HIV/AIDS Naik Terus, Bogor Tertinggi Kedua di Jabar

by -
Stop AIDS sign with white hand and red ribbon. Illustration isolated on white background.

Seks bebas menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar). Sebab, kasus penyebaran virus HIV/AIDS semakin meningkat setiap tahunnya. Bahkan, di Jabar ada ribuan pengidap HIV/ AIDS baru yang tercatat sampai pertengahan tahun.

LIMA wilayah masuk sorotan Dinas Kesehatan (Dinkes) Jabar menyusul jumlah kasusnya yang tertinggi di tanah Pasundan. Urutan kesatu dan kedua yakni Kota Bandung dan Kabupaten Bogor.

Ketua Tim Pencegahan Penyakit Menular dan Tidak Me­nular Dinkes Jabar Yudi Komarudin mengatakan, ha­sil tes yang dilakukan sejak Januari hingga Juni 2022, dari 341.643 orang yang berisiko, ter­masuk kepada ibu hamil, beberapa persennya terdapat kasus positif.

”Dari hasil tes, kita temukan 3.744 HIV yang baru. Dari jumlah tersebut, Kota Bandung 410 dan merupakan yang paling tinggi. Kedua, Kabupaten Bogor 365, Kota Bekasi 365, Indramayu 252, dan Kabupaten Bekasi 217,” kata Yudi, Kamis (28/8).

Yudi menjelaskan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di Jabar terdiri dari berbagai umur. Mulai dari usia muda atau produktif hingga usia paruh baya.

Baca Juga  Stok Ganja 1,75 Kuintal, Mahasiswa Bogor Dituntut Mati

”Kalau pengidap HIV itu rentan di usia produktif, dari 25 sampai 49 tahun. Dari usia tersebut, ada 69,8 persen atau 2.614 orang yang HIV,” jelasnya.

Faktor yang paling memenga­ruhi angka tersebut, bebernya, yakni hubungan seks yang berisiko. Dalam arti hubung­an badan yang tidak meng­gunakan pengaman.

Sementara itu, penularan dari transfusi darah sudah jarang ditemui. Pasalnya, alat-alat di Palang Merah Indonesia (PMI) sudah cukup canggih.

”Jadi kalau dari transfusi itu sudah bisa dicegah dengan alat yang modern yang dimi­liki PMI,” katanya.

Penularan yang tidak pernah diduga yakni berasal dari alat cukur. Hanya saja, faktor dari penularan itu sangat sedikit kasusnya.

”Itu bisa dari alat cukur. Dari alat pedikur atau meni­kur juga, tapi itu hanya 0,0 sekian persen. Yang paling banyak justru penularan ini yaitu dari perilaku yang be­risiko atau yang bukan dengan pasangannya,” ungkapnya.

Baca Juga  Pemerintah Janji Dampingi Penderita HIV/Aids

Melihat hal itu, pihaknya mengaku telah melakukan langkah dengan membuat pemetaan populasi kunci.

”Maksud populasi kunci itu, waria, homoseks, pemakai narkoba suntik, WPS, atau wanita penjaja seks,” beber­nya.

Tak hanya itu, warga bi­naan pemasyarakatan pun menjadi sorotan. Ia menga­ku telah memberikan layanan penyedia alat kontrasepsi bagi warga binaan yang sudah memiliki pasangan sah.

”Kita memberikan layanan kondom. Jadi memberikan kondom bukan berarti me­legalkan, tapi untuk mence­gah penularan, supaya mela­kukan seks yang aman,” te­rangnya.

Pihaknya mengimbau ma­syarakat, terutama untuk ODHA, bisa terus melakukan terapi dengan mengonsum­si Anti-Retroviral Virus (ARV) agar mengendalikan virus dalam tubuhnya.

”Setiap hari harus memakan ARV selama hidupnya, dan setiap enam bulan sekali ha­rus melakukan tes viralud. Kemudian, lakukanlah seks yang aman yaitu dengan me­makai kondom. Lakukan seks dengan pasangan dan tidak berganti-ganti pasangan,” urainya.

Sementara itu, di Bandung, dari data Komisi Penanggu­langan AIDS (KPA) Kota Bandung hingga Desember 2021, ada 12.358 pengidap HIV/AIDS melakukan pe­layanan kesehatan di Kota Bandung. Dari jumlah terse­but, 5.943 ber-KTP Kota Bandung.

Baca Juga  Virus Delta Marak Jangkit Warga Bogor

Sementara itu, untuk esti­masi kasus HIV/AIDS di Kota Bandung yang dikelu­arkan Kementerian Keseha­tan (Kemenkes) mencapai 10.871.

”Kemenkes memperkirakan di Kota Bandung tahun 2021 ada 10.871 kasus HIV/AIDS. Kalau 12.358 orang adalah total orang yang tes HIV dan positif di layanan kesehatan Kota Bandung. Jadi mau orang mana pun karena layanannya sudah bagus (data masuk Bandung, red),” kata Ketua Sekretariat KPA Kota Bandung Sis Silvia Dewi. ”Tapi untuk betul-betul KTP Kota Bandung 5.943,” tambahnya.

Jika melihat estimasi Ke­menkes yang mencapai 10.871, masih ada sekitar 5.000-an pelacakan yang harus dikejar. ”PR-nya masih 5.000-an lagi,” ujar Silvia.

Silvia menyebut setiap tahun penularan HIV/AIDS di Ko­ta Bandung mencapai ratusan. ”Setiap tahun kita menemu­kan 300-400 kasus,” tandasnya. (de/feb/run

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *