. Dirtipi­dum Bareskrim Polri Brigjen Andi Rian mengaku telah melakukan gelar perkara ter­kait laporan dari pihak kelu­arga Brigadir J.

”Penyidik sudah melakukan gelar perkara dan pemeriksaan saksi juga sudah dianggap un­tuk menetapkan Bharada E sebagai tersangka,” ujar Brigjen Andi Rian di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Rabu (3/8).

Baca Juga  Hasil Otopsi Brigadir Yosua Tunggu Waktu Dua Bulan, Pastikan Ada Tidaknya Luka Tembakan

Terkait sangkaan Pasal 55 (bersekongkol) dan Pasal 56 (turut serta) terhadap Bharada E, hal ini mengindikasikan adanya kemungkinan tersang­ka lain dalam kasus ini. Andi mengatakan bahwa penyidikan masih berproses dan belum selesai sampai di sini.

Ia menyebutkan, terkait si­apa saja yang ada di TKP, penyidikan masih berproses, melakukan pemeriksaan-pemeriksaan, kemudian pen­dalaman.

Meski demikian, Andi Rian belum bisa merinci terkait motif Bharada E karena akan melakukan penyidikan lebih lanjut.

”(Bharada E, red) bukan membela diri,” imbuhnya.

Andi melanjtukan, penyidik tidak akan berhenti dalam penyidikan kasus tewasnya Brigadir J.

”Pemeriksaan tidak ber­henti sampai sekarang ka­rena akan ada beberapa saksi yang akan kami periksa dalam beberapa hari ke depan,” tegasnya.

Terpisah, ahli hukum Ujang Sujai mengapresiasi atas ke­putusan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk mencopot tiga jenderal atau perwira tinggi Polri. ”Saya mengapresiasi atas tindakan tegas kapolri yang sudah berani melakukan kon­ferensi pers dan mengung­kapkan kasus dengan terang benderang,” ungkap Ujang.

Menurutnya, tindakan yang dilakukan kapolri menunjuk­kan keberanian untuk mela­kukan pembersihan di tubuh instansi Polri.

”Saya kira ini adalah sikap­nya yang berani melakukan pembersihan besar-besaran dengan cara melakukan mu­tasi terhadap beberapa ang­gota Polri. Termasuk tiga perwira tinggi,” pungkasnya. (de/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published.