Soal Kasus Ade Yasin, Pengamat Hukum Duga Ihsan Jadi Korban Pemerasan BPK

by -
Suasana sidang kasus dugaan suap yang menyeret nama Bupati Bogor Nonaktif Ade Yasin di PN Tipikor Bandung, Senin (8/8). (Foto:Ryan/Metropolitan)

METROPOLITAN.id – Dalam persidangan kelima kasus dugaan suap yang melibatkan Bupati Bogor nonaktif Ade Yasin di PN Tipikor Bandung, Senin (8/8) lalu, menguak fakta baru soal pernyataan Ihsan Ayatullah.

Ihsan, yang juga menjadi terdakwa selain Ade Yasin, dalam sidang tersebut berbicara soal permintaan sejumlah uang untuk meraih Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) bisa disebut sebagai dugaan pemerasan.

Ihsan yang menjabat Kasubid di Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Bogor itu mengaku melakukan penarikan sejumlah uang ke perangkat daerah di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor lantaran adanya permintaan dari pihak Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Komunikolog Politik dan Hukum Nasional, Tamil Selvan menduga dengan pernyataan Ihsan itu, ada indikasi pemerasan.

Artinya dengan indikasi pemerasan itu, kata Tamil, tuduhan kepada Bupati nonaktif Bogor Ade Yasin terbantahkan.

Serta dari pengakuan Ihsan juga telah diungkapkan kalau Ihsan bergerak sendiri tanpa perintah bupati.

“Jadi sebenarnya sudah salah sasaran. Dan Ade Yasin hanya menjadi korban atas oknum BPK yang meminta uang ke Ihsan. Dan Ihsan jelas bergerak sendiri, jadi tidak ada keterlibatan Ade Yasin,” ujar Tamil kepada wartawan, Selasa (9/8).

Baca Juga  Wah Empat Shio Diramal Kena Sial di Tahun Ayam Api

Tamil berharap ketua majelis hakim bisa mengkaji secara jelas dan rinci atas kasus yang dialami Ade Yasin.

“Karena secara kronologi dan pengakuan para saksi juga jelas tidak ada perintah dari bupati. Jadi Ade Yasin hanya korban dan terzalimi,” tandasnya.

Atas dasar itulah, sambung dia, KPK seharusnya membebaskan Ade Yasin dan membersihkan nama baiknya.

“Karena tidak terbukti kalau Ade Yasin terlibat,” ungkap Tamil.

Diketahui, Ketua KPK Firli Bahuri menyampaikan dari pengumpulan keterangan saksi dan alat bukti, KPK melakukan penyelidikan dan menemukan bukti permulaan yang cukup sehingga menetapkan tersangka di kasus tersebut.

Dari 12 orang yang ditangkap itu, total ada 8 orang yang ditetapkan sebagai tersangka tersebut, termasuk Bupati Bogor Ade Yasin.

KPK menetapkan empat tersangka oknum BPK sebagai penerima suap. Mereka adalah, Anthon Merdiansyah, Pegawai BPK Perwakilan Jawa Barat (Kasub Auditor IV Jawa Barat 3 Pengendali Teknis), Arko Mulawan, Pegawai BPK Perwakilan Jawa Barat (Ketua Tim Audit Interim Kabupaten Bogor), Hendra Nur Rahmatullah Karwita, Pegawai BPK Perwakilan Jawa Barat (Pemeriksa) dan Gerri Ginajar Trie Rahmatullah, Pegawai BPK Perwakilan Jawa Barat (Pemeriksa).

Baca Juga  Pendapatan Naik di Tengah Pandemi, Sentul City Catatkan Laba Rp286 M

Sebelumnya, saat persidangan Senin (8/8) lalu, Ihsan sempat menyampaikan soal adanya permintaan BPK.

“Perlu saya sampaikan bahwa yang saya sampaikan kepada SKPD adalah permintaan BPK,” kata Ihsan saat diminta tanggapannya oleh Ketua Majelis Hakim Hera Kartiningsih di Pengadilan Tipikor, Bandung, Jawa Barat, Senin (8/8).

Ihsan diketahui banyak menghimpun dana yang bersumber dari perangkat daerah dan pengusaha.

Seperti yang diungkapkan oleh Sekretaris BPKAD, Andri Hadian bahwa dirinya diminta tolong oleh Ihsan mengambil dana dari Badan Pengelola Pendapatan Daerah (Bapenda) senilai Rp100 juta.

Sementara itu, saksi lain, Kasubag Penatausahaan Keuangan Sekretariat Pemerintah Kabupaten Bogor, Rully Faturahman mengaku memberikan uang kepada Ihsan dari hasil meminjam kepada pengusaha dan sebagian uang pribadi.

“Kata Ihsan, BPK perlu uang. Saya yang mencari, untuk yang Rp50 juta, saya pinjam yang mulia. Yang Rp10 juta pribadi sendiri,” kata Rully.

Baca Juga  Dewan Minta Pemkot Bogor Kaji Rencana Bangun Park and Ride di Pasar Bogor, Ini Alasannya

Rully bahkan sempat diminta oleh Ihsan untuk menyiapkan dua rekening khusus untuk berurusan dengan BPK.

“Saudara Ihsan telepon saya bahwa BPK kali ini meminta cashless. Saya diminta Ihsan membikin rekening. Saya menyuruh staf saya membikin rekening,” paparnya.

Rully menerangkan bahwa apa yang dilakukan oleh Ihsan bukan atas perintah dari Bupati nonaktif Bogor Ade Yasin, karena hubungan keduanya tidak terjalin baik.

“Jujur, saya baru ungkap di sini. Sepertinya kalau sama Ibu Ade kurang baik, (hubungan) Ihsan sama Ibu Bupati. Pernah satu kali kita menghadap untuk urusan yang lain. Itu ibu marah banget ke Ihsan, untung saya membelokkan ke pembicaraan yang lain,” ungkap Rully.

Menurutnya, Ihsan bahkan sempat batal naik jabatan di Pemerintah Kabupaten Bogor karena tidak mendapat restu dari Ade Yasin.

“Pernah Ihsan gagal dilantik,” kata Rully. (ryn)

Leave a Reply

Your email address will not be published.