Ferdy Sambo Otak Pembunuhan Ajudan, Hukuman Mati Menanti

by -

Kematian Brigadir Nofriansah Yosua Hutabarat alias Brigadir J akhirnya terkuak. Bukan akibat tembak-tembakan seperti saat awal kasus ini muncul 8 Juli lalu. Tetapi, Brigadir J sengaja dibunuh atasannya sendiri yang tak lain Irjen Pol Ferdy Sambo (FS), yang merupakan mantan Kadiv Propam Polri. Apa sebenarnya motif FS hingga tega menghilangkan nyawa ajudannya?

SETELAH 30 hari berlalu sejak Brigadir J tewas di rumah dinas Irjen FS, tim khusus bentukan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo maraton melakukan pengungkapan kasus.

Tak mau institusi Polri ke­hilangan marwah, kasus ke­matian Brigadir J yang se­mula ditangani Polda Metro Jaya langsung diambil Bares­krim Polri. Bahkan, Waka­polri Komjen Gatot Eddy Pramono memimpin langsung pemeriksaan Irjen FS ber­sama tim khusus.

Tiga hari usai jabatan Irjen FS dicpot sebagai Kadiv Pro­pam Polri, suami Putri Candrawhati itu juga langsung digelandang ke Mako Brimob. Pada 7 Agustus 2022, Irjen FS menjalani pemeriksan ter­kait pelanggaran etik, dimana sang jenderal ketahuan men­ghilangkan barang bukti berupa kamera pengawas atau CCTV.

Bharada E yang sudah lebih dulu ditetapkan sebagai ter­sangka kematian Brigadir J akhirnya secara sukarela membuat pengakuan dengan menulisnya sendiri. Sampai akhirnya, Selasa (9/8) malam, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo membongkar dalang di balik kematian Brigadir J.

Irjen Sambo, jenderal bintang dua dengan karier mentereng, ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan berencana ter­hadap Brigadir J. Totalnya sudah empat orang yang di­tetapkan sebagai tersangka kasus kematian Brigadir J. Di antaranya, Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu alias Bharada E, Brigadir Ricky Rizal (RR), Irjen Pol Ferdy Sambo (FS), dan KM.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan penyidikan terkait kasus ke­matian Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Briga­dir J dilakukan saintifik atau ilmiah. Proses penyidikan berbasis ilmiah tersebut beru­jung penetapan tersangka terhadap Irjen Ferdy Sambo.

”Ini sudah menjadi perha­tian publik. Saya minta betul-betul segera bisa diselesaikan. Terus bekerja keras. Sehingga betul-betul kita profesional, akuntabel, dan tentunya pen­dekatan saintifik yang tentu­nya akan kita pertanggung­jawabkan dengan profesional,” ujar Sigit dalam konferensi pers di Mabes Polri, Selasa (9/8).

Baca Juga  Kesaksian Susi Berubah-ubah, Hakim Yakini Cerita Brigadir Yosua Menggendong Putri Candrawathi Tidak Ada

Sigit mengatakan, timsus menemukan sejumlah titik terang terkait kasus yang me­newaskan Brigadir J dengan melakukan penanganan dan pemeriksaan secara saintifik. Berdasarkan hal itu, Ferdy Sambo Polri dan tiga orang lainnya ditetapkan sebagai tersangka, yakni Bharada E, Bripka RR, dan KM.

Sigit menjelaskan penanga­nan dan pemeriksaan secara saintifik melibatkan kedok­teran forensik hingga tim puslabfor untuk uji balistik. Selain itu juga ada proses identifikasi biometrik yang dilakukan inafis.

”Timsus telah mendapatkan titik terang dengan melakukan proses-proses penanganan dan pemeriksaan secara sain­tifik dengan melibatkan ke­dokteran forensik, olah TKP dengan melibatkan tim puslab­for untuk menguji balistik mengetahui perkenaan alur dan tembakan, pendalaman terhadap CCTV dan hand­phone oleh puslabfor, biome­tric identification oleh pusina­fis,” beber Sigit.

Di samping itu, Sigit me­nyebut timsus juga melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi yang diketahui berada di lokasi peristiwa dari Bha­rada E hingga Ferdy Sambo.

”Serta tindakan lain yang tentunya bersifat ilmiah, dan juga kami menemukan per­sesuaian dalam pemeriksaan yang telah kita lakukan ter­hadap saksi-saksi yang be­rada di TKP, termasuk saksi-saksi lain yang terkait. Juga saudara RE, saudara RR, saudara KM, saudara AR, dan saudara P dan saudara FS,” ucapnya.

Sigit mengungkapkan, se­telah dilakukan pemeriksa­an secara ilmiah, pihaknya menemukan sejumlah hal yang berbeda dengan kete­rangan awal saat kasus te­wasnya Brigadir J diungkap ke publik. Salah satunya ialah tidak adanya insiden baku tembak sesama polisi di lokasi.

”Ditemukan perkembangan baru bahwa tidak ditemukan, saya ulangi, tidak ditemukan fakta peristiwa tembak-me­nembak seperti yang dilapor­kan. Saya ulangi. Tidak dite­mukan fakta peristiwa tembak-menembak seperti yang di­laporkan awal,” terang Sigit.

