Pemerintah Siap Produksi Massal Minyak Makan Merah

by -

METROPOLITAN – Pemerin­tah sedang mengembangkan produksi Minyak Makan Me­rah berbasis koperasi sebagai alternatif minyak goreng yang banyak digunakan masyara­kat. Minyak Makan Merah diklaim lebih sehat karena produksi tidak melalui proses pemutihan (bleaching) se­hingga tidak menghilangkan kandungan vitamin A.

Menteri Koperasi dan UKM (MenKopUKM) Teten Mas­duki mengatakan, Minyak Makan Merah akan lebih mu­rah dibanding minyak goreng yang beredar saat ini. Pasalnya, proses yang dilalui lebih efi­sien.

”Minyak Makan Merah sangat sehat dan juga karena diproduksinya lebih efisien. Insya Allah bisa lebih murah,” kata Teten di Gedung Sarinah, Jakarta Pusat, Senin (15/8).

Teten memastikan produk Minyak Makan Merah akan diserap pasar. Rencananya, piloting pengembangannya ditargetkan terealisasi pada Januari 2023.

Baca Juga  Minyak Turun, Ekspor Mobil Toyota Juga Ikut Turun

”Sekarang para petani sawit senang karena mereka tidak lagi hanya menjual TBS-nya, tapi bisa mendapatkan niliai tambah dari mengolah sawit­nya menjadi Minyak Makan Merah dan itu bisa didistri­busikan ke masyarakat,” tu­turnya.

Dalam memperkuat penyera­pan oleh pasar, telah dilaku­kan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) ten­tang Kerja Sama Kemitraan Dalam Rangka Inovasi Tek­nologi Pengolahan Minyak Makan Merah antara Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PP­KS), Dinas Koperasi dan UKM Sumatera Utara (Diskopsu), Koperasi Produsen Sawit dan Himpunan Peretail dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo).

Tujuan MoU itu dalam me­ningkatkan kapasitas kelem­bagaan dengan melakukan kemitraan, pemberian pen­dampingan dan konsultasi kelembagaan, inovasi tekno­logi dan produk, digitalisasi, kewirausahaan dan kepastian pemasaran atas hasil produk Minyak Makan Merah ke de­pannya.

Baca Juga  Masuk Indonesia, Bensin Inggris Bebas Endapan

”Teknologi produksi minyak makan merah ini sudah ada, petaninya sudah mau, pem­biayaan pun sudah oke, bisnis modelnya sudah ada. Sekarang ini kepastian pasarnya. Per­kembangannya Agustus DED (Detail Engineering Design) selesai, produksi mulai jalan, Januari 2023 KickOff,” jelas Teten.

Teten menegaskan pihaknya mencoba mengembangan Minyak Makan Merah oleh koperasi guna mendorong Kemandirian Pangan, serta menjadi alternatif produk dari keterbatasan bahan baku dan ketidakstabilan harga minyak goreng selama ini.

Di Indonesia, dari 14,59 juta hektare luas perkebunan sawit, 6,04 juta hektar atau 41% dikelola petani swadaya dan dari total produksi seba­nyak 44,8 juta ton, 35% di antaranya atau 15,68 juta ton adalah hasil dari sawit rakyat.

Baca Juga  Mau Puasa Stok Minyak Mendadak Berlimpah, Ampun Gusti! Harga Dibikin Tinggi Rakyat Gigit Jari

Sebagai Functional Food, Minyak Makan Merah ini tidak hanya untuk menggoreng, tetapi bisa dikonsumsi seba­gai minyak makan, suplemen atau emulsi anti-stunting dan kosmetik alami.

Sebagai informasi, ekosis­tem usaha pengembangan Minyak Makan Merah dila­kukan koperasi dengan kerja sama dan kolaborasi multipihak yang meliputi petani swadaya terkonsoli­dasi dalam wadah koperasi. Koperasi berperan sebagai aggregator sekaligus offtaker pertama hasil sawit rakyat (tandan buah segar/TBS) dengan Harga Pokok Pro­duksi (HPP) terbaik.

Pendampingan kelemba­gaan dan proses bisnis Kope­rasi oleh KemenkopUKM, pembiayaan modal kerja bagi Petani Sawit anggota Koperasi melalui KUR oleh Himbara, pembiayaan modal kerja bagi Koperasi untuk membeli TBS dari petani (off­taker pertama) oleh LPDB-KUKM. (dtk/eka/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published.