Ini Kilah Oknum Pegawai Sekolah di Bogor Tilep Duit Bantuan Pendidikan Siswa Rp99 Juta

by -
Ilustrasi

METROPOLITAN.id – Salah satu wali murid di SDN Rancamaya 2, Umar (50) menuturkan alasan oknum pegawai sekolah berinisial RH (48) yang tega melakukan penyelewengan duit bantuan pendidikan alias dana bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) mencapai Rp99 juta.

Menurutnya, berdasarkan hasil pengakuan oknum pegawai sekolah yang disampaikan langsung ke para wali murid, yang bersangkutan mengaku menggunakan uang tersebut secara pribadi.

“Digunakan secara pribadi sama oknum pegawai itu. Katanya dipakai buat biaya ibunya yang sakit,” kata Umar (50).

Akan tetapi, dijelaskannya, yang menjadi pertanyaan para wali murid, orang tua yang bersangkutan ini disebutkan mengalami sakit pada tahun 2021. Sementara, pemotongan sudah dilakukan sejak tahun 2020.

“Tapi itu juga (sakitnya) pas tahun 2021 kan. Terus kenapa diambil dari tahun 2020 juga,” ucapnya.

Atas itu, dirinya bersama wali murid lainnya tetap bersikukuh meminta agar uang bantuan pendidikan yang sudah diambil ini untuk segera dikembalikan, sesuai dengan yang sudah disepakati berdasarkan hasil pertemuan pada Senin (19/9).

“Kita minta dikembalikan dan dia (RH) janji mau bayar selambat-lambatnya Desember akhir, kalau pun ada rezeki dua atau tiga hari besok mau langsung di bayar,” tandasnya.

Sebelumnya, kabar mengejutkan datang dari dunia pendidikan di Kota Bogor. Salah satu sekolah yang ada di wilayah Kota Hujan diterpa isu penyelewengan duit bantuan pendidikan alias dana bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) yang ditilep oknum pegawai sekolahannya sendiri.

Baca Juga  200 Sekolah di Bogor Butuh Perbaikan, tapi Hanya Puluhan Sekolah Dapat Anggaran Tahun Ini

Kejadian ini sendiri terjadi di lingkungan SDN Rancamaya 2. Di mana, oknum pegawai sekolah yang menyelewengkan duit bantuan pendidikan itu diketahui berinisial RH (48).

RH yang berprofesi sebagai operator sekolah ini dikabarkan menyelewengkan duit bantuan pendidikan dalam rentan periode 2020-2021, bagi 110 siswa yang ada di SDN Rancamaya 2. Hal itu pun dibenarkan salah satu wali murid yang terkena dampak, Umar (50).

“Ada itu 110 siswa. Kalau yang sekarang itu diitungnya (siswa) kelas 2 sampai kelas 6,” kata Umar saat ditemui di kediamannya, Senin (19/8).

“Bahkan ada juga murid yang sekarang kelas 2 SMP harusnya dapet juga, dia udah cek lewat website masuk sebagai penerima juga, tapi uangnya belum nyampe ke tangan sampai saat ini,” sambungnya.

Adapun, dijelaskannya, terungkapnya kasus penyelewengan duit bantuan pendidikan ini sendiri bermula saat wali murid menerima buku Tabungan BRI Simpel yang diberikan pihak sekolah pada tahun ini.

Di mana, saat membuka isi dalam buku tabungan ini, wali murid dikagetkan dengan transaksi yang terjadi.

“Jadi, awalnya kita juga dapet info dari wali murid sekolah lain soal bantuan pemerintah ini. Kemudian kita tanya ke pihak sekolahan. Dan, dikasihkan lah buku tabungan ini karena udah bergejolak di wali murid,” ucap dia.

Baca Juga  Stok Cukup, Cek Harga Besar di Pasar Kota Bogor di Sini

“Kagetnya, di tahun 2020 dan 2021 itu masuk bantuan (masing-masing) Rp450 ribu. Tapi, di dalam transaksinya, sudah dicairkan. Sementara kami tidak merasa mencairkan, soalnya kartu tabungan ini juga kan baru diserahkan tahun ini,” lanjutnya.

Kemudian, dilanjutkan dia, dirinya bersama wali murid lainnya pun mempertanyakan persoalan ini ke pihak sekolah. Di mana, pihak sekolah menyebutkan bahwa uang tersebut sudah dicairkan oleh RH, dan digunakan secara pribadi oleh dirinya.

“Yang 2020 dan 2021 dicairkan sama oknum itu dan digunakan pribadi uangnya. Kalau yang 2022 karena bukunya sudah dikasih ke wali murid, kami bisa mencairkannya. Kalau tahun 2020-2021 (buku tabungan) tidak pernah diberikan (ke wali murid),” imbuhnya.

Sementara, dilanjutkannya, duit bantuan pendidikan ini sendiri bernilai Rp450 ribu pertahunnya bagi setiap siswa. Di mana, jika diakumulasikan ada sekitar Rp99 juta yang seharusnya diserahkan kepada para penerima manfaat.

“Iya kalau diakumulasikan mungkin gede. Pertahun Rp450 ribu. Kalau dua tahun berarti Rp900 ribu. Tinggal dikalikan saja sama 110 siswa,” ungkap dia.

Atas persoalan ini, dirinya bersama wali murid lainnya meminta ganti rugi akan dana bantuan pendidikan tersebut. Karena, bantuan ini setidaknya dapat meringankan pihaknya untuk memenuhi kebutuhan sekolah bagi anak-anaknya.

Baca Juga  Perhari Tidur 4 jam, Bikin Orang Cepat Marah

“Dan RH ini sudah klarifikasi tadi di sekolahan (Senin 19/8). Dia dihadirkan karena kita nuntut biar dihadirkan juga, soalnya udah satu bulan ini (RH) dinonaktifkan dari pekerjaannya ini,” beber dia.

“Disaksikan langsung perwakilan wali murid dan disertakan surat bermaterai. Dan dia bilang mau bayar selambat-lambatnya Desember akhir, kalau pun ada rezeki dua atau tiga hari besok mau langsung dibayar,” sambungnya.

Adapun, ditambahkannya, dalam pertemuan itu juga sudah disepakati, apabila janji yang sudah dibuat tidak dapat ditepati, wali murid akan mengambil langkah hukum dengan melaporkan kasus ini ke pihak berwajib.

“Kita tanya juga, kalau ga tepat janji siap enggak sama konsekuensinya, salah satunya dipolisikan, terus dia bilang siap kalau waktunya sampe meleset,” kata dia.

“Dinas juga sudah tahu soal kejadian ini. Dia (RH) ngaku sudah ditegur dan bilang hasil pertemuan tadi akan dilaporkan ke dinas,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor, Hanafi mengaku sudah mengetahui persoalan ini. Menurutnya, yang bersangkutan sudah dipanggil jajarannya.

“Hari ini dipanggil Kepsek sama operatornya,” singkat Hanafi. (rez)

Leave a Reply

Your email address will not be published.