Selain itu, lanjut Sigit, timsus juga menemukan dugaan kuat yang terjadi di Tempat Kejadian Perkara (TKP) saat itu adalah penembakan ter­hadap Brigadir Yosua atas perintah Ferdy Sambo.

Baca Juga  Soal Judi Online 303, Ferdy Sambo : Saya Nggak Terlibat, Justru Saya yang Berantas

Sigit menambahkan, Bha­rada E sebagai salah satu yang terlibat mengajukan justice collaborator atau JC sehingga membuat kasus ini semakin terang.

”Tim khusus menemukan bahwa peristiwa yang terjadi adalah peristiwa penembakan terhadap saudara J yang me­nyebabkan saudara J mening­gal dunia yang dilakukan saudara RE atas perintah saudara FS. Saudara RE telah mengajukan JC dan saat ini itu juga yang membuat pe­ristiwa ini menjadi semakin terang,” ujarnya.

Kemudian diduga kuat Ferdy Sambo membuat skena­rio seolah-olah yang terjadi saat itu merupakan insiden polisi tembak polisi, seperti keterangan awal yang diung­kap ke publik. Sigit mengata­kan bahwa Ferdy Sambo di­duga menembakkan senjata Brigadir Yosua ke dinding untuk memperkuat skenario­nya.

”Kemudian untuk mem­buat seolah-olah telah ter­jadi tembak-menembak, saudara FS melakukan pe­nembakan dengan senjata milik saudara J ke dinding berkali-kali untuk membuat kesan seolah telah terjadi tembak-menembak,” jelas Sigit.

Meski begitu, papar Sigit, timsus masih melakukan pen­dalaman terhadap saksi-saksi terkait keterlibatan langsung Ferdy Sambo dalam penembakan.

”Terkait apakah saudara FS menyuruh ataupun terlibat langsung dalam penembakan, saat ini tim terus melakukan pendalaman terhadap saksi-saksi dan pihak-pihak yang terkait. Kemarin kita telah tetapkan tiga tersangka yaitu saudara RE, saudara RR, dan saudara KM,” tuturnya.

Bareskrim menetapkan Ferdy Sambo sebagai salah satu tersangka berdasarkan seluruh temuan-temuan saat dilakukan pendalaman oleh timsus. Namun, Sigit menya­takan motif penembakan terhadap Brigadir Yosua ma­sih didalami.

”Tadi pagi (kemarin, red) dilaksanakan gelar perkara, dan timsus telah memutuskan menetapkan saudara FS se­bagai tersangka. Jadi saya ulangi, timsus telah mene­tapkan saudara FS sebagai tersangka,” tegasnya.

Sementara itu, untuk moti­fnya, kapolri mengaku pi­haknya belum mengungkap motif penembakan terhadap Brigadir J.

“Motif masih pendalaman,” kata Listyo Sigit Prabowo di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (9/8).

Baca Juga  Tolak Dakwaan, Kuasa Hukum Ferdy Sambo : Jaksa Abaikan Beberapa Fakta Kejadian

Meski belum mengungkap motif penembakan terhadap Brigadir Yosua, Sigit memas­tikan proses pengusutan terus dilakukan. Sehingga, motif maupun hal lainnya bisa di­ungkap secara komprehensif.

“Masih terus dilakukan. Ini tentunya membutuhkan ke­terangan ahli. Tentunya ini menjadi bagian yang harus dituntaskan,” jelas mantan kadiv propam itu.

Kabareskrim Polri Komjen Pol Agus Andrianto menga­takan, masing-masing ter­sangka memiliki peran ber­beda. Untuk eksekutor pe­nembak adalah Bharada E.

“RE melakukan penembakan korban,” kata Agus di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (9/8).

Kemudian RR dan KM ber­peran membantu serta me­nyaksikan penembakan. Ter­akhir Ferdy Sambo yang me­merintahkan penembakan.

“FS menyuruh melakukan dan menskenario. Skenario seolah-olah tembak-menem­bak,” jelas Agus.

Sebelumnya, Penyidik Bares­krim Polri resmi menetapkan Bharada Richard Eliezer alias Bharada E sebagai tersangka tewasnya Brigadir Nopryansah Yosua Hutabarat alias Brigadir J. Ia diketahui sebagai penem­bak langsung Brigadir J.

“Penyidik sudah melakukan gelar perkara dan pemeriksa­an saksi sudah kita anggap cukup untuk menetapkan Bharada E sebagai tersangka,” kata Dirtipidum Bareskrim Polri Brigjen Andi Rian di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (3/8).

Andi menuturkan, Bharada E disangkakan melanggar Pasal 338 Juncto Pasal 55 dan Pasal 56 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Da­lam kasus ini penyidik telah memeriksa 42 saksi, termasuk beberapa saksi ahli.

Penyidik juga telah melaku­kan uji balistik, termasuk telah menyita sejumlah barang bukti. Seperti alat komuni­kasi, CCTV, dan lainnya.

“Dari hasil penyidikan ter­sebut, pada malam ini (ke­marin, red) penyidik sudah melakukan gelar perkara, dan pemeriksaan saksi juga sudah kita anggap cukup,” jelas Andi.

Tak lama setelah itu, timsus kembali menetapkan seorang tersangka. Ia adalah ajudan istri Ferdy Sambo, Brigadir Ricky Rizal (RR). Ia bahkan dikenakan Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Beren­cana, dan bisa dihukum sam­pai pidana mati. (jp/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *