Guru Besar Ekonomi IPB: Pidato Ketua DPR Teguhkan Konsensus Berbangsa dan Bernegara

by -

Metropolitan – Guru besar ekonomi yang juga Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis IPB Nunung Nuryantono memberi catatan positif atas pidato Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Puan Maharani dalam Sidang Bersama MPR, DPR, dan DPD RI, di kompleks DPR-MPR RI, Selasa (16/8).

Menurut Nunung, pidato Ketua DPR RI Puan Maharani mengingatkan semua pihak pentingnya kemerdekaan dan cita-cita kemerdekaan bagi Indonesia. “Pidato tersebut bagi saya meneguhkan lagi konsensus berbangsa dan bernegara,” kata Nunung, dalam pernyataan tertulis, pada Selasa (16/8).

Sebagai negara yang merdeka, kata Nunung, pidato Ketua DPR RI mengingatkan Indonesia agar tidak tergantung pada bangsa lain, sebaliknya berdiri pada kekuatan dan kaki diri sendiri.

Baca Juga  Danai Perusahaan Batubara, BNI Diduga Langgar Asas Prudential Banking UU Perbankan

Menurut Nunung, Indonesia memiliki kekuatan untuk mendiri dan tidak bergantung pada negara dan bangsa lain. Alasannya, Indonesia memiliki Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia yang besar dan berlimpah. “Ini menjadi tugas negara, termasuk kita semua untuk meningkatkan kualitas SDA dan SDM Indonesia,” terang Nunung.

Menurut Nunung, catatan lain, pidato Ketua DPR Puan Maharani berusaha mengembalikan semua proses bernegara kepada relnya, yaitu konstitusi dan prinsip-prinsip Pancasila.

Pernyataan-pernyataan Puan dalam pidatonya, kata Nunung, sebagai catatan bagi pemerintah dalam menjalankan pembangungan nasional. Dalam pidato itu Ketua DPR menekankan pentingnya kemandirian dan kedaulatan ekonomi, agar Indonesia tidak sekadar jadi pesar bagi negara lain.

Baca Juga  Pimpin Pertemuan Menteri Ekonomi ASEAN, Mendag Lutfi: Waktunya Manfaatkan dan Tingkatkan Relevansi ASEAN

“Terlepas mbak Puan adalah cucu Bung Karno, statementnya di dalam pidato itu membawa pesan yang sangat kuat,” tambah Nunung.

Meski mengajak mandiri dan tidak bergantung pada negara lain, kata Nunung, pidato Ketua DPR RI mengajak bangsa Indonesia membangun ekonomi yang offensif, bukan defensif.

Artinya, tidak hanya memperkuat ekonomi dalam negeri bersamaan dengan tumbuhnya kelas menengah yang semakin besar, namun juga bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia dalam produksi dan ekspor.

Tumbuhnya kelas menangah harus diantisipasi negara agar Indonesia jangan hanya menjadi pasar. “Kalau tidak cepat-cepat, demand kelas menengah akan diisi oleh negara lain.

Menurut Nunung, Indonesia memiliki kekuatan untuk membangun ekonomi yang offensif. Hal ini terbukti Indonesia berhasil bertahan dan pulih dari sejumlah krisis, yang paling baru adalah krisis sosial ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Baca Juga  Dukung Program Kemendikbudristek, IPB Jadi Lokasi Penanaman Pohon Langka

Selain itu Nunung mencatat forum pidato kenegaraan yang diadakan secara tatap muka pada tahun ini setelah pandemi Covid-19 membawa suasana kebatinan yang menarik, ketika pidato pimpinan legislatif disampaikan oleh seorang perempuan.

“Ini mencerminkan kesempatan untuk maju bagi perempuan sekarang begitu terbuka,” tandasnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published.